Rateb Meuseukat, Seni Tari

Rateb Meuseukat adalah jenis tarian Aceh yang dibawakan dalam posisi duduk oleh sejumlah penari perempuan. Posisi dan gerakan tari Rateb Meuseukat mirip dengan tari Saman yang khusus ditarikan oleh laki-laki, sehingga menimbulkan salah persepsi bahwa tari Saman juga dibawakan oleh perempuan. Kedua tarian berasal dari wilayah yang berbeda, tari Saman dari dataran tinggi Gayo di Aceh Tenggara, sedangkan Rateb Meuseukat dari kabupaten Nagan Raya di Aceh Barat.

Rateeb Meuseukat terdiri dari dua suku kata yaitu rateeb dan meuseukat. Kata rateeb atau ratib dalam bahasa Aceh mengandung pengertian berdoa kepada Allah atau berdzikir, sedangkan meuseukat adalah nama seorang ulama dan filsuf Ibnu Maskawaihi dari Baghdad. Ada juga pendapat Hoesein Djayadiningrat yang menyatakan bahwa kata meuseukat berasal dari Muscat, ibu kota Oman di Jazirah Persia. Dalam bahasa Aceh sendiri kata meuseukat berasal dari sakat yang artinya diam atau khusyuk. Jadi bisa dibilang Rateeb Meuseukat bermakna kegiatan berdzikir yang dilakukan dengan khusyuk.

Cikal bakal tari Raateb Meuseukat diciptakan oleh Teuku Muhammad Thaib, seorang ulama yang memimpin pusat pendidikan agama di Gampong Rumoh Baro, desa Medang Ara, kecamatan Blang Pidie, Kabupaten Aceh Selatan. Nama Gampong Rumoh Baro tersebut kemudian berubah menjadi Desa Medang Ara. Beliau memimpin pesantren setelah menempuh pendidikan di Samudra Pasai, dan berguru kepada Ibnu Maskawaihi di Baghdad tentang Islam serta pengetahuan lainnya termasuk seni sebagai salah satu media dakwah. Setelah kembali ke Aceh beliau menerapkan serta mengembangkan pengetahuan agama yang didapatnya. Tidak lama kemudian kepemimpinan pesantren diserahkan kepada Teuku Muhammad Thaib. Murid-murid yang belajar di pesantrennya adalah perempuan mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Untuk menghilangkan rasa jenuh para santriwati dan mengalihkan kebiasaan memperbincangkan hal yang tidak penting, serta menumbuhkan semangat dalam menimba ilmu, Teuku Muhammad Thaib menerapkan dakwah seni sebagaimana yang dilakukan gurunya dahulu. Beliau memadukan dzikir dan syair sederhana dalam bentuk kesenian yang disebutnya ratib atau rateeb meuseukat. Kesenian ini tertutup bagi laki-laki, hanya boleh dilakukan dan ditonton oleh santriwati. Seni ratib ciptaannya menyertakan gerakan-gerakan tangan, kepala dan badan yang sederhana. Iringannya berupa lagu lagu atau syair-syair yang menyanjung serta memuja Allah, shalawat atas Nabi Muhammad, kisah-kisah Islami atau nasehat agama, dan pesan-pesan keagamaan untuk pendidikan para santriwati.

Pada abad ke-19 tari Rateeb Meuseukat mulai berkembang di kabupaten Aceh Barat, yang dipimpin oleh Teungku Aji Rakibah, anak perempuan dari Habib Seunagan. Teungku Aji Rakibah menciptakan gerakan tarinya, sedangkan syair dan lagu ditangani oleh Teuku Chik Dikila seorang ulama dari Seunagan (sekarang Jeram Aceh Barat). Seiring perkembangan, tari Rateeb Meuseukat mulai mengalami perubahan dalam gerak, lagu, kostum, serta tempat pertunjukannya. Modifikasi yang dilakukan oleh Teungku Aji Rakibah dan Teuku Chik Dikila di tahun 1960 tersebut ternyata mampu menjadikan tari Rateeb Meuseukat lebih merakyat. Tarian yang semula hanya digelar di lingkungan pesantren ini pun berubah menjadi tarian rakyat, yang dikembangkan sebagai media dakwah oleh para santri selepas dari pendidikan pesantren.

Tari Rateeb Meusekat dibawakan oleh minimal sepuluh orang perempuan dan maksimal tidak terbatas, yang dipimpin oleh seorang syekh. Ada juga yang menyebutkan tiga belas orang, harus berjumlah ganjil dan tidak boleh kurang dari sepuluh orang. Jumlah banyak dimaksudkan untuk mengantisipasi jika ada penari kelelahan bisa digantikan oleh yang lainnya. Hal ini dikarenakan tarian Aceh temponya dapat berubah sangat cepat dari lambat menjadi cepat dan sangat cepat. Penari juga kadangkala harus menyanyikan atau membawakan syair bersama-sama. Tentunya sangat menguras energi.

Gerakan tari Rateeb Meuseukat diawali dengan formasi duduk berbanjar satu, dan syekh berada di tengah. Mereka melakukan gerak salam pembuka diiringi vokal dari seorang syahi yang posisinya berada di luar barisan penari. Pertunjukan dimulai dengan ucapan salam sebanyak lima sampai dua belas bait, kemudian dilanjutkan syair-syair pilihan seperti sholawat, kisah Hasan dan Husein, pendidikan dan lain-lain. Selain syekh yang mengatur gerak agar serempak dan dinamis, biasanya ada juga aneuk syekh (wakil syekh) dalam barisan penari. Gerak tari yang disajikan merupakan pengulangan gerak berpola sederhana namun temponya dapat berubah dengan cepat. Secara berturut-turut, ada gerak horisontal, gerak salam, gerak menunduk, gerak kepala menoleh ke kanan dan kiri, gerak tangan membuka lebar, serta gerak ombak atau gelombang. Namun demikian syair dan gerakan tari Rateb Meuseukat tidak selalu sama antara satu daerah dengan daerah lainnya, bahkan berbeda sanggar dalam satu wilayahpun bisa berbeda. Ada yang syairnya sama tetapi gerak tariannya berbeda, begitu juga sebaliknya, gerakan sama tetapi syair berbeda.

Syair pada tarian Rateeb Meuseukat bisa berbeda-beda karena memang tidak ada pakem syair dalam tarian Aceh. Namun isi syair tetap dan tidak pernah berubah sejak dahulu, yaitu mengandung ajaran Islam dan pesan dakwah di dalamnya. Lantunan dzikir, syair, dan gerak dalam tarian ini dimaksudkan untuk menumbuhkan serta menguatkan semangat berjuang membela agama, nusa, dan bangsa. Tari Rateeb Meuseukat awalnya berfungsi sebagai ritual untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad, dan media sosialisasi serta pendidikan karakter. Pergeseran fungsi juga terjadi seiring berjalannya waktu. Tari Rateeb Meuseukat tidak lagi sebatas dakwah pada peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, melainkan juga hiburan dalam hajatan perkawinan, nadzar, ritual lain yang tidak bertentangan dengan agama, dan festival budaya atau promosi wisata.

Para penari mengenakan pakaian tradisional Aceh, berupa baju kurung lengan panjang dan celana cekak musang atau sileuweu, yaitu celana panjang yang melebar di bagian bawah dengan hiasan berupa sulaman benang emas. Kain songket khas Aceh atau Ija Krong Sungket dililitkan di pinggang menutupi pinggul dan bagian bawah baju kurung. Tali pinggang taloe ki ieng patah sikureueng (tali pinggang patah sembilan), yang terbuat dari emas maupun perak digunakan untuk mengikatkan songket pada pinggang. Kaki ditutup dengan kaos kaki. Kepala mengenakan jilbab, dan penutup kepala semacam topi yang diberi hiasan sebagai pemanis. Pertunjukan tari Rateeb Meuseukat diiringi musik tradisional Aceh yang terdiri dari rapai  dan geundrang (gendang), serta lantunan syair Islami.