SAMRAH BETAWI

Istilah samrah diperkirakan berasal dari bahasa Arab “Samarokh” yang berarti “kumpul”. Penamaan ini sesuai dengan kenyataan pada waktu yang lampau samrah ditampilkan pada saat-saat orang berkumpul setelah acara “Maulid” dan “malam Angkat” dalam rangkaian upacara pernikahan menurut tradisi Betawi, tanpa disediakan panggung cukup disediakan tempat tertentu saja. Pertunjukan music dan tari Samrah lazim dilanjutkan dengan membawa cerita. Kalau pertunjukan musik dan tarinya diselenggarakan tanpa panggung, teaternya pun dengan sendirinya tanpa panggung, yakni dengan pentas berbentuk arena, sesuai dengan keadaan tempat. Komando sebagai tanda dimulainya pertunjukan, biasanya diucapkan oleh tuan rumah yang mempunyai hajat: “Ayo dong meja-kursi digeserin, piring mangkok dibenahin, Nyok deh kite nyerbu” maka diatas tikar yang terbentang, disitulah pertunjukan dilakukan.

 

Tari Samrah merupakan salah satu tarian tradisional betawi yang mendapat pengaruh kuat kebudayaan Melayu. Gerak tarinya menunjukan persamaan dengan umumnya tarian Melayu, yang mengutamakan langkah-langkah kaki dan lenggang berirama. Tari Samrah digunakan sebagai tari pergaulan dan biasanya dilakukan berpasang-pasangan atau perorangan. Mereka berjoget dengan diiringi nyanyian seorang biduan. Nyanyiannya berupa pantun dengan tema lagunya tentang cinta, keagamaan dan cinta wanita. Lagu-lagu pokoknya adalah lagu Melayu seperti:Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning Masmura. Disamping itu, terkadang membawakan lagu khas Betawi, antara lain: Kicir-Kicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung. Berdasarkan iramanya, Tari Samrah dapat dibagi menjadi dua macam yaitu yang berirama lembut dan berirama cepat.

 

Pada umumnya Samrah tampil dalam pesta perkawinan, bukan pada upacara lainnya. Mereka main karena diundang, tanpa dibayar, pemain dan hadirin hanya bertujuan menari hiburan belaka. Tidak mengherankan bilamana kostum para pemain Samrah yang asli berupa jas, kain plakat dan peci, suatu seragam yang biasa dipakai oleh kaum pria Betawi menghadiri upacara pernikahan. Teater Samrah pada umumnya tidak menggunakan dekor, kadang-kadang ada yang melengkapinya dengan sebuah meja dan dua buah kursi. Cerita yang biasa dibawakan teater Samrah adalah dengan bahasa Melayu tinggi dengan banyak menggunakan kata-kata Melayu Riau sepeti eneik, abang, tuan, gerangan, hamba dan lain-lain, walaupun diucapkan dalam lafal melayu Betawi. Tonil Samrah ini sesudah perang dunia kedua popularitasnya dikalangan remaja makin berkurang. Peremajaannya mandeg. Hal ini mungkin karena lagu-lagunya yang berbau “kuno” dengan iramanya yang lamban, atau karena musiknya sulit dimainkan, rata-rata bernada minor; atau karena tariannya yang berdasarkan gerakan silat seni bela diri yang masih belum meluas atau juga karena pantunnya yang jarang orang menghafalkannya.

 

Tonil Samrah banyak dimainkan oleh kaum pria saja, baik penarinya maupun peran wanitanya. Mungkin hal ini adalah karena masyarakat Betawi termasuk kelompok yang ketat menganut agama Islam, sehingga tabu bagi wanita untuk menjadi anak panggung. Pergelaran tonil Samrah pada masa lalu terdiri dari beberapa bagian: ada pembukaan berupa tarian, ada nyanyian, ada lawakan dan lakon. Dalam membawakan cerita, ciri khas Samrah terlihat dari penyampaian maksud yang berbentuk pantun yang dinyanyikan. Sama seperti “pakem” opera, karena pada dasarnya tonil Samrah juga berasal dari teater rakyat Melayu Riau yakni Teater Dermuluk, tetapi dalam perkembangannya berubah bentuknya setelah muncul di Betawi menjadi Melayu Betawi. Karena berbau opera itulah, para pemain Samrah harus paham dan pandai berpantun dan bernyanyi.

 

Domain                       : Seni Pertunjukan

Lokasi Persebaran   : Jakarta Barat

Maestro                      : Harun Rasyid

Kondisi                       : Sudah berkurang