Mutiara, Majalah

Majalah yang diterbitkan di Jakarta. Pertama kali muncul pada tangga129 Desember 1949, dua hari setelah penandatanganan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Penerbit harian ini pada waktu itu sudah lebih dulu menerbitkan majalah umum dan sastra Mutiara, yang mula-mula merupakan dwimingguan tetapi kemudian terbit tiga kali sebulan. Majalah ini berumur satu setengah tahun (April 1949-Agustus 1950).

Mutiara dipimpin Mochtar Lubis sebagai pernimpin redaksi dan Hiswara Darmaputra, yang kemudian digantikan Jullie Effendie, sebagai pemimpin umum. Para wartawan dan pengarang yang menjadi pembantu tetap di antaranya Chairil Anwar, Rosihan Anwar, Asrul Sani, Suardi Tasrif, Achdiat K. Mihardja, Utuy Tatang Sontani, Rivai Apin, Usmar Ismail, Sudjati S.A., Anas Ma'ruf, dan Teuku Sjahril. Tujuan majalah ini adalah menerbitkan tulisan-tulisan berisi pandangan yang memberikan semangat kepada perjuangan kemerdekaan di daerah pendudukan Belanda.

Para pengasuh Mutiara inilah yang kemudian diminta oleh pimpinan tentara Republik, yang baru saja memasuki Jakarta menjelang pengakuan kedaulatan, untuk menerbitkan surat kabar yang menyuarakan pandangan kaum republikein. Lahirlah surat kabar empat halaman Indonesia Raya, yang semula terbit sore hari sebelum diubah menjadi harian pagi agar dapat dicetak semalam suntuk. Pimpinan redaksi mulamula dijabat bersama oleh Hiswara Darmaputra dan Mochtar Lubis, sebelum Hiswara pindah ke harian Merdeka. Pimpinan umum dijabat Jullie Effendie, yang kemudian digantikan Hasjim Mahdan.

Harian ini sejak 16 Oktober 1955 dilengkapi surat kabar mingguan Masa & Dunia, yang isinya terutama berupa Feature. Mingguan yang berukuran sedikit lebih besar dari tabloid ini hanya berumur enam setengah bulan, sampai 29 April 1956. Tiga bulan kemudian, 29 Juli 1956, diterbitkan penggantinya, Minggu Indonesia Raya, yang isinya tidak hanya Feature melainkan juga berita aktual di halaman depan.