Sisingaan, Seni Tari

Tari Sisingaan adalah salah satu dari sembilan belas tarian tradisional yang  ditampilkan dalam acara pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno. Meski durasi penampilannya singkat tetapi cukup memukau. Ada sepuluh orang penari laki-laki yang mengusung lima tandu kecil dengan boneka singa di atasnya. Tari Sisingaan yang dibawakan bercampur dengan penari perempuan juga menyambut atlet balap sepeda Asian Games 2018, yang rute pertandingannya mengambil lokasi di daerah Jawa Barat. Sisingaan adalah kesenian tradisional asal daerah Subang, Jawa Barat, yang lebih banyak dikenal sebagai tarian penyambutan tamu kehormatan atau pejabat pemerintah, serta arak-arakan bakal pengantin sunat sehari sebelum pelaksanaannya. Tak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa sebenarnya Sisingaan adalah bentuk protes rakyat Subang terhadap penjajahan Belanda dan Inggris di daerah mereka.

Tahun 1812 Subang dikenal sebagai daerah Double Bestuur (penjajahan ganda), dan dijadikan kawasan perkebunan dengan nama P&T Lands (Pamanoekan en Tjiasemlanden) yang terbagi atas perkebunan teh di Subang Selatan, perkebunan tebu dan karet di Subang Tengah, serta perkebunan tebu di Subang Utara. Liberalisasi dan eksploitasi perkebunan oleh penjajah kemudian menimbulkan tekanan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Kebencian mereka kemudian melahirkan kesenian Sisingaan sebagai ungkapan ketidaksenangan dan  upaya pemberontakan masyarakat Subang masa itu. “Crown” atau mahkota kerajaan yang diperkenalkan sebagai simbol negara Belanda, dan “singa” sebagai lambang negara Inggris direpresentasikan dalam bentuk boneka singa yang diletakkan di atas sebuah tandu. Rakyat Subang melecehkan kedua simbol dengan cara menaikkan seorang anak kecil di atas punggung boneka sebagai simbol bahwa rakyat Subang tidak takut melawan para penjajah. Di sisi lain, penjajah berasumsi bahwa Sisingaan hanya sebuah karya seni untuk memberi semangat pada anak yang akan disunat atau dikhitan. Padahal Tari Sisingaan dijadikan alat oleh para seniman untuk mempengaruhi dan menumbuhkan kebencian di kalangan rakyat Subang agar bangkit semangatnya serta bersatu mengusir penjajah dari tanah Sunda.  

Pada awal kemunculannya, Sisingaan adalah seni “helaran” yang digelar dalam bentuk pesta arak-arakan, iringan pawai menyusuri jalan kampung secara bersama-sama, untuk menghibur anak laki-laki yang sudah cukup umur sebelum berjuang melawan rasa sakit saat pelaksanakan khitan keesokan harinya. Saat itu boneka Sisingaan dibuat dari bahan sederhana berupa dedaunan dan kayu. Seiring perkembangan kemudian dibuat dari kayu, anyaman bambu, busa, dan benang wol untuk rambut, sehingga bentuknya mirip hewan singa sesungguhnya. Unsur pertunjukan dalam Sisingaan terdiri atas tiga bagian yaitu: (1) Naekeun, gerakan untuk menaikan anak sunat ke atas Sisingaan; (2) Helaran, berjalan mengelilingi kampung atau sesuai rute yang ditentukan, mutlak dilakukan jika ditampilkan dalam acara khitanan; (3) Galuraan, yaitu gerakan-gerakan yang dimainkan oleh para pengusung boneka Sisingaan. Galuraan merupakan hasil kreativitas yang kemudian menjadi ciri dari masing-masing kelompok kesenian Sisingaan. Ketiga unsur kesenian ini tidak selalu ada dalam setiap pertunjukan tetapi menyesuaikan dengan   perhelatannya, karena yang ditampilkan dalam pernikahan atau festival dan acara hiburan lainnya akan berbeda dengan khitanan atau penyambutan tamu.

Di masa awal kemunculannya, stiap kali tampil selalu ada dua tandu Sisingaan sebagai perlambang dua negara penjajah yaitu Belanda dan Inggris. Pengusung  boneka Sisingaan terdiri dari delapan orang dewasa, beberapa pemain musik, dan satu atau dua orang “jajangkungan” (pemain yang menggunakan engrang sepanjang 3-4 meter ketika berjalan di tengah pertunjukan). Para pengusung Sisingaan menari dengan gerakan yang sederhana, tanpa pola lantai, dan sesekali bergerak kesana-kemari layaknya singa yang akan diadu. Dalam perkembangannya, sekitar tahun 1955, unsur Pencak Silat mulai dimasukan tetapi masih dengan gerakan yang bebas dan tidak terlalu rumit tanpa menghilangkan kesan heroik di dalamnya. Gerakan yang dilakukan adalah tendang, lompatan, mincid, dan dorong sapi. Tidak lama setelahnya unsur ketuk tilu mulai dipadu dengan gerakan yang sudah ada sebelumnya. Gerakan Pencak Silat dan Ketuk Tilu memang banyak mempengaruhi gerak tari di Jawa Barat, di antaranya gerak ancang-ancang, gerak depok, gerak ewag, gerak mincid, gerak tajong maju, dan gerak ayun. Saat ini banyak grup Sisingaan membuat rangkaian pertunjukan yang berbeda satu dengan lainnya, ada yang tidak melakukan helaran tetapi menambah durasi waktu atraksi gularaan, dan ada juga yang menambahkan penari perempuan selain para pengusung tandu Sisingaan. 

Busana yang dikenakan para pengusung tandu Sisingaan dan pemusik adalah baju khas Sunda yaitu baju kampret, celana pangsi, iket, dan ikat pinggang (saat ini dilengkapi kaos kaki dan sepatu). Anak sunat yang duduk di atas boneka singa mengenakan pakaian taqwa, sinjang lancar, iket, dan peci. Dalam perkembangannya, busana para penari dibuat seragam dengan dominasi warna-warna cerah yang seringkai mencirikan sebuah grup Sisingaan. Anak sunat bebas memilih pakaian yang diinginkan (baju taqwa, baju adat Sunda, baju tokoh kesayangan, atau baju sehari-hari). Musik pengiring awalnya hanya beberapa yaitu alat musik dogdog, genjring, dan angklung. Saat unsur ketuk tilu dimasukkan alat musiknya bertambah menjadi dogdog, genjring, kendang (gendang), gong, angklung, dan terompet. Sekitar tahun delapan puluhan ditambahkan kenong dan kecrek, serta juru kawih atau sinden sekitar tahun 2000-an. Saat ini ada juga grup Sisingaan yang menggunakan musik dangdut sebagai pengiringnya.