NGERUMPI, NILAI BUDAYA

Masyarakat Betawi modern saat ini sudah mengenal berbagai bentuk media. Ciri, bentuk dan sifat yang mirip dengan media yang digunakan oleh masyarakat Betawi tradisional juga masih digunakan oleh sebagian masyarakat Betawi modern, salah satunya dalam bentuk ngerumpi. Ngerumpi tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, namun kata tersebut merupakan bentukan baru yang berasal dari bahasa remaja Jakarta yang memiliki makna berbicara ke sana ke mari, bergunjing, atau mengobrol omong kosong, dan membicarakan objek tertentu atau tentang orang lain. Istilah ngerumpi muncul sekitar tahun 1990-an. Sebelum mengenal istilah ngerumpi, masyarakat Betawi tradisional mengenal kegiatan tersebut dengan istilah kongkow.

Ngerumpi dapat dilakukan di berbagai tempat umum maupun khusus, seperti di rumah, kompleks perumahan, restoran, kafe, kendaraan pribadi, kendaraan umum, radio, televisi, telepon, kantor, di berbagai ruang tunggu, di kampus, di sekolah, di pasar, di seminar, di rapat, di pesta, dan pada acara hari ritual tertentu. Dalam kegiatan ngerumpi, biasanya orang-orang membicarakan hal sepele berupa gosip dan isyu. Namun kegiatan tersebut memiliki beberapa fungsi, seperti sebagai ajang refleksi diri, sebagai bentuk kompensasi, sebagai ajang refreshing, dan rekreatif imajinatif yang spontan dan kesibukan dan kejenuhan sehari-hari, dan sebagai media komunikasi sesama. Selain itu, ngerumpi juga dapat berfungsi untuk menunjukkan eksistensi keakuan seseorang dalam berbagai situasi dan kondisi.

Saat ini kegiatan ngerumpi juga dimanfaatkan oleh beberapa stasiun televisi swasta sebagai sebuah acara yang ditayangkan setiap harinya di televisi. Hal tersebut memperlihatkan bahwa tradisi ngerumpi tidak hilang seiring perkembangan jaman. Meskipun saat ini kegiatan ngerumpi sudah tidak lagi secara tatap muka, namun kegiatan ngerumpi masih terjaga eksistensinya di kalangan masyarakat Betawi modern melalui media komunikasi berupa smartphone.