Panen Keturut, Seni Tari

Tari Panen Keturut menjadi perwakilan Provinsi DKI Jakarta dalam ajang bergengsi tingkat nasional Parade Tari Nusantara tahun 2017, yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Parade Tari Nusantara adalah sebuah kompetisi yang dimaksudkan sebagai sarana apresiasi masyarakat terhadap seni tari daerah, untuk melestarikan, mengembangkan dan mengenalkan kebudayaan Indonesia kepada generasi muda.

Tarian ini diciptakan oleh Yuliana dan Rr. Roeri Handayani, yang berkolaborasi dengan Dede Sunarya sebagai penata musik, serta Lilis Suryani dan Faridyah Faisal selaku penata rias dan busana. Tari Panen Keturut mengangkat tata cara adat dan tradisi masyarakat Betawi di daerah pinggiran dalam meluapkan kegembiraan dan rasa syukur atas hasil panen yang didapat. Kegembiraan, doa dan harapan tertuang dalam suasana perayaan upacara pesta panen. Sayangnya upacara adat ini bisa dibilang sudah tidak bisa dilihat lagi, karena lahan pertanian telah berubah menjadi perumahan, pusat perbelanjaan, jalan raya, dan lain sebagainya. Bahkan perumahan elit Pondok Indah di Jakarta Selatan dahulunya (sekitar tahun enam puluhan) adalah persawahan. Saat merayakan pesta panen, masyarakat Betawi pinggiran mengadakan adu ketangkasan satu lawan satu yang diikuti oleh para lelaki. Apabila ada yang terluka justru mereka senang karena merupakan pertanda panen yang akan datang akan jauh lebih baik lagi. Syair yang menggambarkan suasana gembira penuh pengharapan ketika ada yang terluka pun dinyanyikan oleh sinden: Padi Lulut si Padi Mayang // Padi Cerai tangkai ladahnya // Panen Keturut ati jadi girang // Puji syukur minta berkah-Nya.

Tari Panen Kelulut menampilkan kelincahan para penari perempuan yang sedang bergembira mengumpulkan hasil panen dalam bakul-bakul, gerakan silat Betawi yang disajikan sejak awal oleh penari laki-laki, dan gerakan khas tari Betawi lainnya. Iringan musik dengan tempo cepat dalam irama yang riang gembira menambah kemeriahan suasana pesta panen. Busana yang dikenakan penari perempuan berupa kebaya lengan pendek sebatas siku yang sedikit terbuka di bagian depan tetapi  mengenakan pelapis di bagian dalam. Bawahannya berupa celana panjang lebar di atas mata kaki, yang dimaksudkan untuk memudahkan bergerak karena penari perempuan juga melakukan gerakan silat. Untuk mempercantik tampilan di bagian depan dan belakang diberi penutup dari kain batik Betawi, yang juga berfungsi untuk menutup tubuh bagian depan dan belakang (panggul). Ampreng dikenakan di atas kain batik yang juga berfungsi sebagai penutup tubuh bagian depan. Sisi kiri dan kanan diberi tambahan kain hitam sehingga jika dilihat secara keseluruhan seperti rok lebar. Rambut di konde cepol dan diberi hiasan modifikasi. Kedua telinga mengenakan anting. Busana penari laki-laki berupa baju dan celana model pangsi. Baju pangsinya sewarna dengan busana penari perempuan sedangkan celananya model batik, mengenakan ikat pinggang besar, dan ikat kepala. Properti tari yang digunakan selain bakul adalah tongkat bambu berukuran pendek semacam toya, dan pikulan untuk membawa padi sebagai alat dalam adu ketangkasan.