PULAU KELOR WISATA ALAM

Pulau Kelor dahulu dikenal dengan nama Pulau Kerkhof merupakan pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu provinsi DKI Jakarta. Pulau Kelor terletak berdekatan dengan gugusan yang sama dengan Pulau Petondan Besar, Pulau Petondan Kecil, Pulau Kelapa, Pulau Onrust dan Pulau Bidadari.

Pulau Kelor terletak di gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Paling mudah dicapai dari Dermaga Muara Kamal yang jaraknya 20,9 km dari Stasiun Jakarta Kota atau sekitar 35 menit berkendara. Dari dermaga, Pulau Kelor bisa dicapai dengan naik perahu motor selama 30-45 menit.

Jaraknya ke Pantai Ancol sekitar 1,8 kilometer atau satu jam pelayaran dengan kapal motor. Meski luasnya hanya ‘sebesar daun kelor’ yakni 28 hektar, Pulau Kelor menyimpan bukti sejarah masa kolonialisi Belanda di Indonesia. Di pulau ini terdapat peninggalan Belanda berupa galangan kapal dan benteng yang dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis di abad ke 17 yakni Benteng Martello, bangunan tua yang paling menonjol, sekaligus yang menjadi daya tarik wisatawan di pulau tersebut. Benteng ini didirikan sebagai garda terdepan pertahanan Batavia menghadapi serangan dari laut pada abad 17-18.

Benteng ini dibuat dari bata merah berbentuk lingkaran. Tingginya kurang lebih 15 meter. Dengan ketinggian yang dimilikinya serta bekas strukturnya yang bundar tersebut, dari benteng tersebut bisa membalas menembaki musuh dengan meriam yang bisa bermanuver 360 derajat. Temboknya sangat tebal sehingga bisa bertahan dari gempuran meriam musuh.

Dulu di tengahnya, terdapat meriam besar yang digunakan sebagai pertahanan kawasan maritim Hindia Belanda, terutama Batavia. Benteng yang melingkar disertai pintu-pintu besar di sekelilingnya, mendukung kerja meriam yang dapat diputar 360 derajat.

Selain sebagai benteng pertahanan, Martello juga digunakan sebagai tempat eksekusi tahanan Belanda. Mayatnya tentu dikubur di pulau itu pula. Oleh karenanya, Pulau Kelor dulu dinamakan Pemerintah Hindia Belanda sebagai Pulau Kerkhof yang berarti kuburan.

Di sini juga terdapat kuburan Kapal Tujuh atau Sevent Provincien serta awak kapal berbangsa Indonesia yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda.

Pada tahun 1883 saat gunung Krakatau meletus, terjangan tsunami membuat Benteng Martello rusak parah. Tak semua struktur bangunan luluh lantak, sehingga masih bisa kita pelajari hingga sekarang.

Diperkirakan letusan Krakatau yang dahsyat itu ikut andil dalam meruntuhkan beberapa bagian bangunan dalam benteng tersebut. Sebagian besar Benteng kemudian runtuh dan terendam air karena abrasi yang mengikis pulau. Pengikisan karena gelombang air laut juga membuat bagian lura benteng terendam air. Sisa benteng ini kemudian menjadi saksi Pertahanan Maritim Hindia Belanda melindungi Ibu Kota. Namun Traveler sebaiknya tidak naik ke struktur bangunan Martello demi kepentingan berfoto atau alasan lain. Sebab, benteng itu sudah berusia ratusan tahun dan melewati berbagai terpaan alam.

Setiap pijakan akan menambah kerusakan Benteng Martello. Apalagi jika banyak traveler-traveler yang melakukannya. Apa yang akan terjadi pada bangunan yang sudah renta itu jika dinaiki 20-30 turis tiap harinya?

Kelor pulau mungil tak berpenghuni itu konon diber nama KELOR lantaran saking kecilnya, Cuma secuil alias selebar daun kelor, ternyata menyimpan sejarah panjang dari periode awal kota berdirinya kota Batavia yang kini menjadi kota megapolitan Jakarta.

Pulau Kelor merupakan salah satu pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Secara Administratif termasuk dalam wilayah Kelurahan Untung Jawa, lokasi berdekatan dengan pulau Onrust, Pulau Cipir dan Pulau Bidadari. Jarak ke Pantai ancol sekitar 1.8 kilometer atau sekitar 20 menit dengan kapal cepat dari dermaga Marina Ancol.

Karena sejarah kelamnya, pulau ini juga masih dianggap angker. Pencarian Pulau Kelor di Google Maps pun masih muncul nama "Kerkhof". 

Saat mengunjungi Pulau Kelor juga sebaiknya membawa minuman dan camilan yang cukup. Sebab, tidak ada warung yang menjual makanan di sana. Karena telah ditetapkan sebagai cagar budaya, mendirikan bangunan permanen di Pulau Kelor adalah ilegal.

Jika ingin terima beres berlibur ke Pulau Kelor, kamu bisa mendaftar open trip yang banyak ditawarkan. Biasanya Pulau Kelor ditawarkan sepaket dengan Pulau Onrust dan Pulau Cipir yang memang berdekatan. Harga open trip dibanderol sekitar Rp 100 ribu – 125 ribu.