Reog Ponorogo, Seni Pertunjukan

Reog Ponorogo adalah kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut. Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya meski di Surabaya terdapat “Kampung Reog”. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Kesenian reog sempat menimbulkan ketegangan antara Indonesia dengan negeri tetangga yang mengklaim bahwa kesenian reog adalah budaya asli mereka. Padahal bisa jadi kesenian reog sampai ke negeri tetangga karena dibawa oleh para pemain reog yang terpaksa menjadi TKI. Ketegangan antara penduduk kedua negara yang masih serumpun kemudian mereda setelah ada koreksi terhadap klaim tersebut.

Konon “Reog Ponorogo” merupakan kisah tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar puteri Kediri, Dewi Ragil Kuning. Di tengah perjalanan rombongan dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari Kerajaan Ponorogo hanya  Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom yang dikawal oleh “warok” (pria berpakaian hitam-hitam) pemilik ilmu hitam mematikan. Tarian yang diperagakan dalam pertunjukan Reog Ponorogo menggambarkan perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, adu kesaktian ilmu hitam di antara keduanya hingga bisa menyebabkan para penari "kerasukan" saat mementaskan tariannya.

Reog Ponorogo dahulu berfungsi sebagai upacara adat, tetapi seiring perkembangan jaman bergeser menjadi kesenian tradisional dan teater rakyat. Saat ini reog biasa dipentaskan dalam acara pernikahan, khitanan, hari-hari besar Nasional, atau acara budaya lainnya. Satu group reog biasanya terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah Warok Muda, Pembarong, penari Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang dengan peran utama berada pada tangan warok dan pembarongnya. Pertunjukannya sendiri terdiri dari beberapa rangkaian yang diawali dengan 2 sampai 3 tarian pembuka, tari inti, dan tari penutup. Tarian pertama menampilkan 6 sampai 8 laki-laki berpakaian serba hitam dengan muka dipoles warna merah, yang  merepresentasikan “warok” sosok singa yang pemberani. Tari kedua adalah “Jaran Kepang” atau “Jathilan” yang diperankan oleh penari laki-laki tetapi berpakaian perempuan. Tari lainnya jika ada biasanya dibawakan oleh anak laki-laki kecil  dengan adegan lucu yang disebut “Bujang Ganong” atau “Ganongan”.

Tari inti yang ditampilkan isinya harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat pertunjukannya. Jika acara pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan, sedangkan hajatan khitanan atau sunatan berkisah tentang pendekar. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi, selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan), atau penonton. Pemain yang sedang pentas bisa saja diganti jika terlihat kelelahan. Tarian penutup menampilkan singa barong, dimana pemain mengenakan topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota dari bulu burung merak seberat 50-60 kg. Ia akan mempertontonkan keperkasaan seorang pembarong dalam mengangkat “dadak merak” atau “barongan” dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Kemampuan membawa “barongan” selain melalui latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dari latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Musik pengiring pertunjukan Reog Ponorogo terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok penyanyi dan kelompok pemusik instrumen gamelan. Kelompok penyanyi akan bernyanyi lagu daerah Jathilan Jonorogo jika pentas berlangsung di Kabupaten Ponorogo, dan lagu Semanggi Surabaya atau Jembatan Merah dalam bahasa Jawa. Kelompok pemusik gamelan terdiri dari 2 orang penabuh gendang, 1 orang penabuh ketipung atau gendang terusan, 2 orang peniup slompret, 2 orang penabuh kenong, 1 orang penabuh gong, dan 2 orang pemain angklung. Salah satu ciri khas dari tabuhan reog adalah bentuk perpaduan irama antara kethuk kenong dan gong yang berirama selendro, dengan slompret yang berirama pelog sehingga menghasilkan irama yang terkesan magis.