RIZAL RAMLI, TOKOH

Nama Rizal Ramli banyak menjadi perbincangan masyarakat baik itu ketika ia menjadi Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman dengan berbagai gebrakan dan kontoversinya maupun setelah tidak lagi menjadi menteri di kabinet Jokowi. Rizal Ramli dikenal sebagai salah satu ahli ekonomi Indonesia saat ini. Oleh sebagian kalangan, Rizal Ramli dijuluki sebagai "Sang Penerobos" karena ide-idenya yang tidak konvensional namun tepat sasaran, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Ia juga pernah didaulat sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) tandingan pada September 2013, setelah terjadinya perpecahan dalam tubuh organisasi itu. Pada Oktober 2015, posisi Rizal sebagai ketua umum Kadin Indonesia digantikan oleh Eddy Ganefo.

Setelah sekian lama tidak masuk dalam lingkaran utama kekuasaan, pada Agustus 2015, Rizal Ramli diminta oleh Presiden Joko Widodo untuk bertugas mengurus bidang kemaritiman dan sumber daya. Walau sudah berada dalam pemerintahan, sikap kritis Rizal tidak berubah. Ia sering melontarkan kritik pedas (yang diistilahkan kepret) terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak berpihak pada kepentingan bangsa dan negara, sehingga ia mendapat julukan baru "Rajawali Ngepret". 

Rizal Ramli dilahirkan pada tanggal 10 Desember 1954 di Padang, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Ramli yang bekerja sebagai wedana atau asisten camat dan ibunya bernama Rabiah yang bekerja sebagai seorang guru. Usia tiga tahun ia sudah dapat membaca. Rizal Ramli yatim piatu ketika usianya enam tahun.

Setelah ditinggal kedua orang tuanya, ia kemudian tinggal dan ikut bersama dengan neneknya di Bogor. Ia tinggal disana bersama dengan saudara dan juga sepupunya dan membantu neneknya untuk beternak ayam, baik itu ayam petelur ataupun ayam broiler dan ayam potong.

Rizal Ramli memulai pendidikannya dengan bersekolah di SD Hutabarat Bogor. Rizal Ramli sejak kecil hobi membaca dan banyak membaca buku-buku ketika ia tinggal di bogor. Setelah tamat SD, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP 1 Bogor dan kemudian masuk di SMA 2 Bogor. Saat di SMA, ia sempat bersurat ke luar negeri untuk meminta tambahan buku bacaan sebab ia sudah banyak membaca buku yang ada di perpusatakaan bogor.

Selepas tamat SMA, Rizal Ramli kemudian ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Ia kemudian mendaftar di ITB (Institut Teknologi Bandung) dan kemudian di terima di jurusan Fisika. Hampir putus asa karena tidak dapat membiayai kuliahnya akhirnya Rizal Ramli kemudian pergi ke Kebayoran untuk bekerja di percetakan. Selama enam bulan ia bekerja disana, mengirit pengeluaran untuk mengumpulkan biaya kuliah dan tidak sempat mengikuti kuliah selama enam bulan.

Ketika uangnya sudah terkumpul, Rizal Ramli kemudian kembali ke Bandung dan kemudian melunasi uang muka dan biaya kuliahnya di ITB, dan sisa tabungannya ia pakai untuk biaya keperluan sehari-harinya. Enam bulan kemudian, uang simpanannya habis. Rizal Ramli kemudian memutar otak untuk mencari biaya untuk makan dan kuliahnya.

Karena pergaulannya yang sangat luas, Rizal Ramli banyak ditolong oleh teman-temannya, namun ia kemudian akhirnya minder jika selalu minta pertolongan. Akhirnya berbekal kemampuan bahasa inggrisnya yang bagus, ia kemudian mencoba menjadi penerjemah artikel ilmiah untuk dosen dan mahasiswa. Ia dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan kuliahnya dengan menjadi penerjemah di bantu oleh teman-temannya.

Selain menjadi penerjemah, Rizal Ramli juga menjadi pengajar untuk anak-anak ekspatriat yang ada di Bandung sehingga uang kuliahnya dapat selalu tercukupi. Selama kuliah di ITB, Rizal Ramli juga aktif dalam organisasi. Ia terpilih menjadi Presiden SEF ITB, dan juga menjadi Wakil Ketua Dewan Mahasiswa ITB dari tahun 1976 hingga 1977.

Memasuki tahun 1978, Rizal Ramli sebagai mahasiswa aktif mengkritisi pemerintahan Soeharto. Bersama dengan teman-temannya, ia menjadi tim penulis Buku Putih Perjuangan Mahasiswa ITB yang isinya banyak mengkritik kebijakan otoriter pemerintahan Soeharto dan juga Praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang terjadi di dalam keluarga Soeharto.

Diterbitkannya buku tersebut, membuat Soeharto ketika itu sangat marah. Meskipun buku tersebut dilarang beredar, namun ternyata Buku Putih Perjuangan Mahasiswa ITB yang disusun oleh Rizal Ramli dan kawan-kawannya bahkan terlah beredar di kampus-kampus lain bahkan sempat dimuat di koran dan majalah yang pada akhirnya koran dan majalah tersebut di beredel oleh pemerintahan Soeharto.

Buku tersebut juga diterjemahkan kedalam delapan bahasa asing oleh Prof. Ben Anderson dari Amerika Serikat. Hal ini membuat Rizal Ramli ditangkap dan kemudian dimasukkan di penjara Sukamiskin, tempat Soekarno dulu ditahan. Rizal Ramli ditangkap bersama dengan teman-teman mahasiswanya yang lain.

Selama di penjara Sukamiskin, ia lebih banyak membaca buku-buku yang dikirimkan oleh teman-teman kampusnya terutama buku-buku Ekonomi yang menjadikan ia lebih menyukai ekonomi. Ia juga sering bermain catur bersama dengan tahanan lain. Ditangkapnya Rizal Ramli membuat neneknya menjadi bersedih. Rizal Ramli kemudian dibebaskan selama setahun dipenjara.

Keluar dari penjara, Rizal Ramli tidak menyelesaikan kuliahnya di ITB. Ia kemudian mencoba untuk mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Dengan berbekal rekomendasi dari Rektor ITB dan juga dari Adnan Buyung Nasution ketika itu, ia kemudian mencoba mendaftar beasiswa di Ford Foundation.

Setelah mendapatkan beasiswa, Rizal Ramli kemudian mencoba mendaftar di Boston University dan diterima di jurusan Ekonomi namun menjadi mahasiswa percobaan selama enam bulan disana di tahun 1980. Tanpa mengikuti organisasi, ia mencoba fokus di kuliah. Nilai-nilai kuliahnya sangat bagus mengalahkan teman-teman kampusnya yang lain sehingga ia kemudian di terima secara penuh sebagai mahasiswa di Boston University. Rizal Ramli menyelesaikan kuliahnya selama satu setengah tahun saja dari yang biasanya yakni dua tahun.

Setelah menyelesaikan kuliah di jurusan Ekonomi di Boston Univesity, Amerika Serikat, Rizal Ramli kemudian kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai seorang redaktur di Prima. Di tahun 1982, ia kemudian menikah dengan Herawati, pacarnya yang kuliah di jurusan Arsitektur ITB yang memberinya tiga orang anak.

Setelah menikah, Rizal Ramli kemudian melanjutkan kuliahnya lagi di Amerika Serikat setelah mendapat beasiswa dari kampusnya yang dulu di Boston University. Ia kemudian memboyong anak dan istrinya ke Amerika. Untuk mencukupi biaya hidup selama di Amerika, Rizal Ramli kemudian bekerja sebagai peneliti atau researcher di Boston. Istrinya bekerja sebagai Arsitektur di Boston dan juga sempat melanjutkan kuliahnya di Harvard School of Planning.

Rizal Ramli kemudian menyelesaikan kuliahnya di Amerika hingga memperoleh gelar Doktor atau P.hD dari Boston University di tahun 1990. Ia kemudian kembali ke Indonesia dan mendirikan sebuah organisasi Ekonom bernama ECONIT Advisory Group bersama dengan Laksamana Sukardi, Arif Arryman, dan M.S. Zulkarnaen. Organisasi ini aktif mengkritisi kebijakan pemerintahan orde baru. Rizal Ramli juga mendirikan Komite Bangkit Indonesia (KBI) dan menjabat sebagai ketuanya.

Memasuki era Reformasi, ketika Presiden Abdurrahman Wahid berkuasa, Rizal Ramli kemudian di tunjuk sebagai Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) pada tahun 2000. Selama kepemimpinannya di Bulog, ia berhasil membawa perubahan dan keuntungan perekonomian bagi Bulog hanya dalam tempo enam bulan saja.

Prestasinya yang bagus di Bulog, membuat presiden Gusdur ketika itu mengangkatnya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada bulan Agustus 2000 dan segera mencanangkan kebijakan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi. Terobosan lainnya ketika ia menjadi menteri, ia berhasil menyelamatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang ketika itu diambang kebangkturan dengan berhasil melalukan revaluasi aset tanpa menyuntikkan modal sehingga modal PLN menjadi surplus 119,4 Triliun rupiah dari yang tadinya minus 9 triliun.

Prestasinya membuat Presiden Gusdur mempercayainya sebagai Menteri Keuangan di bulan Juni 2001 hingga agustus 2001. Di tahun 2011, Rizal Ramli menikah lagi dengan wanita bernama Marijani yang merupakan keturunan Tionghoa tahun 2008 namun istri keduanya meninggal dunia pada tahun 2001. Istri pertamanya Herawati Moelyono meninggal dunia pada tahun 2006. Tidak lagi menjadi menteri, Rizal Ramli kemudian ditunjuk menjadi komisaris utama di beberapa perusahaan- perusahaan BUMN milik pemerintah seperti di PT. Semen Gresik.

Selama menjadi komasaris utama di PT. Semen Gresik, ia berhasil mengangkat perusahaan plat merah tersebut menjadi salah satu perusahaan dari delapan perusahaan milik negara yang paling menguntungkan dimana laba bersih yang diterima PT. Semen Gresik meningkat hingga 1,8 triliun dari 1,3 triliun. Selain itu ia juga banyak mengkritisi kebijakan pemerintah di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga Presiden Joko Widodo.

Rizal Ramli Sebagai Menko Kemaritiman
Setelah ia kemudian ditunjuk menjadi komisaris utama di Bank BNI namun belum cukup enam bulan di BNI, Rizal Ramli kemudian di tunjuk oleh presiden Jokowi sebagai Menko Kemaritiman dibulan Agustus 2015, selama menjabat sebagai Menko Kemaritiman, Rizal Ramli lebih banyak mengritik pedas kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi sehingga menimbulkan kegaduhan dalam kabinet kerja yang dibentuk oleh Joko Widodo. Rizal Ramli menjabat sebagai Menko Kemaritiman hingga Juli 2016.

Sebagai ekonom alumni Universitas Boston ia juga memiliki jaringan pergaulan internasional. Ia adalah salah satu ahli ekonomi Indonesia yang dipercaya menjadi penasihat ekonomi PBB bersama ekonom internasional lainnya seperti peraih Nobel Ekonomi, Amartya Sen dari Universitas Harvard, serta dua peraih Nobel lainnya, Sir James Mirrlees Alexander dari Inggris dan Rajendra K. Pachuri dari Universitas Yale , Helen Hunt dari UNDP, Francis Stewart dari Universitas Oxford, Gustave Ranis dari Universitas Yale, Patrick Guillaumont dari Prancis, Nora Lustig dari Argentina, dan Buarque dari Brasil.[5]

Pada The United Nation’s Second Advisory Panel Meeting bulan Juni 2012, Rizal telah membawa enam topik makalah, yakni Prospect for the Economy and Democracy in Indonesia, Post Yudhoyono Indonesia and Asian Power, Indonesia Strategic Economic & Political Outlook and Asian Powers, Indonesia’s Economic Outlook and Asian Economic Inegration, Indonesian Democracy at The Cross Road, dan Indonesian Economy and Rule of Law under SBY Administration. Seperti panel pada pertemuan pertama, pertemuan kedua juga dihadiri oleh anggota tim ahli PBB dan para pakar pilihan dari berbagai negara.

 


Biodata Rizal Ramli 

  •  Nama Lengkap : Dr. Rizal Ramli 
  • Tempat / Tanggal Lahir : Padang, Sumatera Barat, 10 Desember 1954
  • Istri : 
    • Herawati Moelyono (alm.)
    • Marijani (Liu Siaw Fung) (alm.)
  • Anak :
    • Dhitta Puti Saraswati
    • Dipo Satria
    • Daisy Orlana Ramli
  • Orang Tua : Ramli (Ayah), Rabiah (Ibu)
  • Kampus : Boston University, Amerika Serikat
  • Agama : Islam
  • Pekerjaan : Ekonom, politisi
  • abatan :
  • Kepala Badan Urusan Logistik (2000–2001)
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia 2000–2001
  • Menteri Keuangan Indonesia (2001)
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia (2015-2016)