Museum Sasmitaloka Jenderal Besar Dr. A.h Nasution Jakarta, Permuseuman

Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. A.H Nasution merupakan salah satu museum yang awal mulanya kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati dengan keluarganya sejak tahun 1949 hingga beliau wafat pada 6 September 2000. Museum ini berada di Jalan Teuku Umar No 40, Menteng, Jakarta Pusat. Museum ini memiliki luas 2.000 meter persegi. Delapan tahun setelah Pak Nasution meninggal pada 29 Juli 2008 keluarganya pindah rumah. Kemudian kediaman ini direnovasi untuk dijadikan museum. Museum Nasional Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution diresmikan menjadi museum pada hari Rabu, 3 Desember 2008 (bertepatan dengan hari kelahiran Pak Abdul Haris Nasution) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Museum ini merupakan prasasti hidup dan kehidupan Jenderal Besar A.H. Nasution dan keluarga.

Kediaman Pak Nasution menyimpan banyak sekali sejarah dan karya juang yang dipersembahkan Pak Nasution kepada bangsa dan negara Republik Indonesia. Di tempat ini pula pada tanggal 1 Oktober 1965 terjadi peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI berupaya menculik dan membunuhnya, namun hal tersebut gagal. Dalam peristiwa tersebut, putri keduanya, Ade Irma Suryani Nasution yang baru berusia 5 tahun dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur.

Museum ini menyimpan koleksi buku, pakaian, senjata, foto, hingga perabotan yang masih dipertahankan. Pengunjung diajak berkelana ke masa lalu lewat diorama yang memperlihatkan kronologi penyerangan pasukan Tjakrabirawa yang merenggut nyawa Ade Irma, saat mengendap-ngendap di luar kamar AH Nasution, juga patung yang memperlihatkan Jenderal Nasution kabur dengan melompati tembok. Lubang bekas tembakan di tembok dan meja masih dipertahankan, ditandai jelas dengan lingkaran merah. Di ruang makan, terlihat patung parsukan Tjakrabirawa mengarahkan senjata ke arah Ibu Nas yang sedang mengggendong Ade Irma yang sudah berlumuran darah. Ada pula ruangan khusus yang memamerkan foto-foto, lukisan serta peninggalan Ade Irma Suryani seperti boneka, tas kulit kecil dan tempat minum plastik. Di dalam museum ini juga terdapat Ruang Relik berisi pakaian yang dikenakan para korban saat diculik, serta hasil visum dari dokter. Ada juga alat bantu pernafasan yang dikenakan tim evaluasi jenazah dari dalam sumur. Selain itu, juga ada ruang teater yang memutar rekaman bersejarah pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi hingga pemakaman ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Untuk memasuki museum ini, pengunjung tidak dikenakan tarif. Pengunjung dapat memasuki museum ini secara gratis. Museum ini buka dari hari Selasa hingga Minggu pada pukul 08.00 hingga 16.00.