MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL, WISATA SEJARAH

Museum Kebangkitan Nasional terletak di Jalan Abdul Rachman Saleh No.26 Jakarta Pusat, tidak jauh dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Jika menggunakan moda transportasi TransJakarta turun di Halte Sentral Busway Senen lalu naik jembatan penyeberangan yang berada di depan Mal Atrium menuju Jalan Kwini. Di ujung jalan, setelah berjalan ± 100 meter sambil menikmati beberapa bangunan lama yang masih ada sampailah kita di gedung Museum Kebangkitan Nasional. Bisa juga turun di halte Kwitang kemudian berjalan ± 200 meter. Berwisata ke museum ini kita tidak hanya belajar tentang pendidikan kedokteran di masa kolonial Belanda, tetapi juga jiwa nasionalisme para pemuda masa itu untuk membentuk sebuah organisasi modern yang menembus batas kesukuan, demi cita-cita hengkangnya bangsa asing dari bumi Indonesia melalui jalur pendidikan.

Museum Kebangkitan Nasional menempati gedung bekas sekolah kedokteran masa pemerintahan Hindia Belanda yang bernama STOVIA (School Tot Oplending Van Inlandse Artsen) atau Sekolah Pendidikan untuk Dokter Pribumi. Pendirian STOVIA merupakan penyempurnaan sistem pendidikan kedokteran sebelumnya, Sekolah Kedokteran Jawa, yang didirikan tahun 1851 di Rumah Sakit Militer Weltevreden (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto). Awalnya Sekolah Kedokteran Jawa didirikan karena keterbatasan tenaga medis pemerintah untuk mengatasi berbagai penyakit yang mewabah masa itu. Namun kegiatan belajar mengajar dan asrama yang berada di areal rumah sakit mengganggu kenyamanan, sehingga Dr. H.F. Rool selaku direktur pendidikan merasa perlu membangun gedung baru di samping rumah sakit. Tahun 1899 gedung baru mulai dibangun, sempat terhenti karena kekurangan biaya, tetapi kemudian mendapat sumbangan dari pengusaha Belanda (P.W. Janssen, J.Nienhuys, H.C. van de Honert) hingga akhirnya selesai di bulan September 1901, dan diresmikan penggunaannya pada 1 Maret 1902. Kurikulum STOVIA disesuaikan dengan School Voor Officieren van Gezondeid di Utrech, yang dimaksudkan agar lulusannya setara sekolah serupa di Eropa. Setelah menjalani pendidikan selama 9 tahun dan lulus, pelajar STOVIA bergelar Inlandsche Art (Dokter Bumiputera) yang berwenang mempraktekan ilmu kedokteran seluruhnya termasuk kebidanan. Mereka diangkat menjadi pegawai pemerintah dan ditempatkan di daerah-daerah terpencil untuk membantu mengatasi berbagai penyakit menular.

STOVIA merupakan lembaga pendidikan pertama yang menjadi tempat berkumpulnya pemuda dari berbagai daerah. Mereka yang diterima di STOVIA harus tinggal di dalam asrama dengan jadwal ketat dibawah pengawasan seorang Indo-Belanda yang disebut suppoost. Saat tinggal di asrama, mereka belajar memahami adat istiadat yang berbeda, perlahan rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa pun mulai tumbuh. Tak ada lagi perbedaan etnis, budaya, atau agama. Tidak lama setelah  STOVIA  dibuka, seruan Politik Etis yang dicanangkan Ratu Wilhelmina di Belanda mulai dijalankan di Hindia Belanda. Politik Etis sebagai gerakan humanis masyarakat Belanda atas dampak Tanam Paksa terdiri dari 3 hal yaitu irigasi (pengairan), emigrasi (perpindahan penduduk), dan edukasi (memperluas bidang pengajaran dan pendidikan). Kebijakan ini selaras dengan upaya dr. Wahidin Soedirohoesodo yang menggagas penggalangan dana untuk para pemuda Jawa melanjutkan pendidikannya. Ia  berkeliling Jawa untuk mencari dukungan, tetapi para bupati tidak menyetujuinya. Atas saran dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, ia pergi ke STOVIA menemui Goenawan Mangoenkoesoemo yang kemudian mengatur pertemuan dengan siswa-siswa lainnya. Kebetulam mereka juga bekomunikasi dengan R.A. Kartini yang pernah melontarkan ide “dunia baru” dalam salah satu suratnya. Sambutan hangat dari pelajar STOVIA diterima oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo saat berceramah tentang “dunia baru” yang bebas merdeka. Dr. Wahidin  menghimbau siswa-siswa STOVIA untuk mendirikan satu wadah persatuan dalam bentuk organisasi modern. Usulan pada Desember 1907 tersebut kemudian mendapat respon positif, dan pada tanggal 20 Mei 1908 organisasi bernama Boedi Oetomo dideklarasikan. Pemerintah Hindia Belanda  memberikan ijin operasi dan konsensi pengelolaan selama 29 tahun, dengan demikian Boedi Oetomo menjadi organisasi modern bumi putera pertama yang berijin. Visi dan misi organisasi berorientasi pada upaya “pencerdasan kehidupan bangsa”, tetapi dihadapan kawan-kawannya, R. Soetomo sebagai ketua menegaskan bahwa “hari depan bangsa dan tanah air ada di tangan mereka”.  Meski mayoritas pendirinya adalah orang Jawa tetapi gagasan nasionalisme yang menyatukan seluruh bangsa sudah mulai tumbuh.

Tahun 1919 berdiri rumah sakit Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting di Salemba yang kemudian menjadi tempat praktek pelajar STOVIA, karena sarana serta prasarananya lebih lengkap dan modern. Pada 5 Juli 1920 seluruh kegiatan pendidikan STOVIA pun dipindahkan ke Salemba yang kemudian dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sedangkan gedung lama digunakan sebagai asrama pelajar. Tahun 1925 gedung STOVIA digunakan untuk pendidikan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs setingkat SMP), AMS (Algemene Middelbaar School setingkat SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker. Tahun 1942-1945 Jepang menggunakan gedung ini sebagai  kamp tahanan eks tentara Belanda, dan paska perang kemerdekaan hingga tahun 1973 sempat dihuni oleh eks tentara Belanda Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) Batalyon V. Tahun 1973 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memugar gedung STOVIA atas pertimbangan nilai sejarahnya yang tinggi, tempat tumbuhnya nasionalisme di kalangan pemuda hingga melahirkan organisasi kepemudaan Boedi Oetomo. Pada tanggal 20 Mei 1974, gedung eks STOVIA diresmikan oleh presiden Soeharto menjadi Gedung Kebangkitan Nasional dengan 4 museum di dalamnya, yaitu Museum Budi Utomo, Museum Wanita, Museum Pers, dan Museum Kesehatan. Akhirnya pada 7 Februari 1984 Gedung Kebangkitan Nasional resmi menjadi Museum Kebangkitan Nasional.

Di dalam museum ini diperlihatkan berbagai koleksi terkait dunia kedokteran termasuk peralatan dukun sebelum adanya dokter, serta alat-alat peraga yang digunakan saat proses belajar mengajar berlangsung. Koleksi yang cukup mengerikan bagi orang awam adalah alat pemecah kepala. Ada juga ruangan yang memperlihatkan suasana belajar, ruang tidur siswa, dan laboratorium. Di sayap gedung museum lainnya disajikan informasi yang terbagi dalam ruang-ruang, di antaranya ruang awal pergerakan nasional, ruang kesadaran nasional, ruang pergerakan nasional, ruang memorial Boedi Oetomo, dan ruang pers.

Waktu berkunjung:

  1. Selasa – Minggu pkl. 09.00 – 15.00 WIB
  2. Senin dan hari besar nasional tutup.