MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK, WISATA SEJARAH

Salah satu destinasi  sejarah di kawasan Kota Tua yang menarik untuk dikunjungi adalah Museum Seni Rupa Dan Keramik. Terletak di Jalan Pos Kota No.2, Jakarta Barat, berseberangan dengan Museum Sejarah Jakarta atau dikenal juga dengan nama Museum Fatahillah. Lokasinya tidak jauh dari stasiun kereta api Jakarta Kota dan pemberhentian akhir moda TransJakarta, cukup berjalan kaki saja untuk bisa sampai ke Museum Seni Rupa Dan Keramik. Museum ini bisa menjadi referensi bagi peminat sejarah arsitektur dan seni. Bangunannya sendiri sudah sangat menarik, bergaya klasik  yang disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia.

Di masa awal, gedung ini oleh Pemerintah Hindia Belanda difungsikan sebagai Kantor Ordinaris Raad van Justitie binnen het Casteel Batavia (Dewan Peradilan Biasa dalam Benteng Batavia). Saat pertama kali berkantor di gedung Stadhuis (Balaikota) setelah badan ini didirikan tahun 1620, namanya adalah Ordinarisluijden vanden Gerechte in ‘t fort ofte Casteel (Petugas Peradilan Biasa di Benteng), kemudian dalam resolusi Pemerintah Agung bertanggal 10 September 1626 diubah dengan nama yang baru. Raad van Justitie menangani perkara-perkara yang melibatkan VOC atau pegawai-pegawainya, selain menjadi instansi naik banding untuk perkara perdata yang telah disidangkan dalam College van Schepenen (Pengadilan Bagi Golongan Swasta), serta perkara-perkara yang telah ditangani dalam pengadilan di luar Batavia. Prasasti berbahasa Belanda yang menyatakan gedung ini adalah kantor Ordinaris Raad van Justitie binnen het Casteel Batavia (Dewan Peradilan Biasa dalam Benteng Batavia) terdapat pada dinding depan bangunan utamanya. Bangunan dibuat bergaya neo-klasik agar keagungan dan kemegahannya dapat mencerminkan fungsi dari gedungnya itu sendiri. Arsitek yang merancangnya adalah W.H.F.H. van Raders, seorang insinyur kelahiran Curacao, Amerika Latin, yang merupakan anggota Koninklijk Institut van Ingenieurs di Den Haag. Pembangunannya memakan waktu hingga empat tahun (1866-1870), dan peresmiannya dilaksanakan pada 12 Januari 1870.

Gaya neo-klasik bangunan Museum Seni Rupa Dan Keramik diperlihatkan oleh serambi pintu masuk yang berpilar dan diberi atap (portikus). Pilar penunjang atap bergaya doriq yaitu tanpa lapik atau alas, tiang agak kokoh dan pendek, serta bagian atas atau kepala tiangnya (kapitel) sederhana tanpa hiasan. Di bagian atas deretan pilar terdapat dinding penopang atap dengan hiasan yang melintang (frieze) sepanjang  portikus. Frieze pada bagian depan serambi berupa metope (batu persegi empat yang polos) dan triglyph (persegi empat yang beralur-alur vertikal).  Bangunan ini berdenah segi empat, terbagi menjadi empat sayap dengan dua buah halaman tanpa atap di bagian dalamnya. Halaman semacam ini dikenal dengan istilah atrium, banyak dijumpai pada bangunan-bangunan di jaman Romawi kuno. Bangunan utama berada di bagian tengah, di sayap utara dan selatan masing-masing terdapat sebuah bangunan dengan halaman tanpa atap di antara masing-masing bangunan, bangunan sayap timur berada di bagian belakang, serta bangunan sayap barat berada di bagian depan bangunan utama yang dibatasi oleh sebuah pintu kayu dengan bagian serambi gedung.

Bangunan ini pernah menjadi markas tentara Belanda Koninklijk Nederlands Indische Leger  (KNIL), setelah Indonesia merdeka dimanfaatkan untuk asrama militer oleh Tentara Nasional Indonesia. Tahun 1967–1973 gedung bekas Kantor Dewan Kehakiman ini digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Barat.  Pada tahun 1976 diresmikan sebagai Balai Seni Rupa oleh Presiden Soeharto, dan menjadi tempat pameran berbagai karya seni. Setahun kemudian digelar pameran keramik dari berbagai masa dan lingkungan, yang sebagian besar merupakan sumbangan Wakil Presiden Adam Malik. Beliau sangat mendukung rencana memanfaatkan balai Seni Rupa sebagai tempat untuk memamerkan aneka karya seni. Akhirnya pada tahun 1990 Balai Seni Rupa resmi menjadi Museum Seni Rupa Dan Keramik, dibawah pengelolaan Pemerintah DKI Jakarta.

Koleksi seni yang dipamerkan di museum ini terdiri dari lukisan, patung, dan keramik. Lukisan yang dipamerkan terbagi dalam ruang-ruang yang mewakili perkembangan seni lukis Indonesia sejak kemunculan Raden Saleh di tahun 1800-an, Mooi Indie atau Hindia Belanda yang indah (1920-an), Persagi (1930-an), masa pendudukan Jepang (1942-1945), pendirian sanggar (1945-1950), masa kelahiran akademis realisme (1950-an), dan masa Indonesia Baru (1960-sampai sekarang). Koleksi seni rupa di antaranya Totem Asmat. Koleksi keramik berupa tembikar, terakota Majapahit, keramik asing (Thailand, Vietnam, Jepang, Cina), dan keramik kontemporer.

Waktu kunjung:

  1. Selasa - Minggu pkl. 08.00 - 17.00
  2. Senin & hari libur nasional tutup