Nasi Goreng Mengkudu, Kuliner

Nasi goreng adalah hidangan yang sangat populer di Indonesia. Menu favorit bagi banyak orang yang bisa disantap kapan saja, sarapan, makan siang, makan malam, bahkan setelah lewat tengah malam sekalipun. Nasi goreng bisa ditemukan di dapur-dapur rumah tangga, warung kaki lima, pedagang gerobak yang berkeliling di pemukiman, dan juga rumah makan atau restoran berkelas.

Nasi goreng sebenarnya muncul dari kebiasaan orang Tionghoa yang tidak suka menyantap makanan dingin, dan larangan untuk tidak membuang-buang makanan. Nasi yang dingin kemudian diolah dengan cara digoreng dan diberi tambahan bahan campuran lain serta bumbu-bumbu untuk dihidangkan kembali di meja makan. Sejarah kuliner mencatat bahwa nasi goreng, atau hanzi dalam bahasa Tionghoa, sudah ada sejak 4000 SM dan menjadi salah satu menu penting dalam khasanah masakan tradisional Tionghoa. Nasi goreng kemudian menyebar ke Asia Tenggara bersama dengan datangnya orang-orang Tionghoa perantauan. Banyak di antara mereka yang kemudian tinggal menetap, dan menciptakan aneka nasi goreng menggunakan bahan campuran berbeda dengan bumbu-bumbu lokal. Perjalanan waktu kemudian menjadikan nasi goreng sebagai menu khas Indonesia. Entah sejak kapan nasi goreng menjadi begitu memasyarakat di Indonesia hingga setiap daerah mempunyai nasi goreng dengan kekhasannya masing-masing.

Betawi juga mempunyai nasi goreng istimewa selain nasi goreng kambing, yaitu nasi goreng mengkudu. Sayangnya varian nasi goreng ini kalah populer dan hanya ada di wilayah pinggiran Jakarta. Sepintas tampilannya mirip nasi goreng kampung biasa karena memang berbumbu sama, hanya saja nasi gorengnya diberi irisan daun mengkudu hingga nasinya  berwarna agak kehijauan. Tidak diketahui pasti mengapa daun mengkudu dijadikan bumbu nasi goreng, tetapi di kemudian hari terbukti bahwa daun mengkudu berkhasiat untuk kesehatan, di antaranya hipertensi dan kesehatan kulit. Nasi goreng mengkudu biasanya disajikan bersama acar mentimun dan emping, dengan tumis krewedan yang rasanya pedas, sedikit asam serta gurih sebagai menu pendampingnya. Krewedan adalah istilah masyarakat Betawi pinggiran untuk menyebut daging tetelan. Nasi goreng mengkudu dahulu sering disajikan sebagai menu sarapan hingga sekitar tahun delapanpuluhan, sayangnya di kalangan masyarakat Betawi saat ini menu sarapan istimewa yang sebenarnya berkhasiat untuk kesehatan sudah jarang hadir di meja makan.

Bahan:

  1. 400 gram nasi putih dingin
  2. 100 gram daun mengkudu, buang tulang daunnya, iris tipis
  3. 200 gram daging ayam, rebus, dan suwir-suwir
  4. 50 gram ikan asin gabus, potong dadu kecil
  5. 3 sendok makan minyak goreng untuk menumis
  6. 2 butir telur, buat dadar tipis, potong-potong

Bumbu yang dihaluskan:

  1. 1 sendok makan cabai rawit hijau iris
  2. 1 sendok makan cabai hijau iris
  3. 1 sendok makan bawang putih iris
  4. 1 sendok teh terasi
  5. 1 sendok teh garam

Pelengkap:

  1. Acar secukupnya
  2. Emping goreng secukupnya
  3. Bawang goreng

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak, tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum.
  2. Masukkan ikan gabus dan daging ayam, tumis hingga ikan asin dan daging setengah kering.
  3. Masukkan daun mengkudu, tumis sebentar hingga layu. Terakhir masukkan nasi, aduk dan masak hingga bumbu meresap. Angkat dan letakkan ke dalam piring saji.
  4. Hidangkan selagi hangat, lengkapi dengan taburan bawang goreng, irisan telur, emping, dan acar.