PUPUT PUSER

Bayi yang baru berusia satu minggu akan mengalami putus tali pusar. Orang Betawi menyebut peristiwa ini sebagai puput puser atau coplok puser. Peristiwa ini kemudian diupacarakan oleh orang Betawi. Tali pusar yang putus akan disimpan baik-baik dengan kain putih. Terdapat dua cara dalam penyimpann tali pusar yang sudah putus. Pertama, tali pusar diberi rempah-rempah lali disimpan. Maksudnya adalah sebagai penolak bala dari bahaya yang menimpa sang bayi. Kedua, tali pusar dimasukan  ke dalam periuk tanah, diberi bunga-bungaan, diberi tulisan berisi Surah Al-Fatihah atau surah Al-Ikhlas dan beberapa benda lain. Makna benda-benda yang ada di dalam periuk tersebut adalah: bunga-bungaan agar kelak sang anak menjadi teladan  yang baik sebagaimana harumnya bunga; dan ayat-ayat Al-Qur’an agar sang anak menjadi saleh dan taat pada ajaran agama Islam.

Pada upacara puput puser, yang disebut selamatan, dihidangkan nasi uduk atau nasi kuning dan kue-kue, seperti kue pisang, kue bugis, roti, dan sebagainya. Makanan tersebut dibagikan kepada para tetangga.