Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng, Seni Pertunjukan

Ronggeng adalah seni tradisional Jawa yang sudah cukup tua. Kata ronggeng berasal dari bahasa Sansekerta “renggana” yang artinya dewi perempuan. Pendapat lain mengatakan berasal dari bahasa Kawi “wara anggana” yang artinya perempuan sendiri. Awalnya ronggeng tak berkonotasi buruk, bahkan menjadi bagian dari kesejahteraan sebuah desa yang berhubungan dengan ritual kesuburan tanah dan keberhasilan panen. Dalam perkembangannya pertunjukan ronggeng mengalami pergeseran dari sakral menjadi profan, dimana sering terjadi pelecehan yang merendahkan para penarinya. Di sela-sela pertunjukan ronggeng, penonton yang “ketiban sampurakan” mendapat lemparan sampur atau selendang dari sang ronggeng diijinkan menari bersamanya. Penonton yang “ngibing” menari bersama ronggeng kemudian melakukan suwelan atau gembrèngan, disinilah terjadinya pelecehan dimana pemberian uang kepada penari seringkali diselipkan di bagian dada penari, bahkan terkadang berlanjut setelah pertunjukan.

Ahmad Tohari, seorang seniman asal Banyumas, di tahun 2003 terinspirasi ronggeng dan mengangkat kisah kehidupan Srintil dalam novel trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk”. Meski sifatnya fiktif tetapi ada hal-hal yang memiliki kemiripan, seperti peristiwa politik 1965 dan kondisi di dalam tahanan masa itu. Kisah tentang Srintil bermula di tahun 1960-an di desa Dukuh Paruk, gadis bau kencur berusia 11 tahun bernama Srintil, yang belum pernah melihat pentas ronggeng, tiba-tiba menembang dan menari dengan begitu gemulai, erotis dan sensual. Penduduk desa mempercayai bahwa Srintil dirasuki roh indang ronggeng, wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan.  Srintil kemudian dinobatkan menjadi ronggeng baru, pengganti ronggeng terakhir yang meninggal dua belas tahun sebelumnya. Bagi Dukuh Paruk yang kecil, terpencil, dengan kemiskinan dan kebersahajaan penduduknya, ronggeng merupakan perlambang, yang tanpanya dukuh itu seolah tak memiliki jati diri. Srintil sendiri merasa yakin dengan keputusannya menjadi ronggeng yang menurutnya lebih terhormat daripada perempuan somahan (ibu rumah tangga).

Calon ronggeng tidak saja dituntut pandai menari dan menyanyi, tapi juga wajib menjalani berbagai ritual, antara lain berpuasa dan mengunjungi beberapa pemakaman leluhur. Begitu juga dengan yang dijalani Srintil, bahkan ia harus menjalani ritual bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya pada lelaki yang berani membayar termahal. Pada masa itu konteks ronggeng adalah  penari dan penembang tradisional, yang tidak hanya menarik bayaran tinggi untuk pentasnya tetapi juga untuk jasa seksualnya.  Ronggeng adalah milik semua orang, dan ini jugalah yang kemudian menimbulkan keretakan hubungan Srintil dengan kawan laki-laki sepermainannya, Rasus, yang pergi meninggalkan Dukuh Paruk untuk menjadi tentara. Jasa Srintil sebagai ronggeng diperjualbelikan melalui perantara dukun, suami istri Kertareja.  Eksploitasi Nyai Kertareja atas Srintil bahkan sudah dimulai di awal karir Srintil dengan mematikan indung telurnya, karena menurut hukum Dukuh Paruk karir seorang ronggeng akan terhenti begitu ia hamil.

Peristiwa politik di tahun 1965 berimbas pada kehidupan Dukuh Paruk dimana ronggeng beserta para penabuh calung di tahan. Perdukuhan juga ikut dibakar. Paras cantik menolong Srintil sehingga tidak diperlakukan semena-mena oleh para sipir. Pengalaman pahit sebagai tahanan politik akhirnya membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Ia pun berniat memperbaiki citra dirinya, tak ingin lagi melayani lelaki manapun dan menjadi perempuan somahan.

Profesi ronggeng yang dianggap sebagai “sampah” oleh masyarakat kemudian diangkat melalui lakon monolog musikal yang diproduseri Dian Hadiprawono atau Dian HP, seorang komposer terkenal di bawah bendera ArtSwara Production. Pemilihan lakon yang diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk, didasarkan atas pertimbangan pandangan publik tentang ronggeng yang cenderung tidak adil. Masyarakat hanya melihat sisi negatifnya saja, sehingga dianggap perlu untuk mengembalikan harkat dan martabat seorang ronggeng. Lagi pula tidak semua ronggeng mempunyai makna dalam konteks seperti itu, seperti penari topeng yang juga disebut dengan ronggeng tetapi tidak “nakal”. Jika dalam prakteknya terjadi kasus-kasus yang bersifat patologis (penyakit sosial masyarakat) hal itu tak bisa dihindari, dan kembali pada sang seniman tari karena tidak semuanya seperti itu.

Trie Utami dipercaya untuk membawakan tokoh Srintil dalam pentas monolog musikal, yang diusung ArtSwara dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation. Keputusan penunjukan itu bukan karena sosok selebritas yang disandang Trie Utami, melainkan multi talent yang dimilikinya sebagai penyanyi, penari, aktris, dan pemain teater. Kemampuannya menari Sunda sejak SMP yang tak diketahui banyak orang sangat membantunya saat melakukan adegan tari sebagai seorang ronggeng. Dalam pentas monolog musikal tersebut, Trie Utami memerankan tujuh tokoh sekaligus, yaitu sebagai Srintil anak-anak, Srintil remaja, Srintil tua, Rasus teman kecil yang dicintai Srintil, bapaknya Srintil (Santayib), emaknya Srintil, dan kakeknya Srintil (Sakarya). Iswadi Pratama, salah satu sutradara terbaik Indonesia ditunjuk untuk mengarahkan aktingnya, sedangkan Sritok Srengenge yang membuat naskah pertunjukannya.

Tarian dalam lakon “Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng” ditata oleh Eko Supriyanto (Eko Pece), seorang koreografer handal yang pernah menjadi penata tari Madonna dalam 268 konsernya di berbagai negara. Tangan dinginnya dalam pembukaan Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno juga menimbulkan decak kagum. Penata musik pergelaran pentas monolog musikal ini adalah Ava Victoria, sedangkan lirik lagunya ditulis oleh Dian Hadiprawono yang juga merangkap sebagai produser. Penata kostum adalah Chandra Satria, sedangkan Maera bertindak sebagai eksekutif produser. Melalui suguhan monolog musikal Srintil sepanjang 90 menit dalam kemasan dan kacamata berbeda, tidak sebagaimana versi novel atau beberapa versi filmnya, ArtSwara Production berharap publik bisa lebih arif dalam melihat dan menilai ronggeng sebagai sebuah kesenian sehingga tidak punah tanpa jejak. Pentas monolog musikal ini berhasil menggebrak panggung Teater Salihara, Jakarta, pada tanggal 27 – 28 April 2019. Srintil pun kemudian melanjutkan tarian dan mengisahkan kegundahannya sebagai ronggeng di Taman Budaya Surakarta pada tanggal 3 – 4 Juli 2019.