Slipi, Kampung

Slipi merupakan sebuah tempat di wilayah jakarta Barat. Nama Slipi begitu terkenal karena lokasinya sangat strategis dan sering dilalui warga Ibukota yang ingin menuju arah Kebon Jeruk-Tanah Abang-Kebayoran-Petamburan atau yang dari Grogol menuju Cawang-Kuningan-Pasar Minggu dapat melewati tempat ini. Slipi juga dikenal karena di sana terdapat pusat perkantoran Jakarta Design Center (JDC) dan Apartemen Slipi.

Slipi terkenal sebagai salah satu pusat niaga di Batavia sejak jaman pendudukan kolonial Inggris. Saudagar dari Arab, Tionghoa, Batak dan Bugis selalu menyingahinya. Slipi dianggap tempat yang paling netral daripada Pelabuhan Sunda Kelapa karena harga produk yang ditawarkan lebih rendah dan di Pelabuhan sendiri sudah tidak aman banyak pemberontakan. Kemudian Gubernur Jendral Dandles (sampai 1811) menetapkan Slipi sebagai kawasan niaga, sebelum kemudian digantikan oleh Lentan Gubernur Thomas Stamford Raffles (Raffles-1811-1816), Batavia di bawah kendali Inggris. Untuk itu bermulalah kedihupan multi-etnis di wilayah itu, dan Raffles kemudian meletakakan dasar kebijakan ekonomi untuk Pulau Jawa, terutama Slipi.

Asal usul nama Slipi terdapat dua versi, yaitu pertama kata Slipi berasal dari bahasa Sunda salipi yang berarti kantung dari anyaman pandan atau rotan. Kerajinan anyamanyang berbahan baku pandan di distrik Kebayoran termasuk Slipi, pada tahun 1930-an banyak terdapat di daerah itu karena mata pencaharian warganya sebagai pengerajin (Tideman, 1993:19 dalam Ruchiat 2018). Versi kedua, pada tahun 1970-1980-an tempat ini disebut Bunderan Slipi karena bentuknya bundar melingkar sehingga pengendara motor atau mobil harus berpitar jika hendak berganti arah tujuan. Karena bentuknya melingkar, lalu lintas sering macet membuat banyak pengendara mudah mengantuk. Sehingga banyak yang menduga bahwa kata Slipi berasal dari sleepy yang artinya mengantuk atau tidur.