Payung, Seni Tari

Tari Payung tergolong tarian Melayu versi Minangkabu yang dahulu menjadi bagian dari pertunjukan “toonel” atau sandiwara, dan sering ditampilkan dalam acara memperingati hari-hari besar Kerajaan Belanda, ulang tahun sekolah, dan hari  wisuda. Sekitar tahun 1920-an tari Payung telah banyak ditampilkan di nagari-nagari dan mendapat sambutan masyarakat. Awalnya tarian ini dibawakan oleh penari laki-laki, tetapi oleh Sitti Agam diubah menjadi perempuan seluruhnya termasuk pemain musik. Hal ini disebabkan adanya larangan bagi perempuan untuk beraktivitas di luar “rumah gadang”, terlebih menari. Di masa itu norma agama berlaku sangat kuat, segala kegiatan termasuk berkesenian dilakukan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Sitti Agam menjadi perempuan terhormat pertama di Minangkabau yang menari di atas pentas, sebagai penata tari sekaligus sutradara pertunjukan “toonel” dengan seluruh penari dan pelakon berikut pemusiknya adalah perempuan. Koreografi tari Payung yang dibuatnya bertema pergaulan muda-mudi, dengan kisah tentang sepasang muda-mudi pergi bertamasya ke Sungai Tanang, yaitu sebuah tempat rekreasi pemandian di Bukittinggi. Penggambarannya sesuai dengan kehidupan anak muda masa itu, terutama anak-anak yang sekolah dan tinggal di kota terlepas dari kungkungan adat.

Tari Payung kemudian mengalami perkembangan yang luar biasa dengan variasi gerakan berbeda. Hal ini disebabkan sifat bebas tari Payung yang tidak memiliki pakem atau gerakan baku. Siapapun boleh mengkreasikannya sesuai kebutuhan, hanya tema tarian harus tetap percintaan dengan lagu pengiring Babendi-bendi, sesuai suasana yang digambarkan oleh Sitti Agam. Koreografi tari Payung yang banyak ditampilkan sekarang adalah kreasi Syofiany Yusuf, yang awalnya tetap mempertahankan perempuan seluruhnya sebagai penari, tetapi kemudian diubah menjadi berpasangan dengan penari perempuan dan laki-laki. Biasanya dibawakan berkelompok oleh tiga pasangan. Tari Payung kini tak lagi menjadi bagian dari pertunjukan sandiwara, melainkan tarian lepas yang bisa ditampilkan dalam acara apapun, seperti penyambutan tamu, hiburan dalam pesta rakyat, pameran, atau festival seni dan budaya baik di dalam maupun luar negeri.

Gerakan tari Payung dipengaruhi oleh gerak tari Melayu seperti gerak lenggang, lenggok, dan joget; sedangkan gerak tari Minangkabau diwakili oleh gerak pencak silat yang dilakukan oleh penari laki-laki. Struktur tari Payung ala Syofiany adalah:

  1. Bagian awal: (a) Penari perempuan, urutan gerakannya adalah ayun puta, ayun puta payuang, layok payuang ka tangah puta, payuang sibak-puta payuang dalam, mamatiak bungo-langkah silang balakang, dan sibak payuang-maagiah payuang ka panari putra: (b) Penari laki-laki, maliriak payuang-jalan,  ayun payuang bapasangan, silek puta tusuak, roda-mamayuang, maelo puta dalam, dan maelo puta lua.
  2. Bagian tengah atau isi tari: Gerak penari perempuan terdiri dari maliriak salendang, jalan, lingkaran 4 bapasangan, mangirai salendang-puta, ayun salendang kiri kanan-puta kiri, ayun salendang kiri kanan-puta kanan, ayun salendang sampiang, jalan kiri kanan, dan jalan kamuko maju mundur.
  3. Bagian akhir: Penari perempuan dan laki-laki bergerak bersamaan, urutannya jalan bapasangan step c, komposisi Bendi bapasangan step s, langkah geser salendang lingkaran (perempuan), bapasangan jalan lingkaran (laki-laki), rantang payuang puta, ayun salendang maju step s, ayun salendang maju-sambah (lelaki), ayun payuang maju-sambah (lelaki).

Setiap gerakan dalam tari Payung memiliki makna. Gerakan penari yang memegang payung terbuka kemudian memutar-mutarkannya menggambarkan sedang mengendari kereta atau bendi, penari laki-laki memayungi kepala penari perempuan adalah representasi perlindungan seorang laki-laki terhadap kekasih atau isteri yang dicintainya, serta selendang yang digunakan penari perempuan menjadi perlambang ikatan cinta suci sekaligus kesetiaan dan kesiapannya membina rumah tangga bersama laki-laki pilihannya.

Penari mengenakan pakaian tradisional Melayu khas Minang berupa baju kurung atau kebaya, bawahan kain songket, rambut disanggul, dan hiasan kepala berbentuk mahkota atau “suntiang” rendah berwarna keemasan. Penari laki-laki memakai baju lengan panjang “teluk belanga” dengan model kerah “cekak musang” serta bawahan celana panjang berwarna senada, kain sesamping berbahan songket, dan penutup kepala khas Minang atau kopiah (peci) hitam. Payung dan selendang menjadi properti wajib dalam tarian ini. Musik pengiring tari Payung antara lain talempong, akordion, biola, dan gitar. Irama yang dibawakan berlanggam Melayu dengan ritme bervariasi, pelan di awal kemudian menjadi cepat di bagian akhir dan kembali melambat saat tarian berakhir. Tarian ini juga diiringi sebuah lagu bernuansa Melayu yang berkisah tentang perjalanan bulan madu sepasang suami isteri ke Sungai Tanang “Babendi-bendi ke Sungai Tanang”. Lirik dan artinya sebagai berikut:

Babendi-bendi ka sungai tanang aduhai sayang (2x)

Berbendi-bendi ke sungai tanang aduhai sayang

Singgahlah mamatiak singgahlah mamatiak bunga lembayung (2x) 

Singgahlah memetik singgahlah memetik bunga lembayung

Hati siapo indak ka sanang aduhai sayang (2x) 

Hati siapa tidaklah senang aduhai sayang

Maliek rang mudo maliek rang mudo manari payung (2x) 

Melihat orang muda melihat orang muda menari payung

Hati siapo hati siapo indak ka sanang aduhai sayang (2x)

Hati siapa tidaklah senang aduhai sayang  

Maliek si nona maliek si nona manari payung (2x)

Melihat si nona melihat si nona menari payung

Tari Payung tidak pernah dipertunjukan dalam upacara adat melainkan hiburan semata, dan dianggap bukan tarian tradisional “anak nagari” Minangkabau. Hal ini disebabkan tari Payung tidak pernah melekat dengan tradisi yang berlaku dalam adat istiadat Minangkabau. Tari Payung hanya hadir di lingkungan masyarakat kota dan nagari, sedangkan di lingkungan masyarakat tradisional yang umumnya petani tarian ini tidak mendapatkan tempat.