Rumah Soeharto Jl. Cendana, Bangunan Khas

Rumah Presiden RI ke-2, Soeharto terletak di Jl. Cendana No. 8 Menteng, Jakarta Pusat. Rumah milik pribadi tersebut dihuni oleh Soeharto sejak pertengahan tahun 1960-an hingga akhir hayatnya tahun 1998. Rumah ini sangat terkenal pada masa Orde Baru karena selain dari Istana Merdeka, Soeharto juga sering menjalankan sejumlah aktivitas dan kegiatan pemerintahannya dari rumah ini. Bangunan rumah ini nyaris tidak pernah berubah dan terus dipertahankan hingga saat ini. Rumah Soeharto bergaya model lama dan hampir seluruh bagian luarnya dilapisi dengan cat warna hijau. Pada bagian dalam rumah Soeharto terdapat akses sambungan dengan beberapa rumah di sekitarnya yang dihuni oleh anak-anak Soeharto. Pasca wafaatnya Soeharto pada tahun 2008, rumah ini hanya dijaga oleh petugas keamanan, sementara keluarga Soeharto tidak ada yang menempatinya karena masing-masing sudah memiliki rumah. Meski demikian rumah ini tetap dijadikan tempat berkumpul untuk acara-acara yang melibatkan keluarga Soeharto. 

Pada masa Soeharto masih menjadi Presiden, jalan depan rumah (Jl. Cendana) bisa dilalui oleh masyarakat umum namun pada malam hari aksesnya ditutup dan dijaga oleh tentara demi alasan keamanan. Beberapa rumah di sekitar rumah Soeharto juga sempat dijadikan sebagai tempat staf maupun mess Paspampres yang menjaga dan mengamankan kediaman tersebut. Meskipun rumah Soeharto di Jl. Cendana merupakan kediaman pribadi, namun Soeharto sering menerima tamu-tamu penting, baik tokoh nasional maupun pemimpin dan pejabat negara asing di rumahnya yang sangat asri ini. Rumah ini juga menjadi saksi bisu ketegangan politik dan keamanan pasca kerusuhan Mei 1998 saat dimana tekanan dan situasi politik nasional memanas dan mencekam. Pidato pernyataan berhenti Soeharto dari jabatan Presiden RI juga dirancang oleh Yusril Ihza Mahendra dan staf Presiden lainnya di rumah ini.

Pada masa-masa awal reformasi tahun 1998, rumah ini mendapat penjagaan ketat karena pada saat itu banyak sekali aksi demonstrasi mahasiswa yang dilakukan tidak jauh dari Jl. Cendana (di sekitar bundaran air mancur Teuku Umar) dan tidak jarang berakhir ricuh karena bentrok dengan aparat keamanan yang menjaga agar aksi demonstrasi tersebut tidak mendekati Jl. Cendana. Baru pada sekitar awal tahun 2000-an gelombang aksi demonstrasi mahasiswa mulai mereda dan situasi di sekitar Jl. Cendana semakin membaik dan kondusif hingga saat ini.

Pada bulan Desember 2017 sempat muncul wacana bahwa pihak keluarga Soeharto berencana menjadikan rumah ini sebagai museum Soeharto dengan tujuan agar masyarakat, khususnya generasi muda bisa lebih mengenal sosok dan nilai-nilai perjuangan Soeharto. Namun sayangnya hingga saat ini rencana tersebut masih belum terealisasi.