MUSEUM SEJARAH JAKARTA, WISATA SEJARAH

Bangunan bersejarah dengan segudang kisah pilu yang mengiringi perjalanan terbentuknya kota Jakarta ini berada di kawasan Kota Tua, kota lama Batavia masa lalu yang menjadi cikal bakal Jakarta sekarang. Kawasan Kota Tua yang menjadi destinasi wisata sejarah dan lokasi favorit wisatawan untuk berfoto terletak tidak jauh dari stasiun kereta api Kota dan pemberhentian akhir moda TransJakarta. Jika dari kawasan seputar Jalan Merdeka atau Monas, bisa menggunakan bus pariwisata yang telah disediakan. Bis ini menunggu penumpang di depan gedung Balaikota yang menjadi kantor Gubernur DKI Jakarta, dan halte depan Museum Nasional Indonesia atau Gedung Gajah.

Gedung Museum Sejarah Jakarta menempati gedung bekas balaikota (stadhuis) di masa VOC dan Hindia Belanda. Masa pembangunannya memakan waktu hingga lima tahun, dimulai pada 23 Januari 1707 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn, dan diselesaikan tahun 1712. Meski demikian dua tahun sebelum pembangunan tuntas sudah diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck (1653-1713), putera pendiri Capetown, kota tertua di Afrika Selatan, Jan van Riebeeck. Sebatang papan kayu sebagai pemberitahuan riwayat gedung masih tersimpan dengan baik di Museum Sejarah Jakarta. Gedung Balaikota (stadhuis) ketiga ini dibangun di atas lahan yang juga pernah digunakan untuk mendirikan balaikota kedua (1627-1707) yang kemudian dirobohkan karena dianggap terlalu kecil dan sederhana. Dalam kurun waktu 1627-1640, salah satu ruangan Balaikota kedua pernah dipinjam untuk peribadatan karena gereja Belanda Lama atau Kruiskerk pembangunannya belum selesai. Sedangkan gedung balaikota yang pertama dibangun secara tergesa-gesa dan sangat sederhana pada tahun 1620, di tepi sungai Ciliwung yang sekarang menjadi Jalan Kalibesar Timur I. Bangunan ini hanya bertahan enam tahun karena dibongkar menjelang kedatangan pasukan  Sultan Agung, yang dimaksudkan agar pasukan Belanda lebih leluasa memandang sasaran tembak dan membidiknya.

Bangunan gedung balaikota ketiga terinspirasi oleh balaikota lama Amsterdam yang sekarang menjadi Paleis op de Dam. Bergaya neo klasik sederhana yang rancang bangunnya dikerjakan di galangan kapal W.J. van de Velde, dan kontraktor yang mengerjakannya bernama J. Kemmer dari Brandenburg (Jerman). Material bangunan yang diimpor antara lain batu alam untuk ambang pintu dari Tiongkok dan Koromandel, besi dari Jepang, kaca jendela dari Perancis, dan paku serta besi dari Belanda. Bangunan berlantai dua ini di tengah-tengah atapnya memiliki menara kecil yang cukup tinggi berbentuk segi delapan dengan kubah dan mahkota lantern (menara yang lebih kecil lagi di puncak kubah). Sayap barat dan timur bangunan digunakan sebagai penjara dan tempat tinggal para sipir. Basement di tengah-tengah gedung induk merupakan penjara tidak manusiawi dengan jendela kecil berteralis, langit-langit pendek, serta rantai pengikat yang ujungnya diberi bandul pemberat agar tahanan tidak melarikan diri. Banyak tahanan yang meninggal karena harus berdesakan di ruangan sempit bersanitasi buruk dimana tahanan sehat dan sakit dijadikan satu. Halaman belakang gedung balaikota ini juga menyimpan kisah mengerikan, tempat dimana terjadinya pembunuhan masal sekitar 500 orang Tionghoa yang tidak bersalah pada tahun 1740. Perisitiwa itu terjadi di masa pemerintahan Gubernur Jenderal A. Valckkenier yang berselisih paham dengan Gubernur Jenderal sebelumnya W. von Imhoff dalam mengatasi membludaknya imigran Tionghoa di Batavia masa itu.

Balaikota yang berada di tengah-tengah kota Batavia diperuntukkan sebagai kantor administrasi kota. Di lantai bawah terdapat kantor kesejahteraan anak yatim piatu, catatan sipil, urusan warisan dan para penjaga. Kantor terpenting di balaikota saat itu adalah Dewan Kotapraja (College van Schepenen) dan Dewan Pengadilan (Raad van Justitie), yang seharusnya menegakkan keadilan sesuai dengan patung dewi keadilan (Iustitia) di atas pintu masuk utamanya. Sebaliknyalah yang terjadi, banyak ketidakadilan dihasilkan dalam gedung ini karena semua orang belum dianggap berkedudukan sama di hadapan hukum. Wewenang Dewan Kotapraja mencakup semua perkara hukum pidana dan perdata antara wargakota dan persoalan hutang besar. Segala urusan mengenai kesejahteraan wargakota diputuskan dalam gedung ini, dan keputusannya dipasang dalam bahasa Belanda dan Melayu di pintu Balaikota. Banyaknya pembicaraan penting di dalam gedung ini menyebabkan munculnya julukan Gedung Bicara atau Bichalo dalam ucapan oran Hokkien. Dewan ini kemudian dibubarkan pada masa awal kekuasaan Inggris di Indonesia tahun 1812.

Dewan Pengadilan (Raad va Justitie) merupakan pengadilan tinggi pada masa VOC hingga akhir abad ke-19. Persidangan dilakukan di sayap timur gedung utama Balaikota, tetapi kemudian dipindahkan ke gedung Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di seberangnya pada tahun 1870. Sebuah bangunan bertingkat satu pernah didirikan di bagian belakang gedung Balaikota, diperuntukkan bagi mereka yang mampu membayar kamar tahanan sendiri. Rakyat biasa sangat membenci bangunan “penjara ekslusive” tersebut, karena rakyat yang belum tentu bersalah ditempatkan di lantai bawah tanah, di penjara utama dan terburuk masa VOC dengan langit-langit rendah, jeruji berlapis dua, serta lembab karena tak ada ventilasi udara. Untung Surapati, pejuang keturunan Bali, adalah salah seorang yang berhasil melarikan diri dari penjara Balaikota sekitar tahun 1670. Ia dipenjara karena melawan anak majikannya Pieter Cnoll, seorang pejabat dalam Kasteel. Pangeran Diponegoro, pahlawan Indonesia dari tanah Jawa, juga pernah ditahan di salah satu ruang di sayap kiri bangunan utama dalam perjalanan menuju pengasingannya di Menado (1830). Tahun 1846 penjara di Balaikota ditutup dan dipindahkan ke sebelah timur Jalan Hayam Wuruk yang ada diseberang kali di daerah Tangki, lokasi Pasar Lindeteves sekarang.

Balaikota juga pernah digunakan sebagai pusat milisi (schutterij) dari tahun 1620 sampai 1815, dibawah pimpinan ketua Dewan Kotapraja yang bertindak sebagai komandan. Milisi terdiri dari juru tulis dan warga kota Belanda lain, para mardijker (budak yang dimerdekakan), dan kompi-kompi pribumi dari suku yang berbeda-beda (antara lain Jawa, Bugis, Melayu, Bali).  Satu peleton milisi menjaga keamanan Balaikota pada malam hari dan siapapun yang mendekat dipukul begitu saja.  Balaikota menjadi saksi sejarah dikembalikannya Hindia kepada Belanda pada Agustus 1816 oleh Sir John Fendall, menandai berakhirnya pemerintahan sementara Inggris (1811-1816) yang saat itu dipegang oleh Sir Stamford Raffles. Pada tahun 1925 gedung Balaikota menjadi kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat sampai Perang Dunia II, sedangkan pemerintah kotapraja Batavia sudah pindah ke Tanahabang (1913) yang kemudian pindah lagi ke Medan Merdeka Selatan pada tahun 1919. Usai Perang Dunia II gedung ini digunakan sebagai markas tentara (Kodim 0503). Ali Sadikin berupaya mengosongkan gedung dan memugarnya kemudian menjadikan gedung bekas stadhuis ini sebagai museum yang menggambarkan sejarah kota Jakarta sejak masa prasejarah hingga runtuhnya VOC.

Waktu kunjungan:

  1. Selasa – Minggu 09.00 – 15.00 WIB
  2. Senin dan hari besar nasional tutup.