Rawa Bunga, Kampung

Rawa Bunga merupakan sebuah kelurahan di wilayah Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Sebelum disebut Rawa Bunga, kawasan ini bernama Rawa Bangke. Kawasan ini memiliki sebuah kisah sejarah. Pada awal tahun 1800-an, terjadi sebuah perseteruan antara Kerajaan Inggris dengan Kekaisaran Prancis. Perseteruan ini memiliki dampak ke seluruh dunia, terutama Indonesia yang pada saat itu di bawah kolonialisme Belanda yang memihak pada Prancis. Pada saat itu, Kekaisaran Prancis dipimpin oleh Napoleon Bonaparte.

Pada 4 Agustus 1811, Pulau Jawa sebegai pusat pemerintahan kolonial Belanda di Nusantara diserbu oleh 12.000 tentara militer Inggris yang dipimpin oleh Lord Minto dan Letjen Sir Samuel Aucmuty. Inggris merasa terancam dengan bersatunya Belanda dengan Prancis usai jatuhnya Raja Louise oleh Napoleon. Berhasil mendarat di Cilincing, Inggris bergerak menggempur Batavia dan menaklukkan Gubernur Hindia Belanda dan mengangkat Letnan Gubernur Sir Thomas Stanford Raffles sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda.

Napoleon yang marah, kemudian melakukan balas dendam atas kekalahan Belanda. Inggris pun tidak tinggal diam, mereka membangun pertahanan meriam di sepanjang lintasan Matraman karena menganggap serdadu Prancis akan datang dari Ancol. Namun sayangnya perkiraan tersebut salah, serdadu Prancis tidak masuk melalui Ancol. Mereka bergerilya ke hutan-hutan dan rawa lalu masuk dari arah timur (Jatinegara) dan menyergap pertahanan Inggris di Matraman secara mendadak. Kemudian terjadilah pertempuran sengit di Matraman. Pasukan Inggris yang terdesak luluh lantak dihancurkan Perancis. Ratusan serdadu Inggris yang tewas selanjutnya dibenamkan di rawa-rawa sekitar Jatinegara. Sejak saat itu, kawasan ini disebut sebagai Rawa Bangke.

Namun ada cerita versi lain yang mengatakan bahwa asal usul nama Rawa Bangke berasal dari kondisi lingkungan yang berupa rawa dan banyak ditumbuhi pohon Bunga Bangkai (Bunga Raflessia). Karena dianggap nama yang kurang baik, nama Rawa Bangke kemudian diganti menjadi Rawa Bening. Orang-orang yang tinggal di sana malu jika ditanya nama tempat tinggal mereka. Seperti yang kita ketahui, bahwa Bangke dalam bahasa Indonesia merupakan binatang yang sudah mati dan mengeluarkan bau busuk.

Seiring berjalannya waktu, kemudian nama tersebut diganti menjadi Rawa Bunga. Nama Rawa Bunga dipilih karena di kawasan tersebut menjadi tempat hiburan malam dan banyak perempuan-perempuan yang bekerja sabagai penghibur.