Nurul Falah, Wisata Religi

Masjid Jami’ Nurul Falah terletak di Jalan Karang Tengah Raya RT003/RW03, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Masjid ini dibangun dengan konsep terbuka selama 24 jam bagi semua umat. Tidak mengherankan jika pada siang hari Masjid Jami Nurul Falah dikunjungi banyak pelintas yang hendak beribadah, sekaligus beristirahat sejenak dari sengatan matahari. Selain letaknya yang persis di tepi jalan raya utama, yaitu Jalan Karang Tengah Raya, bentuk atapnya yang unik menjadi daya pikat tersendiri. Masyarakat kerap menyebut masjid ini sebagai masjid keong karena bentuk atapnya yang memang mirip cangkang keong. Keunikan atapnya juga menjadikan Masjid Nurul Falah sebagai salah satu ikon masjid dalam penayangan adzan Maghrib di TVRI sekitar tahun 1990-an.

Masjid Nurul Falah berawal dari sebuah langgar kecil di dekat pertigaan Karang Tengah, yang terletak tidak jauh dari rumah guru Jaisan bin Riih, dan  masyarakat menyebutnya sebagai “Langgar Guru Jaisan”. Beliau dan isterinya, Fatimah, menjadikan langgar tersebut bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga mengaji dan mendidik anak-anak maupun orang dewasa, serta basis pertahanan dan perjuangan kemerdekaan. Dalam perkembangannya, karena kebutuhan masyarakat terhadap sarana ibadah meningkat, maka diputuskan membangun sebuah masjid meski masih terbuat dari kayu. Namun lahan yang terbatas menyebabkan pendirian masjid harus dipindah ke tempat lain yang lebih luas. Berdasarkan kesepakatan para tokoh dan ulama setempat masa itu diputuskanlah lahan di tengah-tengah antara rumah Guru Jaisan dan Guru Niran, yang telah diwakafkan seluas 400 m² oleh H. Nawi Bin H. Eri. Tahun 1952 berdirilah masjid yang diberi nama Masjid Karang Tengah, sedangkan Nurul Falah yang artinya sinar keberuntungan baru diberikan sekitar tahun 1960 oleh Ustadz Achmad Nairan.

Kekurangpahaman masyarakat masa itu menjadi tantangan tersendiri bagi takmir masjid, dimana mereka harus mendatangi satu persatu rumah warga agar mau ikut sholat Jum’at agar terpenuhi hukumnya sebanyak 40 orang. Saat itu jama’ah masjid masih sering mengulang shalat Jum’at dengan shalat Dzuhur karena tidak sah secara syar’i. Kerja keras dan keikhlasan akhirnya membuahkan hasil bahkan di tahun 1970-an masjid sudah tak mampu menampung jama’ah, hingga akhirnya direnovasi tahun 1971. Pada tahun 1984 masjid Nurul Falah kembali direnovasi. Dua orang insinyur, Both Soedargo dan Taufik, yang kebetulan adalah warga Karang Tengah ditunjuk sebagai arsitek dan pengawas teknis pelaksanaan pembangunan masjid. Dana pembebasan lahan dan pembangunannya dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat. Pada tanggal 13 Desember 1986 masjid ini diresmikan oleh Menteri Sekretaris Negara, Sudharmono S.H.

Masjid Nurul Falah terdiri dari bangunan utama berdenah lingkaran sebagai ruang sholat utama khusus laki-laki, dan bangunan tambahan berbentuk oval untuk tempat sholat jama’ah perempuan. Luas secara keseluruhan setelah pembebasan lahan sekitar untuk taman dan tempat parkir adalah 1.929 m². Atap masjid dibuat mirip cangkang keong dengan teknik ferrocement, dimana campuran semen dan pasir diaplikasikan pada rangka baja yang telah dibentuk. Teknik ini digunakan agar pembangunan dapat berjalan sesuai ketersediaan keuangan dan tidak mengganggu penanganan bagian bangunan lainnya. Kubah utama yang berukuran lebih besar terletak di bagian tengah atap, disekelilingnya terdapat 10 lekukan kubah sesuai jumlah malaikat yang umum dikenal. Tinggi kubah dari dasar lantai mencapai 17 m yang merujuk pada jumlah seluruh raka’at sholat fardhu, tanggal turunnya Al Qur’an pada 17 Ramadhan, dan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Menara masjid terletak di sisi timur laut dari posisi mihrab, tingginya 27 m, yang merujuk pada kejadian Isra Mi’raj pada tanggal 27 Rajab dimana perintah sholat lima waktu diterima Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ujung menara masjid diberi hiasan bulan bintang tetapi dengan posisi bintang berada di luar lingkaran bulan sabit. Jumlah 5 anak tangga di teras masjid menyiratkan jumlah sila dalam Pancasila, sedangkan 20 buah tiang yang berada di bagian luar dan dalam merujuk pada 20 sifat Allah. Tiang di bagian dalam masjid diberi 4 buah lampu yang melambangkan Khulafaur Rasyidin, para pemimpin Islam sepeninggal Nabi Muhammad yang terdiri dari Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khatthab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Ruang sholat utama terkesan lapang tanpa penghalang, karena 10 tiang penopang kubah yang ada di dalam ditempatkan di bagian pinggir. Posisi tiang membuat daya tampung jama’ah bisa maksimal hingga 600 orang di dalam, bahkan bisa 1.000 jika teras ikut digunakan. Di antara lengkungan kubah sisi dalam terdapat bidang segitiga yang dihias dengan kaligrafi berwarna keemasan dengan dasar hijau. Ruang mihrab berukuran lebar 3,5 m dengan kedalaman sekitar 2 m. Pada dinding mihrab bagian dalam terdapat hiasan kaligrafi timbul berwarna keemasan, serta jam digital penunjuk waktu-waktu sholat. Mimbar berbentuk permanen terbuat dari marmer dengan jam almari antik melengkapi ruang mihrab. Pada dinding di sebelah ruang mihrab terdapat hiasan kaligrafi timbul warna emas berlafadz Allah di sisi kanan, dan  Muhammad di sisi kiri. Kedua kaligrafi diberi bingkai timbul berwarna sama berbentuk wajik dengan lingkaran di bagian dalamnya. Seluruh dinding dilapisi keramik kecil warna putih untuk memudahkan pemeliharaan, sedangkan lantai masjid berupa marmer yang dilapisi karpet. Ruang wudhu dibuat sesuai sunah dengan menyediakan tempat duduk permanen di depan setiap kran, tetapi bagi yang tidak terbiasa juga disediakan tempat wudhu berdiri.