Si Tuan Jingga, Seni Tari

Tari Si Tuan Jingga yang dibawakan oleh para penari dari Sanggar Swargaloka berhasil meraih penghargaan sebagai Juara III dalam Lomba Karya Cipta Tari Betawi 2016, yang diselenggarakan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM). Tari kreasi Betawi tradisional ini diciptakan oleh seorang anak muda yang mencintai dunia seni sejak masih kecil, Bathara Saverigadi Dewandoro. Kolaborasi dilakukannya bersama dengan Tirta Prawita sebagai penata musik, Yani Wulandari selaku penata rias dan busana, Irwan Riyadi sebagai penata artistik dan penulis naskah tari, serta tim Margasari Kacrit Putra selaku pemusik.

Sosok “Si Tuan Jingga” dalam tarian ini diciptakan oleh sang koreografer sebagai representasi manusia pemegang kekuasaan, yang tidak dapat mengendalikan kekuatannya, berperilaku sebagai penguasa di atas penguasa. Karakter Si Tuan Jingga merupakan gambaran orang yang berada di atas kekuasaan, dan memiliki kekuatan untuk menimbulkan kekerasan. Tari Si Tuan Jingga mengeksplorasi salah satu karakter topeng dalam tari Kedok Tunggal atau Topeng Tunggal. Karakter Jingga menggambarkan sebuah keperkasaan, yang seringkali ditafsirkan identik dengan kekuasaan, kekuatan, dan kekerasan. Ketiganya berkaitan satu sama lain, dimana kekuasaan adalah kekuatan, yang jika tidak dapat dikendalikan akan menimbulkan kekerasan. Salah satu pesan yang ingin disampaikan dari tarian ini adalah bahwa setiap perbuatan akan mendapat balasannya dari Yang Maha Kuasa, termasuk manusia dengan karakter seperti Si Tuan Jingga.

Topeng jingga (merah) dalam tari Kedok Tunggal atau Topeng Tunggal merupakan gambaran manusia yang gagah tetapi serakah, penuh angkara murka, dan tidak dapat mengendalikan diri. Karakteristik tersebut ditegaskan pada guratan-guratan topeng di bagian rambut, alis, mata, lekukan di atas hidung, hidung, bibir dan gigi, serta pada jenggot (brewok). Mata digambarkan dalam pandangan yang melotot, berhidung besar, lekukan di atas hidung seolah seperti sedang mengernyitkan dahi, sementara alis, kumis tebal dan brewoknya semakin menonjolkan sisi kegarangan pada topeng jingga. Bathara Saverigadi Dewandoro melakukan eksperimen untuk menemukan dan mengembangkan “gerak gagah Betawi”, yang tidak banyak mengambil unsur silat tetapi lebih kepada bentuk gerak topeng yang diperuntukkan bagi perempuan, gerak patah dan kaku namun berkesan tegas.

Tari Si Tuan Jingga dibawakan oleh sembilan orang penari, terdiri dari laki-laki dan perempuan yang mengenakan kostum yang sama. Bajunya model pangsi dari bahan yang lemas tetapi tidak berkancing sama sekali, dengan pakaian di dalamya berwarna senada. Bagian bawah mengenakan celana selutut, ditutup kain batik Betawi yang dibuat terbuka di salah satu sisi dan diikat di pinggang sebelah kanan. Model kain dibuat terbuka di samping agar kaki tetap dapat bergerak bebas, sementara tubuh bagian depan dan belakang tertutup oleh kain.  Aksesori lainnya berupa ikat pinggang, sapu tangan besar yang diselipkan di pinggang bagian depan agar mudah ditarik karena juga berfungsi sebagai properti tari. Pemilhan busana didasarkan pada pertimbangan bahwa inti karya tari Si Tuan Jingga ini adalah tentang penari Topeng Tunggal yang mencoba mendalami karakter kedok jingga. Sementara itu sifat dan karakter topeng jingga lebih dominan pada laki-laki, sehingga penata busana mencoba merepresentasikan raga dari penari Topeng Tunggal digabung dengan raga dari busana yang biasa dipakai laki-laki. Busananya pun terkesah gagah namun tetap mempertahankan kefeminiman riasan dan hiasan penari Topeng Tunggal yang biasa dibawakan oleh perempuan.