MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI, WISATA SEJARAH

Salah satu destinasi wisata sejarah di Jakarta adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi, yang terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, tidak jauh dari Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Akses menuju lokasi gedung museum cukup mudah karena persis di depannya terdapat halte bus TransJakarta yang semuanya tersambung melalui halte central busway Harmoni. Moda trasnportasi yang melewati Museum Perumusan Naskah Proklamasi adalah TransJakarta jurusan Pulogadung – Grogol, dan jurusan Kampung Melayu – Grogol. Jika dari selatan, dapat dicapai menggunakan TranJakarta jurusan Lebakbulus – Senen lalu turun di halte Menteng, atau turun di halte Gereja jika dari arah sebaliknya, kemudian berjalan kaki menuju gedung museum ± 200 meter.

Bangunan utama Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi didirikan pada tahun 1927 oleh Asuransi NILLMIJ, yang dirancang oleh J.F.L Blankenberg, seorang arsitek berkebangsaan Belanda. Ketika Perang Pasifik berlangsung, bangunan disewakan kepada Kerajaan Inggris sebagai rumah resmi Konsul Jenderal Kerajaan Inggris di Hindia Belanda. Saat Jepang menduduki Indonesia, gedung ini diambil alih dan digunakan sebagai kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang. Gedung dibangun dengan gaya arsitektur Nieuw Bouwen dengan luas bangunan 1.138, 10 m2 dan luas lahan 3.914 m2.

Gedung yang berusia hampir satu abad tersebut menyimpan sepenggal kisah perjalanan bangsa Indonesia dalam upaya memerdekakan diri menjadi bangsa berdaulat. Saat itu meski pemerintah Jepang sudah kalah perang dari tentara Sekutu akibat pengeboman kota Hiroshima dan Nagasaki, tetapi masih berada di bumi Indonesia. Sebelumnya, pada September 1944, seluruh garis pertahanan Jepang di wilayah Pasifik berhasil ditaklukan oleh tentara Amerika. Agar tidak terjadi perlawanan di negara jajahannya, dan untuk menggalang kekuatan melawan Sekutu, pemerintah Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Langkah pertama yang dilakukan adalah membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang anggotanya mayoritas tokoh-tokoh nasional dan sebagian kecil orang Jepang. Setelah menyelesaikan tugas selama 5 bulan, BPUPKI pun dibubarkan dan diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Ir. Soekarno.

Saat terjadi status quo akibat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, muncul pertentangan pendapat antara golongan tua dan golongan muda mengenai kemerdekaan. Golongan tua yang dikomandoi oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta menginginkan proklamasi didiskusikan terlebih dahulu dengan PPKI, sedangkan golongan muda yang diketuai Soekarni, Wikana, dan Chaerul Saleh justru menginginkan sebaliknya, yaitu mempercepat pengumuman kemerdekaan Indonesia. Untuk mencegah agar tidak terpengaruh oleh pihak Jepang, maka para golongan muda kemudian membawa Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta selama satu hari penuh, di tanggal 16 Agustus 1945,  ke Rengasdengklok. Sementara itu di Jakarta, dilakukan perundingan antara golongan tua yang diwakili oleh Achmad Soebardjo, dan golongan muda yang diwakili oleh Wikana.

Perundingan dilakukan di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, yang bersedia memberikan jaminan keamanan dan tidak keberatan rumahnya digunakan oleh  para tokoh untuk berunding. Rumah ini dianggap aman dari gangguan Angkatan Darat Jepang (Rikugun) yang sudah mencium rencana pembacaan proklamasi kemerdekaan. Setelah dicapai kesepakatan bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan keesokan harinya, tanggal 17 Agustus paling lambat pukul 12 siang, Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta pun dibawa kembali ke Jakarta.

Sekembalinya dari Rengasdengklok, rapat perumusan naskah yang akan dibacakan saat proklamasi dilakukan secara maraton sejak dini hari pukul 03.00 di ruang makan. Naskah dirumuskan oleh tiga orang pemimpin Indonesia yaitu Soekarno, Moh. Hatta, dan Ahmad Subarjo, disaksikan tiga tokoh pemuda yakni Sukarni, Sudiro dan BM Diah. Soekarno sendirilah yang menuliskan naskah atau teks proklamasi kemerdekaan Indonesia itu di atas sehelai kertas, sedang Moh. Hatta dan Ahmad Subardjo menyumbang pemikiran secara lisan. Setelah rapat berakhir, rancangan naskah proklamasi dibacakan pada pukul 04.00 dihadapan 31 tokoh yang menunggu, antara lain Dr. Radjiman Wedyodiningrat, M. Soetardjo Kartohadikoesumo, Iwa Koesoemasoemantri, Ir. Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Ki Hadjar Dewantara. Setelah disetujui oleh semua yang hadir, naskah kemudian diketik oleh Sajoeti Melik, dan pada hari itu juga, pukul 10.00 WIB di kediaman Soekarno di jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, naskah proklamasi dibacakan dan bendera merah putih dikibarkan. Merdekalah Indonesia secara de facto, atas jerih payah para pendiri negeri, dan bukan hadiah dari Jepang.

Setelah proklamasi kemerdekaan, rumah bersejarah tersebut masih menjadi rumah tinggal Laksamana Maeda sampai tentara Sekutu mendarat pada September 1945. Pada bulan November 1945-Oktober 1946 menjadi Markas Tentara Inggris. Sebuah perundingan penting untuk mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia juga dilakukan di gedung ini, yaitu pada tanggal 7-14 Oktober 1946. Pemerintah Inggris yang bertindak sebagai penengah mengirim Lord Killearn, Belanda diwakili oleh Prof. Schermerhorn, dan Indonesia mengutus Sutan Sjahrir. Saat terjadi aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia, bekas rumah Laksamana Maeda pun diambil alih dan diserahkan kepada Departemen Keuangan, sedangkan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Tahun 1961-1981 dikontrak oleh Kedutaan Besar Inggris, dan setahun kemudian menjadi kantor sementara Perpustakaan Nasional.

Pada tahun 1984, atas dasar pertimbangan pentingnya rumah yang pernah ditinggali oleh Laksamana Maeda sebagai saksi bisu persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia, maka pemerintah melalui Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, memberikan instruksi agar rumah bersejarah tersebut dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Instruksi Mendikbud masa itu baru terlaksana pada tanggal 24 November 1992. Berbagai aktivitas terkait rapat persiapan proklamasi waktu itu kemudian ditampilkan dalam bentuk semacam diorama, foto-foto, dan barang koleksi para peserta rapat, serta koran yang memuat berita tentang peristiwa proklamasi.

Jadwal Museum

  1. Selasa–Kamis: 08.00 – 16.00
  2. Jum’at: 08.00 – 11.30 dan 13.00 – 16.30
  3. Senin dan Libur Nasional Tutup.