Rampak Gedruk, Seni Tari

Tari Rampak Gedruk awalnya adalah nukilan dari rangkaian pertunjukan Jathilan yang sangat populer di kalangan masyarakat pedesaan di kota Magelang, dan kemudian  berkembang di sejumlah daerah di Jawa Tengah termasuk Sleman, Yogyakarta. Jathilan sendiri adalah kesenian yang sudah dikenal lama oleh masyarakat Jawa Tengah, dimana para penari memakai kuda kepang sebagai penggambaran prajurit berkuda yang sedang latihan perang. Jathilan dikenal juga dengan sebutan Jaran Kepang, Kuda Lumping, atau Kuda Kepang. Nama jathilan berasal dari kata jaranne jan thil-thilan tenan, artinya kudanya benar-benar berjoget tidak beraturan. Dalam kesenian jathilan memang ada unsur magis yang bisa menyebabkan penarinya kesurupan dan bergerak kesana kemari tanpa bisa dikendalikan. Pertunjukan jathilan dibagi menjadi beberapa babak, yaitu pembukaan yang dibawakan oleh para penari laki-laki dewasa, babak kedua oleh penari perempuan dewasa, dan babak penutup oleh bapak-bapak.

Dalam perkembangannya banyak inovasi yang dilakukan untuk menyenangkan penonton agar kesenian ini bisa tetap eksis. Salah satunya adalah penampilan para penari yang mengenakan topeng raksasa. Penari bertopeng raksasa masuk secara bersamaan ke dalam arena pertunjukan sebelum terjadi klimaks dimana banyak penari jathilan yang “kesurupan”. Tidak ada pembagian tarian, tetapi setiap gerakan dilakukan serempak atau bersama-sama (rampak). Kehadiran raksasa atau buto (bahasa Jawa) diharapkan dapat menjadi penolak bala selama pertunjukan berlangsung. Babak jathilan ini kemudian dikembangkan dan menjadi sebuah tarian terpisah yang berdiri sendiri.

Tari Rampak Gedruk yang turut meramaikan Pekan Budaya Nasional 2019, menggambarkan kemarahan buto dengan gerakan menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Kisah tarian ini diambil dari cerita perang Prabu Baka dan Babad Tanah Jawa. Tarian Rampak Gedruk Buto atau Rampak Buto ini dibawakan secara berkelompok oleh lima sampai enam belas penari yang awalnya hanya laki-laki, namun dalam perkembangannya ada juga kelompok gedruk yang menyertakan penari perempuan. Tarian ini tidak mempunyai pakem, setiap penata tari bebas melakukan improvisasi gerak tetapi harus dinamis, ekspresif, dan serempak. Untuk membawakan tari Rampak Gedruk Buto para penari membutuhkan energi yang cukup, agar hentakan kakinya kuat sehingga kelincahan dan kemarahan sang buto dapat tergambarkan dengan baik. Selain itu juga karena setiap penari mengenakan banyak kerincingan atau klintingan (lonceng kecil-kecil) di kedua kakinya seberat hampir mencapai 2 kg. Klintingan akan berbunyi riuh setiap kali penari melakukan gerakan menendang atau  menghentakkan kaki ke tanah dengan kuat secara serempak. Kata gedruk sendiri berasal dari gedroek, yang artinya hentakan kaki. Pada akhirnya gerakan gedruk dan bunyi kerincingan atau klintingan ini menjadi ciri khas dari Rampak Gedruk Buto atau yang sering juga disebut sebagai Rampak Buto.

Busana yang dikenakan penari terdiri dari sayak atau krembyah-krembyah yang melekat pada pakaian sang Buto, selendang (sampur), hiasan uncal, buntal, tameng  dada dari bahan kain, topeng buto yang diberi rambut terbuat dari wol, bulu sapi, rami, atau bahan sintesis lainnya, serta kerincingan atau klintingan yang seharusnya dipasang di kaki dan pergelangan tangan, tetapi agar tidak mengganggu gerakan karena terlalu berat umumnya hanya dikenakan di kaki. Kerincingan dibuat dari lonceng kecil-kecil yang dipasang satu persatu di lembaran busa kemudian diberi tali agar bisa diikat. Musik pengiring merupakan perpaduan alat musik tradisional (gendang, bonang, saron, kempul, slompret, ketipung) dan modern (drum set). Selain musik ada juga iringan lagu sepanjang tarian berlangsung. Upacara dan sesaji sebelum pertunjukan berlangsung tidak serumit Jathilan, namun tetap ada satu orang yang bertindak sebagai pawang.