Nandak Ganjen, Seni Tari

Tari Nandak Ganjen adalah tari Betawi kreasi baru ciptaan Sukirman atau lebih dikenal sebagai Entong Kisam, seniman Betawi yang sudah menggeluti kesenian Gambang Kromong dan Topeng Betawi sejak tahun 1970. Saat ini Entong Kisam mengelola grup musik Gambang Kromong Ratna Sari (Ciracas, Pasar Rebo), dan menjadi pemerhati kelestarian kesenian Betawi. Awal penciptaan tari Nandak Ganjen sebenarnya adalah untuk memenuhi permintaan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1996 untuk menyelenggarakan acara Apresiasi Seni Pertunjukan. Pengembangan tari Nandak Ganjen menjadi seperti yang sekarang membutuhkan waktu sekitar 12 tahun, dan dikerjakan di Sanggar Ratna Sari milik orang tuanya. Tari Nandak Ganjen yang merupakan turunan dari tari Topeng Betawi membawa sisi komedi dari pertunjukan Topeng Betawi. Tarian bergaya jenaka ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi populer di kalangan anak-anak hingga mahasiswa.

Inspirasi tari Nandak Ganjen adalah sebuah pantun Betawi yang berbunyi  “Buah cempedak buah durian, sambil nandak cari perhatian”. “Nandak” dalam bahasa Betawi artinya menari, dan “Ganjen” artinya genit atau centil yang dimaknai sebagai sikap menggoda. Tari Nandak Ganjen yang diciptakan tahun 2000 ini memang menceritakan tentang seorang gadis belia yang baru beranjak dewasa atau ABG (anak baru gede). Dalam masa peralihan usia tersebut biasanya muncul keceriaan dan kegembiraan seorang remaja, disertai sikap sedikit memberontak yang menuntut kebebasan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa bertanya terlebih dahulu karena merasa sudah dewasa. Gayanya cenderung genit atau kecentilan, tetapi seringkali justru berujung pada kekonyolan-kekonyolan yang membuat orang tersenyum geli melihatnya. Misal seorang gadis remaja yang mulai belajar berdandan tanpa bertanya terlebih dahulu bagaimana cara menghias diri dengan benar agar hasilnya memuaskan. Akhirnya selesai berdandan si gadis bukannya terlihat cantik tetapi justru aneh karena dandanan yang terlalu “menor” sehingga lebih mirip ondel-ondel.

Gaya centil dan genit serta tawa canda gadis-gadis remaja kemudian dituangkan melalui gerak tari Nandak Ganjen. Sifat jenaka dalam tarian ini sejak awal sudah diperlihatkan melalui gerakan kaki dan tangan, putaran-putaran kecil, serta perpaduan goyang pinggul dengan gerak kepala dan bahu. Gerakan tari di bagian akhir bertambah jenaka dan ada kesan menggoda atau meledek, yaitu saat menggerakkan bahu ke depan tetapi kemudian ditarik kembali ke belakang, juga kombinasi hentakan pinggul dan musik pengiring sebelum masuk pada adegan yang menggambarkan sang gadis sibuk berdandan. Ekspresi wajah lucu dan genit dengan gestur menggoda menambah kejenakan tarian ini hingga memancing senyum orang yang melihatnya. Jika tari Nandak Ganjen dibawakan oleh penari dewasa, biasanya dilakukan sambil bernyanyi, sehingga selain olah gerak tubuh seorang penari juga dituntut untuk bisa melakukan olah nafas yang baik. Hal itu sangat penting agar  dapat menghasilkan suara yang bulat, utuh, dan keras. Musik pengiring tari Nandak Ganjen adalah “gambang kromong” yang terdiri dari gendang, kempul, gong, gong enam, kecrek, ningnong, tehyan, kongahyan, dan sukong.

Busana yang dikenakan penari Nandak Ganjen mirip busana Topeng Betawi karena tarian ini adalah turunan tari Topeng. Terdiri dari kebaya dengan pola tiga warna (merah, hijau, kuning) di bagian ujung lengan, toka-toka untuk menutupi bagian dada berupa kain yang disilangkan di dada atau variasi teratai yang melingkar di leher dengan panjang hingga ke bagian dada, kain “ampreng” untuk menutupi bagian perut hingga bawah lutut yang dikenakan di pinggang, “andong” yang menutupi bagian tubuh belakang dari pinggang hingga bawah lutut, ikat pinggang (pending) berwarna emas, dan selendang yang dikaitkan di ikat pinggang. Rambut di konde cepol dan diberi hiasan kepala yang bisa dikreasikan, misal bentuk sumpit-sumpit berwarna keemasan yang terinspirasi dari akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa.