Pencak Silat, Seni Tari

Pencak Silat adalah seni bela diri yang sejak lama telah dikenal luas di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filiphina Selatan, Thailand Selatan, dan wilayah lainnya yang mengusung budaya Melayu. Pencak Silat awalnya hanya cara untuk membela diri dengan tangan kosong tetapi kemudian berkembang dengan penggunaan senjata tradisional. Di beberapa daerah pencak silat selain sebagai pertahanan diri juga berfungsi sebagai kesenian yang ditampilkan pada pertunjukan-pertunjukan tertentu atau upacara-upacara adat, misal  tari randai dari Sumatera Barat.

Tari Pencak Silat sebenarnya merupakan adaptasi dari gerakan-gerakan silat yang dahulu sengaja ditarikan (kembangan) untuk mengelabui Belanda. Masa itu segala bentuk olah raga bela diri dibekukan dan dilarang karena bagi Belanda dianggap membahayakan keberlangsungan mereka di negeri jajahannya. Silat sebagai salah satu jenis bela diri tradisional memang  menjadi andalan melawan penjajah asing. Alasan itulah yang menyebabkan latihan silat dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dalam lingkup masing-masing keluarga besar hingga kemudian melahirkan banyak kekhususan gerak. Saat berlatih di ruang terbuka mereka memainkan silat dengan gaya tari diiringi musik sehingga Belanda terkelabui dan tidak melarangnya.

Tari Pencak Silat di Betawi bisa dikatakan baru berkembang setelah penyelenggaraan Festival Tari Pencak Silat tahun 1979. Pencak Silat Betawi tidak mengandung unsur seni gerak yang kaya, terutama jika dilihat dari unsur gerakannya sebagai tari. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian pelaku silat Betawi yang selama ini mementingkan “isi”. Dalam kehidupan masyarakat Betawi ilmu agama dan ilmu “maen pukulan” atau silat adalah sesuatu yang wajib bagi anak laki-laki, sehingga fokus mereka memang hanya “isi”. Kondisinya berbanding terbalik dengan Pencak Silat Sunda yang kaya variasi gerakan tari atau biasa disebut “ibingan”. Pencak silat Betawi terdiri atas gaya-gaya yang merupakan sikap dan gerak untuk menyerang serta membela diri dalam sebuah pertarungan. Bagi mereka gerakan-gerakan anggota badan dalam garis dan pola yang lurus menggunakan permainan tangan, badan, bahu, dan dada, sudah tampak manis. Gerakan tari dalam silat terdapat pada “kembangan” yang biasanya menjadi selingan di antara gerakan saling serang, digunakan untuk mengelabui musuh dan mencuri nafas serta mengumpulkan tenaga untuk kembali melanjutkan pertarungan. Kembangan mengandung unsur improvisasi gerak yang dapat melahirkan gerakan-gerakan sebagai seni. Bentuk gerak kembangan tergantung masing-masing aliran dan pelaku silatnya sendiri. Tari Belenggo yang lebih dahulu hadir dalam khasanah tari tradisional Betawi misalnya, mengambil gerakan-gerakan pencak silat atau maen pukulan dalam tariannya. Latar belakang penguasaan pencak silat sang penari mempengaruhi gerakan yang ditampilkan. Penari Belenggo yang lebih menguasai silat gaya Cimande akan membawakan tarian dengan gerakan yang  berbeda jika dibandingkan penari berlatar belakang gaya Cikalong.

Tari Pencak Silat Betawi banyak mendapat pengaruh dari Pencak Silat Sunda terutama musik serta lagu-lagu pengiringnya, dan pemanfaatan kembangan semisal pukulan gendang Tepak Dua atau Tepak Tiga. Irama Tepak Dua biasanya banyak variasi gerak tangan dan lengan serta permainan bahu, sedangkan Tepak Tiga mempunyai variasi gerak yang membutuhkan lebih banyak komposisi ruang. Tepak Tiga sendiri bisa divariasikan dalam gerak lambat, cepat, atau kombinasi keduanya, mirip gerakan pada tari Ketuk Tilu.  Musik pengiring Tari Pencak Silat Betawi cukup bervariasi. Gambang kromong dan rebana biang masih menjadi mayoritas terutama yang cukup kuat pengaruh budaya peranakan Tionghoa-nya seperti di Jakarta Barat. Musik Ibing Sunda dominan di wilayah yang berdekatan dengan Jawa Barat seperti Jakarta Timur dan Selatan. Kelompok Putra Betawi pimpinan Utama di kawasan Kayumanis dan Mamat di Cirendeu, menggunakan gendang pencak khas Sunda, tetapi hanya berfungsi sebagai pembawa irama saja, sedangkan pada tari Silat Sunda gendang pencak selain menjadi instrumen pembawa irama musik juga pengatur tempo dan tekanan pada gerakan-gerakan tariannya. Kelompok Silat Sabeni bahkan mulai memperkenalkan musik Sambrah sebagai musik pengiring dalam Festival Tari Silat Betawi tahun 1979, yang diadakan oleh Pemda DKI Jakarta dan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). Musik “Sambrah” atau “Samrah” digunakan di wilayah yang kental dengan budaya Arab-Melayu seperti Tanahabang. Tari Pencak Silat Betawi tidak mempunyai kepakeman karena tergantung aliran atau gaya yang diikuti penarinya masing-masing. Hal ini disebabkan banyaknya aliran silat Betawi seperti aliran Kwitang, aliran Tanah Abang, dan aliran Kemayoran, dengan gaya tari yang terkenal antara lain gaya seray, pecut, rompas dan bandul.

Pakaian yang dikenakan penari Pencak Silat hampir sama dengan pesilat Betawi pada umumnya, yaitu kaos oblong, baju tikim (Hokkian: tui kim) dan celana pangsi (Hokkian: phang si) yang diadaptasi dari pakaian tradisional orang Tionghoa. Baju tikim kemudian berkembang menjadi baju sadariah dan baju koko. Sarung dan peci sebagai perlengkapan sholat yang menjadi identitas ke-Betawian juga dikenakan penari Pencak Silat Betawi. Ada dua gaya pemakaian sarung, pertama dikalungkan atau digantungkan di pundak, kedua digulung-gulung kemudian diikatkan di pinggang. Dalam silat sebagai bela diri, cara pemakaian seperti ini akan memudahkan jika sewaktu-waktu diperlukan untuk mengantisipasi serangan. Posisi sarung yang digantungkan di pundak kemungkinan mengadaptasi cukin (syal putih), yang dikenakan jago-jago kuntao Tionghoa peranakan di Betawi, sebagai tanda bahwa mereka mahir maen pukulan. Pada perkembangannya gaya memakai sarung dengan cara digantungkan di pundak menjadi bagian dari tradisi busana Betawi. Perlengkapan lainnya adalah sabuk atau gesper haji, yang berfungsi sebagai ikat pinggang dan menahan celana agar saat bergerak tidak turun. Penggunaan gesper atau ikat pinggang bermanfaat untuk menjaga perut agar organ bagian bawah tidak mengalami gangguan saat melakukan gerakan bawah.

Tari Pencak Silat menurut sebagian tokoh bisa menjadi penggugah semangat anak-anak muda untuk belajar silat yang saat ini sudah mulai menurun, sementara pencak silat sebagai olah raga bela diri tradisional Indonesia tetap harus dipelihara agar tidak kalah dengan yang impor seperti karate, taekwondo, dan Thai boxing. Festival Tari Pencak Silat di tahun 1979 turut menggugah kesadaran para tokoh persilatan Betawi yang semula hanya mengajarkan “isi” dalam bentuk jurus-jurus, untuk juga mengolah gaya jurus masing-masing menjadi tarian. Dalam penutupan perhelatan olahraga akbar se-Asia, Asian Games 2018, para penonton pun dibuat terpukau oleh jurus-jurus silat Betawi, yang diperagakan oleh seratus orang pesilat dari IPSI DKI Jakarta dengan iringan alunan musik Betawi.