MUSEUM SATRIA MANDALA, WISATA SEJARAH

Museum Satria Mandala terletak di Jalan Gatot Subroto Kavling 14, Kuningan Barat, Jakarta Selatan. Tidak terlalu sulit untuk mengunjungi museum ini karena moda transportasi TransJakarta melewatinya. Museum Satria Mandala sangat layak dikunjungi para pemerhati sejarah dan dunia kemiliteran. Kisah tentang perjalanan panjang Tentara Nasional Indonesia (TNI), seragam yang pernah digunakan, tanda kepangkatan masing-masing kesatuan, dan peran sekolah militer dalam melahirkan prajurit-prajurit tangguh sebagai penjaga keamanan negeri, semuanya ditampilkan di museum ini. Diorama yang menggambarkan berbagai pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara Republik Indonesia di masa-masa awal paska proklamasi juga dihadirkan. Kedekatan dan kemanunggalan antara tentara dengan rakyat diperlihatkan melalui adegan dapur umum yang dibuka untuk kepentingan perang, serta pemukulan kentongan sebagai kode bagi masyarakat dan tentara di sekitar lokasi.

Koleksi senjata yang dipamerkan juga sangat menarik, karena bukan hanya hasil pampasan perang saja, tetapi juga bambu runcing dan keris, serta senjata buatan anak negeri. Masterpiece koleksi adalah tandu yang digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman saat bergerilya meski dalam keadaan sakit. Semua hal yang ditampilkan adalah untuk menggali jiwa kepahlawanan, penghargaan atas pengorbanan para pejuang yang telah berpulang, sikap hormat kepada para veteran perang yang masih hidup, serta nilai dan daya juang yang diharapkan dapat tertanam di benak para pengunjung sepulangnya dari museum. Rasa bangga sebagai anak bangsa akan meningkatkan nasionalisme, yang akhirnya menumbuhkan kesadaran bahwa mempertahankan keutuhan bangsa itu sifatnya mutlak dan menjadi tanggung jawab bersama.

Gedung yang difungsikan sebagai Museum Satria Mandala adalah bekas kediaman Ratna Sari Dewi, isteri presiden Soekarno, yaitu rumah dimana presiden Ir. Soekarno sempat dirawat selama 17 bulan sebelum akhirnya berpulang. Rumah itu sebelumnya dikenal dengan nama Wisma Yaso. Keputusan untuk membangun museum yang menyajikan secara khusus sejarah perjuangan TNI didasarkan pada pertimbangan perlunya pembinaan mental dan pewarisan nilai-nilai juang 1945, serta nilai-nilai luhur TNI. Renovasi dan pemugaran dimulai pada November 1971, sedangkan peresmian pembangunan tahap pertama dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 1972 oleh presiden Soeharto, yang kemudian memberi nama Satria Mandala untuk bangunan museum ini. Satria Mandala diambil dari bahasa Sansekerta yang bermakna lingkungan keramat para ksatria.

Sejarah TNI berawal dari hasil rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang memutuskan untuk membentuk tiga badan sebagai wadah penyaluran potensi perjuangan rakyat, yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Tidak lama setelah pembubaran tentara binaan Jepang, PETA dan Heiho, BKR membuka kesempatan  untuk bergabung, termasuk kepada mantan KNIL (tentara Belanda) serta pemuda-pemuda dari berbagai organisasi kepemudaan dan kelaskaran. Saat itu tugas BKR tidak terfokus pada penjagaan keamanan tetapi juga membantu keluarga korban perang dibawah koordinasi KNI yang memiliki cabang di berbagai daerah. Komunikasi yang sulit masa itu mengakibatkan tidak semua daerah mengetahui adanya pidato presiden yang menghimbau agar para pemuda bergabung dalam satu wadah BKR. Para pemuda membentuk laskar sendiri-sendiri untuk menjaga kedaulatan dan keamanan rakyat.

Saat tentara Sekutu datang ke Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda, menjadikan suasana genting dan dirasa mendesak untuk membentuk kesatuan tentara resmi pemerintah. Pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat pembentukan tentara kebangsaan bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Letnan Jenderal Oriep Soemohardjo kemudian ditunjuk menjadi Kastaf Umum dan bertugas membentuk tentara. Pembentukan TKR disambut hangat oleh para anggota BKR dan organisasi kepemudaan serta kelaskaran lainnya. Jenderal Soedirman kemudian diangkat secara resmi sebagai Pimpinan Tertinggi TKR pada 18 Desember 1945. Tentara Keamanan Rakyat berusia singkat, hanya 93 hari saja, karena pada tanggal 7 Januari 1946 melalui Penetapan Pemerintah No.2/SD 1946 namanya diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tujuan perubahan nama adalah untuk memperluas fungsi ketentaraan dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keamanan rakyat Indonesia. Tidak lama kemudian melalui Penetapan Pemerintah No.4/SD tahun 1946 tertanggal 26 Januari dikeluarkan maklumat penggantian nama Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia untuk memenuhi standar militer internasional. Tanggal 25 Mei 1946 Panglima Besar Jenderal Soedirman mengucapkan sumpah anggota pimpinan tentara mewakili semua yang dilantik.

Pada masa mempertahankan kemerdekaan, banyak rakyat yang membentuk laskar perjuangan sendiri-sendiri hingga tidak jarang mengakibatkan kesalahpahaman antara TRI dan badan perjuangan bentukan rakyat. Presiden Republik Indonesia pada tanggal 15 Mei 1947 kemudian mengeluarkan penetapan tentang penyatuan TRI dengan badan dan laskar perjuangan menjadi satu organisasi tentara. Akhirnya melalui Keputusan Presiden tanggal 3 Juni 1947 yang dimuat dalam Berita Negara Tahun 1947 No.24 TRI diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pucuk pimpinan dipegang oleh Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Soedirman.  Pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Desember 1949 memaksa perubahan nama TNI menjadi APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat), yang merupakan gabungan antara TNI dan KNIL. Setelah RIS dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1950 dan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, APRIS berganti nama menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Pada tahun 1962 kemudian diubah menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Terjadinya perubahan situasi dan politik di Indonesia pada tahun 1998 kemudian berimbas terhadap keberadaan ABRI. Tanggal 1 April 1999 TNI dan Polri secara resmi dipisahkan menjadi institusi yang berdiri sendiri.

Waktu berkunjung:

  1. Selasa – Minggu pukul 09.00 – 15.00 WIB
  2. Senin dan hari libur nasional: tutup