MUSEUM WAYANG

 

Museum yang berdiri di atas tanah bekas Gereja Belanda Baru. Terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta. Diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta H. Ali Sadikin. Tujuan utama pembangunan Museum Wayang adalah untuk membina kebudayaan nasional dan karakter bangsa Indonesia. Fungsi museum ini untuk menyimpan, merawat dan mempergunakan wayang dari berbagai wilayah di Indonesia maupun dari luar negeri.

Menyimpan koleksi batu-batuan, perabot rumah tangga dan gambar-gambar dari masa lalu yang berkaitan dengan Jakarta. Museum tersebut didirikan sehubungan dengan timbulnya kesadaran masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya masyarakat pecinta wayang, bahwa seni budaya yang tinggi dan kaya nilainya itu, tidak hanya untuk dimiliki saja tetapi juga harus terpelihara, dikembangkan dan dibina serta dimanfaatkan untuk bangsa dan negara.

Gedung Museum Wayang merniliki ciri arsitektur Barat {Eropa) dengan dinding tembok yang tebal, langit-langit yang tinggi, daun jendela atau pintu jendela lebar-lebar dan pintu yang terbuat dari kayu jati yang masif. Tediri dari dua lantai, bagian bawah dipergunakan untuk kegiatan kantor museum dan sekretariat Yayasan Nawangi. Di tengah-tengah ruangan terdapat taman yang tenang, mengenangkan pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda yang dikuburkan di tempat tersebut. Terlihat juga sebuah dinding tinggi dari batu bakar berwarna kecoklatcoklatan dan dikedua sisinya tercantum nama-nama gubernur-gubernur jenderal yang pernah dikuburkan.

Museum Wayang menempati sebuah bangunan tua bergaya Eropa, yang dahulu merupakan gereja bagi orang Belanda di Indonesia, dan dipugar sekitar tahun 1736 menjadi bangunan gereja baru. Kemudian bangunan gereja itu dibeli oleh suatu perusahaan Belanda dan dijadikan gudang. Gudang ini kemudian dibeli kembali oleh pemerintah Belanda untuk dijadikan museum, karena di dalam bangunan itu terdapat kuburan beberapa pejabat tinggi Belanda dan beberapa benda peninggalan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang memerintah dari tahun 1618-1622 dan 1627-1629. Pada tahun 1937 gedung ini berubah menjadi museum, dan dinamakan Museum Oud Batavia. Setelah Kota Batavia berkembang menjadi Jakarta, koleksi di Museum Oud Batavia dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta, yang letaknya berseberangan dengan museum sebelumnya. Atas prakarsa Gubernur Ali Sadikin, Museum Batavia Lama ini dijadikan Museum Wayang.

Di taman Museum Wayang juga terdapat batu nisan Gubernur Jenderal Abraham Patras dan Willem van Outhoorn bersama isterinya Elisabet van Heyningen. Terdapat juga batu nisan dengan lambang halus dari bekas gubernur Formosa, yaitu Cornelis Cesaer beserta isterinya Anna Ooms, kemudian batu sederhana Maria Caen dan saudara laki-lakinya Anthoni Caen. Disamping itu masih terdapat batu nisan lainnya yang telah dipindahkan ke bekas kuburan yang kemudian menjadi Taman Prasasti di Jalan Tanah Abang. Beberapa diantaranya ditandai HK singkatan dari Hollandse Kerk atau Gereja Belanda. Di seberang taman terdapat kuburan Jan Pieterzoon Coen yang meninggal pada tahun 1634 serta pembantu-pembantunya.

 

Latar Belakang dan Sejarah

Gedung Museum Wayang telah banyak mengalami perombakan. Gedung yg berarsitektur klasik Eropa/ kolonial ini, awalnya dibangun pada tahun 1640 sebagai gereja dengan nama de Oude Hollandse Kerk. Pada tahun 1732 diperbaiki dan namanya diganti menjadi de nieuw Hollandse Kerk. Bangunan gereja ini pernah hancur total akibat gempa dan kemudian dibangun kembali oleh Bataviasche Genootshap van Kunsten en Wetenscappen.

Gedung ini lalu diserahkan kepada Stichting Oud Batavia pada tanggal 22 Desember 1939 dan dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum. Pada tahun 1957 gedung diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia, dan pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang selanjutnya pada tanggal 23 Juni 1968 diserahkan ke Pemerintah DKI Jakarta untuk dijadikan Museum Wayang yang peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 13 Agustus 1975.

Pameran

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Republik Rakyat Cina dan Kamboja. Hingga kini Museum Wayang mengkoleksi lebih dari 4.000 buah wayang, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, wayang beber dan gamelan. Umumnya boneka yang dikoleksi di museum ini adalah boneka-boneka yang berasal dari Eropa meskipun ada juga yang berasal dari beberapa negara non-Eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia. Selain itu secara periodik diselenggarakan juga pagelaran wayang pada minggu 2 dan ke 3 setiap bulannya.

Pada tanggal 7 November 2003, PBB memutuskan mengakui wayang Indonesia sebagai warisan dunia yang patut dilestarikan.

Program Museum
- Pameran khusus, ceramah/diskusi, penelitian
- Pagelaran wayang dan atraksi pembuatan wayang

Jadwal Kunjungan
- Selasa s/d Kamis    : 09.00 - 15.00
- Jumat                    : 09.00 - 14.30
- Sabtu                    : 09.00 - 12.30
- Minggu                  : 09.00 - 15.00

Lokasi Museum
Jl. Pintu Besar Utara No.27 Jakarta Barat