MUSEUM BANK MANDIRI, WISATA SEJARAH

Sejarah panjang perbankan Indonesia dapat diketahui melalui Museum Bank Mandiri yang terletak di kawasan Kota Tua, tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota dan pemberhentian akhir moda TransJakarta. Tepatnya di Jalan Lapangan Stasiun No.1 (Stationsplein 1, Binnen Niuewpoortstraat), Jakarta Barat, bersebelahan dengan Museum Bank Indonesia di seberang Museum Sejarah Jakarta. Berkunjung ke Museum BankMandiri, mata para penikmat seni arsitektur juga akan dimanjakan dengan bangunan bergaya Art Deco Klasik atau Niew Zakelijk dengan kaca-kaca patri yang indah dan detail hiasan bermotif geometris.

Museum Bank Mandiri menempati area seluas 10.039 m2, yang dahulu digunakan sebagai kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorij Batavia. Desain gedung  dibuat oleh arsitek NHM, seorang Belanda bernama J.J.J. de Bruyn, yang berkolaborasi dengan A.P. Smits dan C. van de Linde sebagai arsitek pelaksana. Keduanya bekerja pada biro arsitek Hulswit, Fermont and Ed. Cuypers. Pemancangan tiang beton dimulai pada bulan Juli 1929, yang pengerjaannya dilakukan oleh biro konstruksi NV Nederlandsche Aanneming Maatschappij (Nedam). Gedung ini selesai dibangun tahun 1932, dan diresmikan oleh Cornelis Johannes Karel van Aalst selaku Presiden NHM ke-10 pada tanggal 14 Januari 1933. Gedung putih berlantai empat ini merupakan kantor NHM baru yang sebelumnya hanya berlantai dua di Noordwijk Weltevreden, di tepi Kali Besar, Jalan Kantor Pos sekarang. Gedung lama NHM juga menggunakan jasa biro arsitek Ed. Cuypers & Hulswit, bergaya Renaissance dengan balustrade "mahkota", garis-garis horisontal, dan kolom-kolom dorik lengkung dengan vitrum (kaca) Romawi.

Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorij Batavia adalah perusahaan swasta yang diberi wewenang menerbitkan saham dan bertindak untuk memanfaatkan kegiatan ekonomi serta pengembangan kekayaan nasional. Kedekatan dengan pemerintah Belanda membuatnya memegang peran penting dalam pengembangan perdagangan di Hindia Belanda, sehingga dianggap sebagai penerus kekuasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) karena sama-sama dibiayai oleh Hindia Belanda. Tahun 1825NHM membuka perwakilan di Batavia, dan setahun kemudian cabangnya sudah ada di Palembang, Banjarmasin, dan Banda. Kegiatan utama NHM adalah melakukan pengiriman, pengapalan dan penjualan barang-barang ke Hindia Belanda, serta membantu pemerintah Hindia Belanda melakukan pengiriman uang ke Tiongkok, Australia, dan India. Tahun 1830 ketika sistem tanam paksa (cultuurstelsel) diberlakukan NHM juga diminta melakukan pembelian rempah-rempah. Pemerintah Hindia Belanda meraup banyak keuntungan dari eksploitasi tenaga kerja pribumi, begitu juga dengan NHM yang menjadi fasilitator. Tahun 1870 sistem tanam paksa dicabut atas desakan masyarakat Eropa dan rakyat Belanda sendiri yang baru mengetahui dampak kemanusiaan atas sistem itu. Tahun 1882, NHM Batavia melakukan usaha penuh sebagai bank modern dengan menerima dana pihak ketiga dalam bentuk deposito, rekening koran dan produk jasa lainnya.

NHM kemudian dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi kantor Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. Bersamaan dengan lahirnya Bank Eskpor Impor Indonesia (Bank Exim) pada tanggal 31 Desember 1968, gedung BKTN pun berubah menjadi Kantor Pusat Bank Exim. Tanggal 2 Oktober 1998 Bank Exim melakukan merger bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) hingga lahirlah Bank Mandiri. Nama tersebut diusulkan oleh B.J. Habibie dengan harapan bank yang baru nantinya akan benar-benar “mandiri” dan tidak bergantung kepada pemerintah. Kantor Pusat Bank Mandiri tidak menggunakan gedung yang sama tetapi pindah ke Jalan Jenderal Gatot Subroto, sedangkan gedung eks-NHM digunakan sebagai museum yang mengisahkan perjalanan perbankan Indonesia khususnya Bank Mandiri.

Arsitektur gedung Museum Bank Mandiri cenderung sederhana dengan bentuk simetris dari  permainan garis-garis horisontal dan vertikal yang menjadi ciri khas gaya art deco. Pengaruh gaya kubisme tampak pada atap berbentuk datar dengan struktur bertingkat (ziggurat), dan motif-motif geometris pada tembok balkon. Ciri mencolok art deco lainnya adalah penggunaan kaca patri bermotif geometris. Pada bagian atas pintu masuk terdapat kaca patri dengan simbol NHM dan elemen yang melambangkan empat musim di Belanda, sedangkan tepat di depan pintu ruang rapat besar terdapat kaca patri berupa tokoh Willem van Oranje dan Cornelis de Houtman. Pintu dan jendela berbentuk panel berbahan kayu jati solid yang dikombinasikan dengan logam dan kaca. Bangunan art deco biasanya memiliki banyak kaca untuk memperoleh cahaya yang memadai meski tanpa lampu. Railing (pagar pembatas) tangga merupakan perpaduan antara besi tempa dengan kayu jati kelas satu yang tampak kokoh dan eksklusif. Interior di bagian dalam gedung juga banyak menggunakan material jati pilihan. Lantai lobby, ruang rapat, dan ruang direksi menggunakan mozaik keramik bercampur kaca (glasmozaik tegels) yang diimpor dari Venesia, Italia. Ruang lainnya menggunakan tegel ubin (vloertegels) berwarna hitam, abu-abu, dan merah. Lantai dasarnya dinaikkan setengah lantai sehingga koridor di bagian depan bangunan (main entrance) tetap memiliki privacy dan terkesan anggun.

Salah satu koleksi museum ini yang menarik di area depan adalah sebuah “Buku Besar” atau Grootboek, berukuran 67x54x13 cm dengan bobot 28 kilogram setebal 334 halaman. Buku Besar itu digunakan NHM mencatat laporan keuangan yaitu rincian perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan di setiap akhir bulan, serta laporan keuangan dari agen-agen NHM di Surabaya, Semarang, Padang, dan Anyer.

Waktu kunjung:

  1. Selasa – Minggu pkl. 09.00 – 16.00 WIB
  2. Senin dan hari libur nasional tutup