Ronggeng Blantek, Seni Tari

Tari Ronggeng Blantek tergolong kreasi baru yang merupakan pengembangan dari  tari pembuka dalam pertunjukan seni tradisional Topeng Blantek, yaitu teater rakyat yang dipentaskan untuk menghibur para tuan tanah di masa kolonial. Pertunjukan Topeng Blantek selalu dibuka dengan sebuah tarian yang dikenal dengan nama Blantek atau Ronggeng Blantek. Dalam perkembangannya tarian ini menjadi tarian lepas, terpisah dari kesatuan pertunjukan Topeng Blantek, dan ternyata diminati oleh masyarakat sebagai sebuah tari pertunjukan. Penamaan Blantek awalnya berasal dari peralatan musik pengiring pertunjukan Topeng Blantek yang seadanya yaitu rebana biang – terdengar blang, blang, blang - dan kecrek - berbunyi tek-tek -.

Tari Ronggeng Blantek diciptakan oleh Wiwiek Widiyastuti, Wara Selly, dan Joko Sukosadono, atas permintaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta di tahun 1978. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh 4 sampai 6 orang perempuan dengan mengenakan pakaian yang berwarna serba cerah. Gerakan tari Ronggeng Blantek awalnya perlahan tetapi kemudian berubah menjadi sangat cepat dan energik namun tetap luwes. Tari Ronggeng Blantek terbagi dalam tiga bagian, yaitu (1) manis, dimana seorang penari bergerak dengan lemah gemulai dalam ritme tarian yang santai, (2) cepat, dimana gerakan penari tiba-tiba berubah  menjadi lebih enerjik, dan (3) klimaks, yaitu munculnya unsur-unsur gerakan silat dalam tarian yang dibawakan dengan luwes oleh para penari. Tarian ini terdiri dari 31 gerakan dengan urutan sebagai berikut: lenggang rongeh, ogek, selancar ngepik atas, selancar ronggeng, pakblang, selancar pakblang, ngepak blonter, tepak ngaronjeng, kepak dua tangan mundur, koma gelong, goyang cendol ijo, koma gelong, kewer kanan, koma gleong, klewer dua tangan, koma gleong, kewer satu variasi, jingke tepak blonter, gibang ronggeng, gonjingan satu, gonjingan dua, gonjingan blonter, tepak soder, gibang silat, dorong bambu, silat tangkis sejajar, silat tangkis rempak, gibang ronggeng, dorong bambu, gitek pose, dan jingke angklek. Tari Ronggeng Blantek kerap dipentaskan di berbagai acara kebudayaan Betawi, dan digunakan untuk menyambut tamu yang dianggap agung.

Musik pengiring tari Ronggeng Blantek adalah gamelan topeng yang terdiri dari rebab, seperangkat gendang (gendang besar dan kulanter), ancak kenong tiga pencon, kecrek, kempul yang digantung pada sebuah gawangan, dan sebuah gong tahang atau gong angkong. Busana yang dikenakan berupa kebaya ronggeng blantek berwarna merah muda (pink), kain tumpal putih dengan motif burung hong, toka-toka silang ronggeng berwarna merah, ampok, serbet, dan selendang ronggeng bermotif burung hong. Perlengkapan lainnya berupa mahkota kembang topeng, kalung bunga teratai bersusun tiga, pending, dan anting.

Tari Ronggeng Blantek yang seluruh penarinya adalah perempuan, sempat diragukan oleh sebagian kelompok yang kurang menghendaki kegiatan menari dilakukan oleh perempuan. Masyarakat Betawi yang kesehariannya lekat dengan agama mempunyai rambu-rambu ketat terkait penari perempuan. Oleh sebab itu saat menciptakan tarian ini Wiwik Widiyastuti memperhatikan detail gerak, busana, dan komposisi musik agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam yang menjadi marwah budaya Betawi. Sejak mendapatkan respon positif dari masyarakat, pihak Pemda DKI Jakarta bekerjasama dengan Wiwik Widiyastuti selaku penata tari, membawa tari Ronggeng Blantek ke berbagai festival baik tingkat daerah, nasional, maupun mancanegara. Tahun 1987 tari Ronggeng Blantek mendapat penghargaan Tempio de Oro dan menjadi juara dalam International Folklore di Sicilia, Italia, yang diikuti oleh 35 negara.