Rumah Siswondo Parman

Rumah kediaman salah satu Pahlawan Revolusi, Letnan Jenderal (Anumerta) Siswondo Parman ini terletak di Jl. Serang No. 32 Menteng, Jakarta Pusat. Berdasarkan catatan dalam buku “Bangunan Cagar Budaya di Propinsi DKI Jakarta” terbitan Dinas Museum dan Pemugaran Propinsi DKI Jakarta tahun 2000, rumah S. Parman dibangun sekitar tahun 1930-an dengan model arsitektur gaya Indische dan dulunya merupakan rumah tinggal pejabat perusahaan swasta Belanda dan Eropa. Pada tahun 1950-an rumah ini dikelola oleh Dinas Perumahan Tentara dan kemudian baru ditempati oleh S. Parman selaku salah satu perwira tinggi TNI AD.

Rumah ini menjadi saksi bisu dari penculikan Mayor Jenderal Siswondo Parman yang kala itu menjabat sebagai Asisten I Menteri / Panglima AD bidang Intelijen pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 saat berlangsungnya pemberontakan G30S/PKI. Dalam peristiwa tersebut, sekelompok pasukan Tjakrabirawa berhasil masuk ke dalam rumah dan membawa paksa S.Parman ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur dan membunuhnya secara keji di sana.

S. Parman merupakan satu-satunya Jenderal target penculikan G30S/PKI yang berhasil dibawa dalam keadaan hidup ke Lubang Buaya dengan mengenakan seragam dinas tentara. Target penculikan lainnya yang berhasil dibawa dalam keadaan hidup ke Lubang Buaya tidak ada yang sempat berganti baju maupun mengenakan seragam dinas tentara Adapun target lainnya, D.I. Pandjaitan sebenarnya sudah sempat mengenakan seragam dinas tentara namun akhirnya tewas ditembak pasukan penculik di depan rumahnya sendiri.

Pada tahun 1980-an, sutradara kawakan Arifin C. Noer sempat menggunakan rumah tersebut sebagai salah satu lokasi shooting film “Pengkhianatan G30S/PKI” untuk adegan penculikan tokoh Siswondo Parman. Sayangnya bangunan bersejarah tersebut kini sudah dibongkar dan tidak berbentuk seperti aslinya lagi setelah beberapa kali mengalami pergantian pemilik.