Poco Poco, Seni Tari

Tari Poco-poco berawal dari sebuah pesta yang dihadiri Arie Sapulette sang pencipta lagu. Saat itu ada seorang gadis yang sedang membawakan tari Yospan dan Wayase dari Papua. Arie terpikat dengan gerak gemulai dan kelincahan si penari, lalu secara spontan membuat lirik lagu dari melodi gendang yang mengiringi sang gadis. Sejak saat itu, tarian dengan iringan irama gendang seperti yang dibawakan oleh sang gadis disebut Poco-poco. Lirik lagunya dibuat dalam bahasa Ternate yang memiliki kesamaan pada beberapa kata dengan bahasa Manado. Dalam bahasa Ternate poco-poco adalah julukan untuk bayi yang “chubby” lucu, pipinya montok, dan menggemaskan, tetapi oleh pencipta lagunya dibalik hingga terkesan sang penari lah yang poco-poco //ngana pe bodi poco-poco//.

Gerakan tari Poco-Poco terinspirasi dari senam para tentara yang bergerak masing-masing dua langkah dari kiri ke kanan lalu mundur kemudian memutar. Mereka melakukan gerakan senam sambil memegang senjata, menggunakan kaos oblong dan celana panjang khas tentara. Itulah sebabnya dalam tarian poco-poco kedua tangan ditekuk seolah sedang membawa sesuatu, karena salah satu cara senam dengan senjata adalah diletakkan di antara kedua siku. Poco-Poco yang semula hanya dikenal di lingkungan TNI dan Polri sebagai gerakan untuk senam pagi perlahan mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Gerakan yang lincah dan mudah bahkan menjadikannya sebagai senam irama di sekolah-sekolah. Tarian Poco-poco makin dikenal sejak stasiun televisi TVRI Jakarta mulai menyiarkan program dengan nama Dansa Yo Dansa. Seiring waktu gerakan tari Poco-poco terus berkembang dan banyak dikombinasikan dengan tarian tradisional, misal gerakan tari Yospan dan Wayase dari Papua, atau permainan bahu dan tangan tari Jaipong asal Jawa Barat. Gerakan Poco-poco juga sering dibawakan oleh sanggar seni tari modern dengan berbagai variasi, baik gerak maupun lirik lagu pengiringnya. Tari kreasi baru memang diperbolehkan melakukan variasi gerakan sesuai keinginan koreografer, tetapi esensi tari dan gerak dasarnya tetap harus dipertahankan.

Gerak tari Poco-poco didominasi oleh pola langkah dengan variasi pengolahan ruang yang selalu berganti arah. Langkah patah-patah dengan hitungan 1-2-3-4, mengikuti irama lagu yang cenderung riang khas masyarakat Ambon. Dalam perkembangannya gerakan tari poco-poco dibakukan oleh Berthy Tilarso, yaitu sebanyak enam gerakan utama dan menjadi tarian yang berkembang di kalangan militer. Kemiripan di dalam setiap gerakan tersebut adalah langkah kaki yang dimulai dengan melangkah ke kanan kemudian kembali lagi ke kiri. Selanjutnya melangkah ke belakang dan kembali lagi ke depan. Gerakan tersebut dilakukan secara berulang ke empat arah mata angin dengan dua kali putaran yang berlawanan arah dengan jarum jam. Terdapat gerakan perpindahan sederhana yang disisipkan di setiap dua gerakan utama. Lagu pengiringnya adalah lagu Poco-poco yang makin melejit setelah dinyanyikan oleh penyanyi asal Ambon, Yopie Latul, di tahun 1995.

Tari Poco-poco yang mulai meredup menggeliat kembali jelang pelaksanaan Asian Games 2018 lalu. Pada tanggal 5 Agustus 2018 diadakan senam irama Poco-Poco yang melibatkan sekitar 65.000 orang, sebagai upaya mensosialisasikan penyelenggaraan pesta olah raga akbar se Asia di Jakarta dan Palembang. Para peserta berdiri berjajar dari mulai lapangan Monumen Nasional lalu di sepanjang jalan Medan Merdeka menyambung ke jalan M.H. Thamrin - Sudirman hingga Senayan. Kegiatan ini berhasil memecahkan rekor dan tercatat di Guinness World of Record (GWR) sebagai Tari Poco-Poco dengan peserta terbanyak di dunia. Tari Poco-Poco yang merupakan perpaduan antara olahraga dan seni budaya, mengandung nilai-nilai sportivisme, semangat, dinamis, serta spirit kebersamaan dalam gelora gerak dan rampak.