Shiu Pat Mo, Seni Tari

Tari Shiu Pat Mo merupakan tari kreasi tradisional Betawi yang dikembangkan dari tari Cokek, sebuah tarian yang berkembang di daerah pinggiran Jakarta, tempat bermukimnya masyarakat Betawi Pinggir atau Betawi Ora. Tahun 2004 tari Cokek direkonstruksi menjadi tari Shiu Pat Mo, oleh Sukirman atau yang lebih dikenal sebagai Entong Kisam. Nama Shiu Pat Mo terdiri dari dua suku kata, yaitu “shiu” yang artinya wanita (bahasa Tionghoa), dan “patmo” yang merupakan salah satu lagu klasik gambang kromong pengiring tari Cokek berjudul “Sipatmo”. Tari Shiu Pat Mo mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis keturunan Tionghoa yang mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia ingin menemukan jati diri dan kebahagian hidupnya, tetapi tetap dengan menjaga kehormatan diri serta martabat keluarga.

Tari Shiu Pat Mo bersifat menghibur dan berfungsi sebagai tontonan semata namun tetap mengandung filosofi. Tarian ini tergolong tari kelompok, dibawakan oleh delapan penari perempuan dan delapan pemain gambang kromong yang posisinya berada di belakang penari. Formasi delapan pemain musik menyesuaikan dengan kebutuhan musik pengiringnya, sedangkan delapan penari dimaksudkan agar koreografinya terlihat lebih indah dan menarik. Angka delapan juga dipercaya sebagai angka keberuntungan oleh etnis Tionghoa. Bagi mereka angka delapan yang tidak terputus dianggap membawa hoki dengan harapan rezeki dan kesuksesan akan terus mengalir tak berkesudahan. Selain keenam belas orang pendukung tari, masih ada dua sinden Betawi keturunan Tionghoa yang membawakan lagu Sipatmo. Irama lagu dan musik pengiring dibuat bernuansa Tionghoa, termasuk syair yang berbahasa Betawi. Pantun-pantun dalam lagu pengiring dibuat sendiri oleh Entong Kisam.

Gerakan tari Shiu Pat Mo murni diekplorasi sendiri oleh Entong Kisam, bahkan tidak mengambil gerak tari Cokek yang menjadi rujukannya. Ada tiga adegan yang merepresentasikan kisah dalam Tari Shiu Pat Mo ini, yaitu (1) adegan awal yang menggambarkan kegalauan seorang perempuan Betawi keturunan Tionghoa; (2) adegan tengah, secara tersirat mengingatkan untuk menjaga perilaku, melalui adegan yang memperlihatkan kekhilafan yang mungkin dilakukan; dan (3) adegan akhir, menggambarkan kesadaran untuk kembali mengingat Tuhan dan menjaga perilaku agar mendapat keselamatan. Gerak adegan awal penokohan terdiri atas gerak improvisasi kegalauan yang dimulai dari gerak gibang akhir mengalir, geser kaki, kepang tangan, dan diakhiri pegat jinjit kaki. Selanjutnya gerak adegan rampak terdiri atas enam belas gerakan, antara lain: (1) gerak simpuh improvisasi tangan;(2) gerak sempok; (3) gerak improvisasi jalan; (4) gerak improvisasi kaki padu irama; (5) gerak buka gonjingan improvisasi satu; (6) gerak buka gonjingan improvisasi dua; (7) gerak gleong nyanyi; (8) gerak goyang satu mengalir jalan; (9) gerak improvisasi selancar padu; (10) gerak langkah jingjit mundur; (11) gerak improvisasi tangan sambil jongkok; (12) gerak ayun geser kaki tangan; (13) gerak improvisasi paduan kaki tangan;(14) gerak akhir jalan kewer variasi; (15) gerak selancar kepang kaki; dan (16) gerak stag mengalir.

Busana yang dikenakan terdiri dari baju kurung atau kebaya Betawi dengan kerah shanghay, celana panjang hingga batas mata kaki, penutup tubuh bagian depan (ampreng) dan belakang (andong/amprog) yang biasanya bermotif tumpal (segi tiga), kain rumbai untuk memperindah ampreng, dan ikat pinggang (sabuk). Busana dan aksesorisnya berwarna cerah. Rambut dikonde cepol. Hiasan kepala gaya Tionghoa dibuat dari kreasi kembang goyang, bunga teratai, dan sumpit. Telinga mengenakan anting kreasi. Riasan wajah penari dibuat untuk memunculkan kesan ‘cantik’ (korektif), sesuai gambaran seorang gadis Betawi keturunan Tionghoa yang berupaya menjaga kehormatan diri dan keluarganya.