Museum Wayang, Wisata Sejarah

Museum Wayang terletak di kawasan bersejarah Kota Tua, tepatnya di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat. Kota Tua adalah sebuah kawasan pemerintahan Batavia di masa lalu dengan sejumlah bangunan kuno yang memiliki sejarah panjang, baik secara fisik maupun kisah yang melatarinya. Letak Museum Wayang tidak jauh dari Stasiun Kota dan Terminal Busway Kota, cukup ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit, hanya harus ekstra hati-hati saat menyeberang karena arus kendaraan yang cukup padat. Di Museum Wayang kita tidak hanya bisa mempelajari sejarah yang melatari pembangunannya, tetapi juga tentang penyebaran dan perkembangan wayang di Indonesia, yang bentuknya beragam serta memiliki filosofi masing-masing. Bangunannya terlihat sedikit “nyleneh” karena mirip rumah biasa yang berada di tengah-tengah kawasan pemerintahan masa itu.

Di atas lahan yang sekarang menjadi lokasi Museum Wayang, sebelumnya didirikan sebuah gereja bernama Gereja Salib atau Gereja Belanda Lama “de Oude Hollandsche Kerk” (1640-1732). Tahun 1733 gereja ini kemudian dibongkar dan direnovasi karena sebuah organ besar yang didatangkan langsung dari Belanda tidak bisa dipasang di dalamnya. Mereka pun membangun Gereja Belanda Baru “de Nieuw Hollandsche Kerk” setinggi 40 meter dengan atap berbentuk kubah di atasnya, yang mulai digunakan pada tahun 1736. Ketika terjadi gempa bumi tahun 1739 salah satu sisi tembok retak. Tidak kokohnya pondasi akibat kurangnya jumlah kayu dituding menjadi penyebabnya. Tahun 1808 Gubernur Jenderal Daendles kemudian memerintahkan bangunan gereja berdenah segi delapan itu untuk dijual, tanpa mengindahkan kesediaan jemaat yang bersedia membiayai perbaikannya. Padahal di area gereja juga terdapat banyak makam para pejabat tinggi Belanda dan VOC (18 Gubernur Jenderal), serta  orang-orang penting Belanda lainnya termasuk Jan Pieterszoon Coen yang makamnya ditemukan tahun 1934/1935. Tahun 1857 sebuah perusahaan bernama Geo Wehry en Co. sempat menggunakan tanah tempat bekas gereja utama dan membangun gudang serta kantor di atasnya.

Tahun 1912 bagian depan bangunan bekas gereja ini dibangun mirip dengan rumah kuno Batavia bergaya Neo-Renaissance, sebelum ditetapkan sebagai monumen pada 14 Agustus 1936 oleh pemerintah Hindia Belanda. Tahun 1937 sebuah organisasi perkumpulan ilmiah Belanda bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen membeli bangunan bekas Gereja Belanda Baru sekaligus tanah di sekitarnya. Pada tahun 1938 seluruh bagian dalam gedung ini dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah tinggal sebagaimana lazimnya di masa itu. Bangunan kemudian diserahkan kepada Stichting Oud Batavia untuk dijadikan museum, yang setelah selesai diberi nama de Oude Bataviasche Museum atau Museum Batavia Lama. Di halaman bagian dalam gedung ini dibuat sebuah Taman Kehormatan (Erehof) untuk mengenang para pejabat tinggi Belanda yang dimakamkan di lingkungan gereja pada masa itu. Blakenberg merancangnya di tahun 1939 dengan membuat prasati pada salah satu dinding dari batu bakar yang berwarna kecokelatan, tentang riwayat penggunaan lahan termasuk nama-nama para gubernur jenderal yang dimakamkan. Batu-batu nisan yang ditemukan saat pemugaran dan penggalian oleh OD (Oudheidkundige Dienst) atau Dinas Purbakala dipindahkan ke sebuah lokasi bekas pemakaman, yang kini menjadi Taman Prasati atau Museum Prasasti sekarang. Beberapa di antaranya diberi tanda “HK” singkatan dari Hollandse Kerk atau Gereja Belanda. Museum Batavia Lama kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer pada tanggal 22 Desember 1939.

Pada masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan, gedung museum tidak terawat sama sekali, karena fokus para tokoh bangsa saat itu adalah perjuangan untuk memerdekakan diri menjadi bangsa yang berdaulat. Dua belas tahun setelah proklamasi kemerdekaan 1945, tepatnya di tahun 1957, pemerintah menyerahkan gedung Museum Batavia Lama kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia. Namanya pun diubah menjadi Museum Jakarta Lama, yang kemudian menjadi Museum Jakarta pada 1 Agustus 1960. Museum ini kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 1968 untuk dijadikan Museum Wayang. Tujuh tahun kemudian, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, meresmikan dibukanya Museum Wayang pada tanggal 13 Agustus 1975.

Saat ini kawasan Kota Tua menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang cukup populer, bukan hanya bagi masyarakat Jakarta tetapi juga turis domestik dan mancanegara. Orang-orang dari daerah jika berkunjung ke Jakarta biasanya menyempatkan diri datang berkunjung. Selain bisa belajar tentang sejarah kota Jakarta dan arsitektur bangunan kolonial, kawasan ini berikut gedung-gedung tua di sekitarnya merupakan lokasi yang bagus untuk berfoto. Untuk berkeliling di area kawasan, banyak tempat penyewaan sepeda onthel yang hitungannya per jam dengan biaya yang cukup murah.

Alamat: Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat.

Waktu Kunjung:

  1. Selasa – Minggu: pukul 09.00 – 15.00 WIB
  2. Senin dan Hari Libur Nasional: tutup