PANCORAN

Terletak di Kelurahan Glodok, Kec. Tamansari, Kotamadya Jakarta Barat. Pancoran berasal dari kata pancuran. Di kawasan itu pada tahun 1670 dibangun semacam waduk atau "aquada", tempat penampungan air dari Kali Ciliwung, yang dilengkapi dua buah pancuran terbuat dari batang kayu yang dilubangi. Kedua pancuran itu mengucurkan air dari ketinggian kurang lebih 10 kaki.

Dari sana air diangkut dengan perahu oleh para penjaja yang menjajakannya di sepanjang saluran-saluran (graehten) di kota. Dari tempat itu pula kelasi-kelasi biasa mengangkut air untuk kapal-kapal yang berlabuh agak jauh di lepas pantai, karena di pelabuhan Batavia kapal tidak bisa merapat. Karena banyak yang mengambil air dari sana, sering kali mereka harus antri berjam-jam. Tidak jarang kesempatan itu mereka manfaatkan untuk menjual barang-barang yang mereka selundupkan.

Dari penampungan di situ kemudian air disalurkan ke kawasan kastil, melalui Pintu Besar Selatan. Rancangannya sudah dibuat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Durven (1728-1732), tetapi baru dilaksanakan pada awal masa Van Imhoff berkuasa (17431750). Dengan demikian pengambilan air untuk keperluan kapal menjadi tidak terlalu jauh sampai melewati kota. Dengan adanya saluran air dari kayu itu, maka di halaman Balaikota (Stadhuis) dibuat pula air mancur. Sisa-sisa salurannya masih ditemukan pada tahun 1882, yang ternyata berbentuk balok kayu persegi empat yang dilubangi, disambung-sambung satu sarna lain, direkat dengan timah (De Haan 299-300).

Pancoran berarti air mancur atau semprotan air. Diambil dari dua pipa kayu di ujung utara Molenvliet (di sisi selatan Jembatan Glodok yang berlawanan) yang menyemburkan air minum (1670). Warga Batavia dan pelaut yang singgah harus antri untuk mengisi tong air. Dalam antrian, para pelaut sering menyelundupkan barang terlarang dalam tong atau meneari pelacur lokal. Mereka membawa perahu kecilnya berlayar di sepanjang Kali Besar melewati Perahu Kecil untuk sampai Pancoran.

Sungai di sepanjang Jl. Pancoran dipadatkan dan Jembatan Glodok dibongkar pada awal abad ke-20. Pancoran utara dulu juga merupakan bagian dari Kanaal Molenvliet yang pertama kali dibangun. Jl. Pancoran bersimpangan dengan ujung selatan Jl. Pintu Besar Selatan dan Molenvliet (Jl. Gajah Mada dan Jl. Hayam Wuruk). Ujung utara jalan membentang melalui jembatan Toko Tiga.