Sipatmo, Seni Tari

Tari Sipatmo merupakan cikal bakal Tari Cokek yang melegenda di wilayah Jabodetabek, khususnya Tangerang. Sipatmo sebenarnya adalah nama lagu yang diiringi oleh musik Gambang Kromong, dan sangat terkenal puluhan tahun lalu di Jakarta. Tahun 1930-an salah satu album piringan hitam produksi Firma Tio Tek Hong, Pasar Baru, berisi lagu Sipatmo yang direkam bersama lagu-lagu populer lainnya seperti Bang Lian, Gunung Payung, Gula Ganting, dan Tanjung Burung. Tari Sipatmo semula bersifat sakral karena merupakan tarian agung yang ditampilkan dalam upacara-upacara di Klenteng atau Vihara, pernikahan cara Tionghoa klasik (cio tao), dan perayaan hari ke-15 atau hari terakhir masa perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa (cap go meh). Pergeseran fungsi tari Sipatmo terjadi sekitar abad ke-19  setelah seorang tuan tanah keturunan Tionghoa mulai sering menanggap tarian ini untuk memeriahkan pestanya. Tarian ini kemudian berkembang menjadi tari hiburan yang dipertunjukan dalam perayaan pernikahan, dan ulang tahun (sejit) baba-baba besar atau orang berpangkat. Lalu bergeser kembali menjadi tontonan biasa, dan saat perayaan Imlek serta Cap Go Meh rombongan wayang Sipatmo sering melakukan pentas dari rumah ke rumah.

Ragam gerak Tari Sipatmo yang direkonstruksi dan direvitalisasi oleh Kartini Kisam memperlihatkan adanya empat gerak inti, yang mengandung arti sangat dalam, yaitu (1) Gerak soja di dada, mengisyaratkan agar menjaga hati selalu bersih; (2) Gerak soja berhadap-hadapan, adalah lambang atau pengingat untuk saling menghormati dan menyayangi; (3) Gerak mengayuh perahu, bermakna berani mengarungi samudera kehidupan; dan (4) Gerak stilisasi dari gerakan menunjuk sembilan lawang (sembilan bagian tubuh manusia), sebagai pengingat bahwa jika "pintu" masuknya noda tidak dijaga dengan baik maka dapat mengotori sanubari.

Struktur gerakan Tari Sipatmo yang kini telah dibakukan tidak jauh berbeda dengan gerakan aslinya. Tidak ada penambahan gerak, hanya pengolahan gerakan asli untuk dibuat pola tetapnya.

  1. Gerak Soja. Gerakan sembah dengan wajah menunduk, lutut rapat ditekuk ke depan, posisi tangan mengepal dengan ibu jari berdiri merapat di depan dada.
  2. Gerak Nindak Lenggang (sebagai transisi). Gerakan langkah berjalan dengan  kaki serta tangan bergerak bergantian dengan telapak tangan membuka.
  3. Gerak Kengser Kanan Kiri. Gerakan bergeser ke kanan dan ke kiri dengan menggunakan telapak kaki yang digeser, posisi tangan mengepal dengan ibu jari berdiri merapat di depan dada.
  4. Gerak Ngawen. Gerakan ke arah kanan dan kiri dengan posisi kaki menyilang dan tangan membuka di atas. Gerakan bergantian arah dengan gerak soja sebagai transisi.
  5. Gerak Ngaben. Sama dengan gerakan ngawen namun pada geraka ini posisi tangan sejajar ke atas.
  6. Gerak Tipis. Gerakan ke arah kanan kiri menyilang bergantian dan tangan berada di pinggang, tangan lain seperti menyubit sejajar dengan mata.
  7. Gerak Japin. Gerakan naik turun dengan lutut lurus rapat sejajar kemudian ditekuk seiring dengan gerak tangan seperti membelai pipi bergantian kanan dan kiri.
  8. Gerak Nindak Seliwa.  Sama dengan gerak tipis namun posisi tangan seperti menyubit di depan mata, tangan lainnya membuka di samping badan.
  9. Gerak Nindak Siliwang. Gerakan geser kanan kiri yang ditutup dengan kedua tangan seperti menyubit sejajar bibir serta posisi badan merendah.
  10. Gerak Nindak Lenggang Gelatik Ngunguk. Sama dengan gerak nindak lenggang, ditutup dengan melompat ke kanan dan ke kiri dalam posisi jongkok, kedua tangan membuka lurus ke depan.
  11. Gerak Lenggang Tumpang Depan. Gerakan melangkah menyilang dan menggenjot dengan posisi tangan menyilang di depan, kemudian membuka dan menyubit di samping badan secara bergantian.
  12. Gerak Lenggang Tumpang Depan Belakang. Sama dengan gerakan lenggang tumpang depan namun gerakan ditambah dengan menyubit di belakang badan.
  13. Gerak  Soja. Melakukan gerakan sama seperti di  awal tetapi berfungsi sebagai gerakan penutup.

Busana yang dikenakan para penari Sipatmo mirip dengan pakaian penari Cokek di masa lalu. Terdiri dari baju kurung sebatas lutut dan bawahan celana panjang, yang semuanya polos serta berwarna cerah. Di bagian ujung lengan baju dan celana panjang diberi hiasan dari kain yang warnanya serasi. Selendang panjang diikat di pinggang sebelah kiri dengan kedua ujung terurai. Rambut disanggul ke atas, dan diberi hiasan jalinan benang wol berwarna merah yang dikepang atau dirajut, diikatkan pada sanggul dengan salah satu bagian tali menjurai hingga ke bahu kanan. Hiasan sanggul ini disebut dengan istilah “burung hong”. Bagian depan sanggul dihias dengan mahkota kecil yang diberi rumbai-rumbai. Telinga mengenakan anting.