MUSEUM BANK INDONESIA WISATA SEJARAH

Museum Bank Indonesia terletak di kawasan bersejarah Kota Tua, tepatnya di jalan Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat, bersebarangan dengan Museum Sejarah Jakarta yang dahulu berfungsi sebagai Balaikota (Stadhuis). Jika menggunakan moda trasnportasi TransJakarta cukup berjalan menelusuri lorong menuju pintu keluar pemberhentian akhir Kota tanpa harus menyeberangi jalan yang cukup padat dengan kendaraan. Sedangkan jika naik kereta api, harus menyeberangi jalan di depan Stasiun Jakarta Kota. Di Museum Bank Indonesia, pengunjung dapat belajar tentang sejarah perbankan di Indonesia yang sebenarnya sudah dimulai sebelum bangsa asing berkuasa di bumi Nusantara hingga paska proklamasi kemerdekaan, peran Bank Indonesia dalam sejarah perekonomian Indonesia, dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan serta dampaknya bagi masyarakat. Bukan hanya itu saja, mata para penikmat seni dan sejarah arsitektur akan dimanjakan dengan bangunan bergaya neo-klasikal dengan interior dan asesoris kaca patri yang luar biasa.

Pada tahun 1625, di atas lahan Museum Bank Indonesia, pernah berdiri sebuah gereja sederhana untuk menampung orang-orang Belanda anggota Gereja Reformasi beribadat, yang sebelumnya menggunakan salah satu ruangan Gudang Nassau (1621). Tahun 1628 gereja terpaksa dibongkar untuk menempatkan meriam-meriam saat tentara Sultan Agung mengepung Batavia. Awal abad ke-18 pemerintah membangun Binnen Hospital di dalam kota Batavia, untuk menjaga kesehatan staf dan tentara Belanda. Rumah sakit ini mengutamakan pelayanan terhadap para pelaut dan tentara, dengan memanfaatkan tenaga orang-orang bumi putera sebagai Zieken Opposer (Pembantu Orang Sakit).  Binnen Hospital terletak di tepi Jalan Bank dan pinggir Kali Besar. Bangunannya terdiri dari dua lantai dengan denah berbentuk huruf L. Sisi utamanya menghadap ke utara (Jalan Bank), bukan ke arah timur seperti Museum Bank Indonesia sekarang (Jalan Pintu Besar Utara). Tahun 1780 rumah sakit dipindahkan ke Weltevreden dan Binnen Hospital ditutup. Tahun 1801 bangunan tersebut dibeli oleh sebuah firma dagang bernama Mac Quoid Davidson & Co.

Tahun 1831 lahan eks Binnen Hospital dibeli oleh De Javasche Bank. Bangunan lama kemudian dirobohkan dan dibuat desain baru oleh Eduard Cuypers, seorang arsitek Belanda yang saat itu memiliki Biro Arsitek Eduard Cuypers & Hulswit (kemudian berubah menjadi Architecten & Ingeniurs Bureau Fermont-Cuypers). Cuypers memasukkan elemen-elemen asli Indonesia dalam desainnya. Bagian depan gedung yang bergaya Neo-Klasik berpadu dengan  ornamen Jawa diselesaikannya tahun 1909, sedangkan bagian dalamnya baru tahun 1926 disertai sedikit perubahan. Gaya Neo-Klasik merupakan pengulangan beberapa gaya arsitektur Eropa sebelumnya, yaitu gaya Yunani, Romawi, Renaissance, dan de Stijl.

Gedung De Javasche Bank dibuat dua lantai dengan empat buah bangunan yang saling menyambung hingga membentuk denah segi empat, dan halaman terbuka semacam atrium di bagian tengahnya. Atrium banyak dijumpai pada bangunan-bangunan Romawi kuno. Façade (tampak depan) bangunan penuh dengan ornamen-ornamen lokal berupa sulur-suluran serta pilar-pilar seperti yang terpahat pada dinding candi-candi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Banyaknya sirkulasi udara merupakan adaptasi terhadap iklim tropis lokal. Deretan jendela tinggi, pilar-pilar, serta roster memenuhi dinding luar bangunan sehingga bangunan ini tampak raya akan ragam hias. Pada atap bangunan terdapat lucarne (jendela kecil), yang selain berfungsi sebagai pencahayaan sekaligus sebagai aspek estetika. Pintu masuk utama bangunan ini terdapat di sisi selatan dengan sejumlah anak tangga menuju lobi.

De Javasche Bank (DJB) sebagai lembaga bank sentral pemerintah Hindia Belanda lahir dari tuntutan para pebisnis Belanda yang melakukan kegiatan di Pulau Jawa. Lembaga perbankan diperlukan untuk menangani masalah moneter dan sirkulasi uang di daerah koloni seperti halnya De Nederlandsche Bank di Belanda, yang akan menunjang kegiatan perdagangan, memudahkan transaksi keuangan, termasuk sistem pembayaran dan penyimpanan uang. Tuntutan muncul tidak lama setelah penyerahan kembali Hindia Belanda dari Inggris ke tangan Belanda berdasarkan Traktat London. Saat itu mata uang yang beredar dan dianggap sah sebagai alat pembayaran adalah Ropij Jawa keluaran pemerintahan Raffles. Meski baru diedarkan tetapi mata uang Ropij Jawa diputuskan untuk diganti, dan akhirnya pada tahun 1817 ditarik secara resmi dari peredaran. Mata uang penggantinya adalah Gulden Hindia Belanda dengan simbol “ƒ” yang berarti florijn atau florin. Pemerintah Belanda kemudian merencanakan penerbitan octrooi untuk pendirian De Nederlansche Oost-Indische Bank, tetapi gagal terealisir karena pecah Perang Jawa (Java oorlog) di tahun 1825. Pada tanggal 11 Desember 1827 terbit Octrooi en Reglement voor De Javasche Bank dari Pemerintah Belanda (Staatsblad voor Nederlandsche Indië 1827 No.111) yang mulai berlaku 1 Januari 1828. DJB diberi wewenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang, dengan demikian DJB berfungsi sebagai bank sirkulasi di Jawa.

Saat pemerintahan militer Jepang fungsi DJB sebagai bank sentral tidak berubah, hanya saja  diganti oleh Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG). NGK ditunjuk untuk mengedarkan uang yang sebelumnya dicetak di Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah mempersiapkan pembentukan bank sentral dengan nama Bank Indonesia (BI). Belanda yang membonceng tentara Sekutu kemudian mengambil alih NKG, dan menunjuk kembali DJB sebagai bank sirkulasi. DJB berhasil membuka cabang di wilayah yang dikuasai Nederlandsche Indische Civil Administrative (NICA), dan terus berlanjut hingga terjadi dua kali agresi militer. Sementara itu di wilayah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia, dibentuk Jajasan Poesat Bank Indonesia (Yayasan Bank Indonesia) yang kemudian melebur dalam Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank sirkulasi berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2/1946. Situasi perang kemerdekaan dan terbatasnya pengakuan dunia  menghambat peran BNI sebagai bank sirkulasi, tetapi pada 30 Oktober 1946 pemerintah RI berhasil menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sebagai mata uang pertama. Konferensi Meja Bundar (KMB) di 1949 kemudian memutuskan DJB sebagai bank sirkulasi untuk Republik Indonesia Serikat (RIS), sedangkan BNI sebagai bank pembangunan. Tahun 1950 pemerintahan RIS berakhir dan Indonesia  kembali menjadi negara kesatuan. Nasionalisasi terhadap DJB segera dilakukan dan tanggal 1 Juli 1953 terbentuklah Bank Indonesia sebagai bank sentral. Tahun 1962 Bank Indonesia resmi berkantor di Jalan M.H. Thamrin. Setelah lama terbengkalai akhirnya gedung lama BI dijadikan museum yang soft openingnya dilakukan oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu Burhanuddin Abdullah pada 15 Desember 2006, sedangkan grand opening dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 Juli 2009.

Waktu kunjung:

  1. Selasa – Jumat pukul 08.00 – 15.30
  2. Sabtu – Minggu pukul 08.00 – 16.00
  3. Senin dan hari libur nasional tutup