Rapa’i Geleng Inong, Seni Tari

Rapa’i Geleng Inong adalah kesenian rapa’i geleng yang dibawakan oleh perempuan. Nama tarian ini menggabungkan instrumen musik iringan yang digunakan (rapa’i), gerakan menggelengkan kepala seperti orang sedang berdzikir (geleng), dan para penari yang seluruhnya perempuan (inong). Tari Rapa’i Geleng sudah ada sejak tahun 1960-an namun hanya dibawakan oleh penari laki-laki. Kalaupun ada penari perempuan yang menarikannya hal itu tidak lebih hanya untuk mengisi kekosongan para santri. Tahun 1997 tarian Rapa’i Geleng mulai dikembangkan di kota Bireuen oleh para tokoh masyarakat dan para pekerja seni. Bukan hanya  yang dibawakan oleh laki-laki, tetapi juga Rapa’i Geleng Inong yang ditarikan oleh perempuan. Alasan yang mendasari hal ini adalah fakta sejarah bahwa pahlawan Aceh bukan hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia adalah perempuan Aceh yang melanjutkan perjuangan suaminya masing-masing dalam melawan penjajah Belanda, sedangkan Keumalahayati (Malahayati) adalah laksamana perempuan pertama di Nusantara pada abad ke-16.

Rapa’i Geleng Inong yang dikembangkan di Desa Paya Cut, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Mereka juga menginginkan agar kesenian tradisional dan budaya Aceh tetap dipertahankan. Tari Rapa’i Geleng Inong sebenarnya mempunyai struktur yang sama dengan Rapa’i Geleng, tetapi dalam menarikannya tetap dipisah antara laki-laki dan perempuan. Aturan ini sesuai dengan syari’ah Islam yang memisahkan barisan jama’ah laki-laki dan perempuan, serta larangan untuk tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dalam segala hal. Tarian Rapa’i Geleng juga menerapkan aturan syar’i sehingga ada tarian yang dikembangkan khusus agar bisa dibawakan oleh penari perempuan. Tarian Rapa’i Geleng Inong sempat kembali tenggelam saat penerapan DOM (Daerah Operasional Militer) di Aceh tahun 1990-1998, karena situasinya tidak memungkinkan untuk melakukan pementasan apapun.  Tahun 2005 setelah kejadian tsunami Aceh, tari Rapa’i Geleng Inong kembali dihidupkan di wilayah Bireuen. Tarian ini kemudian berkembang dan dipentaskan tidak hanya di wilayah Aceh namun juga tingkat nasional bahkan hingga ke luar negeri. Rapa’i Geleng Inong kemudian dikenal sebagai kesenian khas Kabupaten Bireuen.

Tari Rapa’i Geleng Inong dibawakan secara berkelompok oleh 8-21 penari perempuan, serta satu orang syeh/syahi yang bertugas membawakan syair sebagai pembuka dan pengiring gerak. Ada kalanya syeh didampingi aneuk syahi (vokal pembantu) dalam membawakan syair. Fungsi syair dalam tarian Aceh adalah sebagai media dakwah yang mengandung ajaran tentang Islam dan penerapannya dalam keseharian, sosialisasi perihal hidup bermasyarakat, beragama serta solidaritas yang dijunjung tinggi. Ritme, melodi, dan irama dalam musik ini diambil dari pola saat orang bersama-sama berdzikir. Saat semakin khusyu biasanya tanpa sadar kepala ikut menggeleng ke kanan dan kiri atau mengangguk-angguk. Gerakan dalam tari Rapa’i Geleng Inong juga diikuti dengan tabuhan rapa’i yang menjadi musik pengiring. Tabuhan dilakukan dengan tempo yang bertingkat dari perlahan menjadi cepat dan semakin cepat kemudian diam. Tarian dilakukan dalam posisi duduk berbanjar dalam satu baris atau lebih, tergantung dari jumlah penarinya.

Struktur tari Rapa’i Geleng Inong  terdiri dari seulaweut (sholawat), saleum atau pembukaan, pukulan kosong, kisah (rasul, nabi, ajaran agama, atau raja), dan lanie (penutup). Seulawat adalah saat penari memasuki tempat pementasan sambil melantunkan sholawat Nabi dan menabuh rapa’i. Lantunan sholawat dibawakan oleh syahi yang kemudian di saot (sahut) oleh para penari hingga posisi rapi berbanjar. Pujian atas kebesaran Allah dengan segala pemberiannya dilantunkan dan para penari sekaligus pemain rapa’i  menyahut dengan syair dan berbagai variasi gerakan sambil memukul rapa’i. Saleum kemudian dilantunkan sebagai penghormatan kepada penonton sekaligus pertanda bahwa pertunjukan segera dimulai. Dalam ajara Islam ada kewajiban untuk mengucapkan salam apabila bertemu dengan muslim lainnya meski tak saling kenal. Gerakan salam ditandai dengan ucapan salam dalam Islam, dan kedua telapak tangan yang ditangkupkan di depan dada. Dilanjutkan dengan gerakan bersalaman dan melekatkan telapak tangan antar penari, sebagai simbol ukhuwah (persatuan) serta silaturrahmi (persaudaraan). Pukulan kosong adalah gerakan yang dilakukan tanpa iringan lantunan syair, melainkan hanya dengan pukulan rapa’i. Gerakan yang dilakukan adalah menggangguk-anggukan dan menggelengkan kepala sebagai ciri rapa’i geleng, serta membungkukkan badan yang diakhiri dengan memposisikan tangan kanan di depan leher. Ritme dan tempo mengikuti pukulannya. Kisah berfungsi untuk menyampaikan informasi atau nasehat tentang agama, politik, dan lain-lain, yang didalamnya terkandung makna sebagai acuan pembentukan akhlak yang baik.  Lani biasanya lebih bersifat hiburan. Syeh diberi kebebasan melantunkan syair dengan sisipan “pesanan” dari penyelenggara acara, atau bisa dalam bentuk candaan yang menghibur atau pun kritikan.  Rapa’i Geleng diakhiri dengan gerak serta ritme pukulan yang semakin cepat namun tetap kompak, dan berakhir dengan berhenti secara serentak.

Para penari Rapa’i Geleng Inong mengenakan baju kurung yang agak longgar,  panjangnya melebihi pinggul, dan berlengan panjang sehingga tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Kain songket khas Aceh atau Ija Krong Sungket dililitkan di pinggang menutupi pinggul dan bagian bawah baju kurung. Tali pinggang taloe ki ieng patah sikureueng (tali pinggang patah sembilan), yang terbuat dari emas maupun perak digunakan untuk mengikatkan songket pada pinggang. Tubuh bagian bawah mengenakan celana cekak musang atau sileuweu, yaitu celana panjang yang melebar di bagian bawah dengan hiasan berupa sulaman benang emas. Bagian kepala diberi penutup berupa jilbab dan semacam topi dengan hiasan di bagian depan. Penari juga mengenakan kaos kaki.