Ratoh Duek, Seni Tari

Ratoh Duek adalah tari kreasi tradisional Aceh yang dilakukan dalam posisi duduk. Kata ratoh (rateeb, ratib) dalam bahasa Aceh mengandung pengertian berdoa atau berdzikir yang dinyanyikan, sedangkan duek merujuk pada posisi “duduk” saat melakukannya. Tari Ratoeh Duek dibawakan dengan penuh semangat sebagai gambaran kehidupan masyarakat Aceh yang kental akan nilai kebersamaan dan kekompakannya. Tarian ini kemudian berkembang pesat dengan berbagai variasi, yang memberikan inspirasi untuk melahirkan tari kreasi baru lainnya. Salah satu tari kreasi yang terinspirasi dari Ratoh Duek, dan uniknya dilahirkan di luar daerah asalnya adalah Ratoh Jaroe, yang tampil di pembukaan perhelatan olah raga akbar Asian Games 2018.

Tari Ratoeh Duek dibawakan oleh penari perempuan yang berjumlah genap, biasanya antara delapan sampai dua belas orang. Dua orang syahi (penyanyi) mengendalikan tarian dengan lantunan syair dalam bahasa Aceh sebagai aba-aba gerak tari. Posisi mereka di luar barisan penari. Struktur gerak tarian ini terdiri dari saleum pembuka, hai ba kusen, lahe tujan, ku ayoen ilallah, kutidhing, yahuallau ee haa, la illa la illa lahee, hai jalla tun, arok pulo pineung, pukulan kosong (tanpa syair), dan saleum penutup. Para penari mendendangkan syair sambil melakukan  gerakan menepuk-nepukan tangan ke paha dan dada, menjentik-jentikan jari, menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan kiri, melakukan berbagai gerakan dalam posisi duduk berlutut sambil sesekali bangun dari duduk, dan berdiri di atas lutut mereka. Sesekali membungkukan badan hingga kepala-kepala para penari nyaris menyentuh lantai. Mereka juga  bergerak dalam posisi duduk sambil menirukan gelombang air laut dan berdendang. Tarian ini seluruhnya dibawakan dalam posisi duduk berbanjar dengan pola lantai horisontal dan zigzag. Pola lantai adalah garis-garis pada lantai yang menggambarkan setiap perpindahan posisi saat membawakan tarian. Iringan tari berupa syair, petikan jari atau tepukan tangan penari, dan ada kalanya menggunakan rapai.

Busana yang dikenakan berupa baju kurung yang agak longgar dengan panjang melebihi pinggul, dan berlengan panjang sehingga tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Kain songket khas Aceh atau Ija Krong Sungket dililitkan di pinggang menutupi pinggul dan bagian bawah baju kurung. Tali pinggang taloe ki ieng patah sikureueng (tali pinggang patah sembilan), yang terbuat dari emas maupun perak digunakan untuk mengikatkan songket pada pinggang. Tubuh bagian bawah mengenakan celana cekak musang atau sileuweu, yaitu celana panjang yang melebar di bagian bawah dengan hiasan berupa sulaman benang emas. Penari juga mengenakan kaos kaki. Bagian kepala diberi penutup berupa jilbab dan ikat kepala berwarna yang dapat dimodifikasikan atau dikreasikan. Ikat kepala tidak dilepaskan sejak awal hingga tarian berakhir. Wajah diberi riasan sederhana.

Tari Ratoh Duek dahulu ditampilkan dalam acara pernikahan, kenduri naik haji, dan perayaan hari besar keagamaan di antaranya malam terakhir bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, serta Maulid Nabi. Kini tari Ratoh Duek yang gerakannya merupakan kombinasi berbagai tarian tradisional, berfungsi sebagai media untuk memperkenalkan tarian tradisional Aceh di kancah nasional. Tarian ini kerap disalah artikan sebagai tari Saman yang dibawakan oleh penari perempuan, sama seperti Rateb Meuseukat. Fungsi tari Ratoh Duek lainnya adalah sebagai sarana hiburan serta pertunjukan untuk ditampilkan dalam berbagai acara sosial, festival budaya, dan lain-lain.