Prof Dr Deliar Noer Ma , Tokoh

Prof Dr Deliar Noer MA  Putra Minang  kelahiran Medan 9 Februari 1926, menamatkan program magister dan doktoral di Cornel University, Ithaca, Amerika Serikat. Di kenal sebagai cendekiawan yang berani bicara terus terang dan apa adanya. Seorang pakar ilmu politik yang produktif menulis, menyukai karya sastra, walaupun belum pernah menulis sastra. Pemikir dan penulis andal. Pendapat dan tulisannya bernas dan cerdas, bahkan terkesan keras. Tipe seorang cendekiawan yang berterus terang, kritis.

Hidup Deliar Noer memang tidak pernah jauh dari Islam. Ia tumbuh besar dalam keluarga Minangkabau yang merantau di Sumatera Timur. Ayahnya, Noer Joesoef, adalah pegawai pegadaian yang doyan mengadakan pengajian. Kondidi ekonomi keluarganya tergolong lumayan. Setidaknya, sewaktu bocah, Deliar Noer pernah belajar di Hollandsche Inlandsch School (HIS) partikelir milik perguruan Taman Siswa di Tebing Tinggi, lalu ke HIS milik pemerintah. Lulus sekolah dasar 7 tahun itu, dia sebentar bersekolah di SMP kolonial—yang disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)—di kota Medan. 

Sayangnya, Deliar Noer tidak bisa sekolah dengan normal seperti banyak pemuda seumurannya. Perang Pasifik meletus. MULO tak bisa berjalan lagi setelah Balatentara Jepang mendarat. Para siswa mau tidak mau harus melanjutkan di SMP yang disebut Chu Gakko. Sempat terpikir olehnya untuk belajar di INS Kayutanam di zaman Jepang itu.

Belakangan, Deliar hijrah ke Jakarta. Maksud hati untuk sekolah, tapi dia terjebak dalam revolusi. Dia berada di pihak Republik. Di masa revolusi pula, ia pernah jadi penyiar Radio Republik Indonesia (RRI).  Waktu ada lowongan di Akademi Militer di Yogyakarta, Deliar Noer mendaftar, namun tidak diterima. Setelah itu dia dianjurkan pergi ke Cikampek, tetap untuk berjuang di pihak Republik.  Setelahnya, Deliar Noer berangkat ke Singapura. Di sana ia menjadi Sekretaris Perdagangan pemerintah. Usai revolusi, Deliar Noer, yang sempat bekerja di Departemen Luar Negeri dan jadi guru SMA Muhammadiyah ini, kemudian kuliah masuk di Akademi Nasional jurusan Sosial Ekonomi Politik tahun 1950.

Di awal 1950-an, Deliar Noer adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jakarta. Pernah jadi Ketua Cabang (1951-1953) dan Ketua Pengurus Besar HMI (1953-1955). Dia kemudian mengenal Mohammad Hatta ketika bekerja di Pers Biro Indonesia (PIA).

Deliar berhasil merampungkan sarjana mudanya di Universitas Nasional pada 1958. Berkat bantuan dana dari Yayasan Rockefeller, ia bisa kuliah di Amerika.  Sepulang dari Amerika, pada 1963, Deliar kembali ke Pesisir Sumatera bagian Timur, yang sudah jadi Provinsi Sumatra Utara, dan menjadi dosen di Universitas Sumatra Utara (USU), Medan. Dia angkat kaki dari sana dua tahun kemudian karena berkonflik dengan golongan yang sedang berjaya, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, Mayor Jenderal Sjarif Thayeb, dianggap sebagai orang yang melarangnya mengajar. Deliar Noer dipecat dari kampus USU karena desakan golongan kiri yang menuduhnya antek Amerika dan dekat dengan Hatta.  Dia juga kena tuduh sebagai orang yang anti-Manifesto Politik (Manipol).  Dia dan Hatta dianggap sama, berseberangan dengan Sukarno.

Di masa-masa suksesi dari Sukarno ke Soeharto, antara 1965 hingga 1967, Deliar sempat dipekerjakan sebagai Kepala Biro Hubungan Luar Negeri, Departemen Urusan Riset Nasional di Jakarta. Ketika Soeharto jadi Ketua Presidium Kabinet Ampera, Deliar termasuk dalam kelompok staf pribadi yang dikenal sebagai SPRI. Rupanya Deliar Noer tidak cocok berlama-lama jadi staf dari jenderal yang belakangan mejadi Presiden Republik Indonesia kedua itu. Dia berbeda paham dengan staf lainnya. 

Sejak 1967, Deliar kembali ke tempat di mana orang terpelajar harusnya berada: kampus. Dia dijadikan Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta—yang belakangan jadi Universitas Negeri Jakarta. Namun, lagi-lagi dia berurusan dengan orang yang sama pada 1974. Kala itu Sjarif Thayeb sudah jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di awal Orde Baru. Deliar Noeer dipecat ketika hendak membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar pada bulan Juni 1974, padahal masa jabatannya hanya tinggal beberapa bulan lagi. Sang menteri menuduhnya sebagi penghasut yang pada waktu itu masih hangat-hangatnya gerakan mahasiswa yang disebut Malapetaka 15 Januari 1974 alias Malari 1974.

Naskah pidato pengukuhannya sebagai guru besar itu akhirnya diterbitkan Anwar Ibrahim, yang ketika itu menjabat Ketua Angkatan Belia Islam Malaysia, menjadi buku (dalam ejaan Melayu) dengan judul Partisipasi dalam Pembangunan (1978). Akibat naskah pidato pengukuhan maha guru itu  dia diberhentikan sebagai Rektor Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), yang telah dijabatnya sejak 1967. Walau diberhentikan sebagai rektor dan mengajar di universitas dibatasi, dia tidak berhenti berkarya. Dia pemikir dan penulis yang amat produktif,  termasuk menulis otobiografinya sendiri “Aku bagian ummat, Aku Bagian Bangsa (1996). Karya tulisnya yang monumental adalah Gerakan Modern Islam di Indonesia, dan Mohammad Hatta: Biografi Politik.

Buku Gerakan Modern Islam, diterbitkan dari disertasi Deliar di Universitas Cornell, dan telah menjadi kutipan klasik bagi studi-studi politik Indonesia. Dalam buku itu, Deliar juga mencatat keadaan umat Islam di Indonesia sebelum abad ke-20. Di masa itu, menurut Deliar, sikap taqlid “merajalela di kalangan umat Islam mulai abad XI hingga abad XIX. Apa yang disebut Ijtihad, yaitu usaha dan daya bersungguh-sungguh untuk menemukan tafsir serta pendapat tentang sesuatu soal, tidak lagi diakui.”  Sedangkan biografi politik Hatta adalah studi paling komprehensif tentang Hatta, terbukti pada 1992 buku ini terpilih sebagai buku terbaik Yayasan Buku Utama.

Beberapa karya tulisnya: Islam & masyarakat (2003); Islam & politik (2003); Mohammad Hatta, hati nurani bangsa 1902-1980 (2002); Membincangkan tokoh-tokoh bangsa (2001); Mencari Presiden (1999); Aku bagian ummat, aku bagian bangsa : otobiografi Deliar Noer (1996); Mohammad Hatta : biografi politik (1990); Culture, philosophy, and the future : essays in honor of Sutan Takdir Alisjahbana on his 80th birthday (1988); Perubahan, pembaruan, dan kesadaran menghadapi abad ke-21 (1988); Partai Islam di pentas nasional 1945-1965 (1987); Administrasi Islam di Indonesia (1983); Islam, Pancasila dan asas tunggal (1983); Mengenang Arief Rahman Hakim (1983). Bunga rampai dari Negeri Kanguru (1981); Administration of Islam in Indonesia (1978);

Sekali lagi, masalah ulama-intelektuil atau intelektuil-ulama: suatu tesis buat generasi muda Islam (1974); Guru sebagai benteng terakhir nilai-nilai ideal; tuntutan : bekerja tertib (1973); The modernist Muslim movement in Indonesia, 1900-1942 (1973); Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (terjemahan) (1990); Beberapa masalah politik (1972); IKIP D Sewindu : pidato/laporan Rektor pada Dies Natalis ke VIII IKIP D, diutjapkan pada tanggal 20 Mei 1972 (1972); Kitab tuntunan untuk membuat karangan ilmiah, termasuk skripsi, (1964); The rise and development of the modernist Muslim movement in Indonesia during the Dutch colonial period 1900-1942 (1963); Partisipasi dalam Pembangunan (1977); Pengantar ke Pemikiran Politik (1965)

Setelah kehilangan tempat mengajar, Deliar Noer pun diundang  kampus bergengsi seperti  Australian National University (ANU) di Canberra yang meliriknya sebagai dosen bagus. Deliar Noer pun terbebas sebagai manusia tanpa penghasilan yang tinggal di rumah kontrakan. Daripada tidak bisa makan di negeri sendiri, lebih baik cari makan di negeri orang.

Tak hanya di ANU, dia juga pernah menjadi pengajar tamu di Universitas Griffith, Brisbane. Sebagai orang dekat Hatta, Deliar Noer pernah diajak untuk membangun partai bernama Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII). Setelah Soeharto lengser, dia mencoba mendirikan Partai Umat Islam, namun tidak mendapat dukungan yang cukup. Kiprahnya di dunia partai politik tak sebaik nama besarnya di dunia ilmu pengetahuan.

Cendekiawan ilmu politik yang kritis Prof Dr Deliar Noer MA meninggal dunia dalam usia 82 tahun Rabu 18 Juni 2008 pukul 10.30 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Mantan Rektor IKIP Jakarta kelahiran Medan 9 Februari 1926, itu meninggalkan istri tercinta, Zahara (76), dan seorang anak, Dian, dan tiga cucu.

Jenazah disemayamkan di rumah duka, Jalan Swadaya Raya 7-9, Kelurahan Duren Sawit, Jakarta Timur. Dimakamkan Kamis 19 Juni 2008 di tempat pemakaman umum (TPU) Karet sekitar pukul 09.00.

Dia sempat dirawat di rumah sakit selama sehari, setelah Selasa siang 17 Juni 2008 sekitar pukul 11.00 penyakit jantungnya kambuh. Sejumlah tokoh dan kerabat dekat melayat ke rumah duka. Banyak juga yang mengirimkan karangan bunga.