Pola Makan Orang Betawi Tempo Dulu, Nilai Budaya

Orang Betawi tempo dulu tidak makan sehari tiga kali. Mereka hanya makan sehari dua kali yaitu, pagi hari sekitar pukul delapan pagi, dan sore hari sekitar pukul lima. Namun terkadang mereka mindo yaitu, makan pada siang hari. Makanan yang disantap pada saat mindo bukanlah masakan baru, melainkan sisa makanan yang disantap pada pagi hari. Jika tidak ada makanan sisa, mereka tidak mindo.

Orang Betawi setiap pagi pukul enam, mereka minum kopi yang disebut gahwa atau minum teh yang disebutnya sahi. Panganan pendamping mintun kopi atau teh adalah pisang goreng atau pisang rebus, ubi goreng atau ubi rebus. Terkadang juga ada santapan ketan urab. Ketan urab merupakan ketan yang dikukus dan ditaburi parutan kelapa dan dilengkapi dengan sambal.

Orang Betawi makan tergantung pada waktunya. Pada hari-hari biasa, orang Betawi menyantap panganan nasi putih atau nasi biasa lengkap dengan lauk ikan kering atau ikan basah, dengan sayur asem, sayur bayam, atau sayur lainnya yang bahannya diperoleh dari kebun. Pada hari raya idul fitri atau idul adha, orang betawi memiliki masakan spesial yaitu ketupat dengan sayur laksa atau sambel godok dan dilengkapi dengan semur daging serta opor ayam. Pada waktu hajatan, seperti pernikahan, khitanan, atau acara lainnya, masakan yang disediakan adalah nasi uduk, nasi ulam, atau nasi kebuli yang disajikan dengan nampan besar beserta lauk pauknya. Pola makan tersebut biasanya diadopsi oleh orang Betawi kota, berbeda dengan orang betawi pinggiran yang jauh dari kota. Mereka memiliki menu spesial berupa pindang bandeng dan bandeng goreng yang jarang disantap pada kesehariannya.