MUNIR

Aktivis Pro-Demokrasi, Pejuang Hak Azazi Manusia. Pria keturunan Arab ini, lahir di Malang 8 Desember 1965 dan meninggal dalam perjalanan ke Belanda 7 September 2004. Gelar Sarjana hukumnya diraih di Universitas Brawijaya (Malang) tahun 1989. Memulai karimya sebagai volunter di LBH Malang, pada 1989. Ia lalu memutuskan beraktivitas secara total di LBH. Sempat ke LBH Surabaya, pada tahun 1955, ia mendapat promosi untuk menduduki jabatan Direktur LBH Semarang selama tiga bulan. Hingga akhirnya ia ditarik ke YLBHI, Jakarta, untuk merangkap tugas sebagai Koordinator KontraS pada tahun 1998.

Tanggal 19 Maret 1998 menjadi tonggak sejarah berdirinya Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Akibat kegigihannya, ia secara tidak langsung membuat Danjen Kopassus Letjen Prabowo diberhentikan dan Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin dimutasi. Keduanya dituding KontraS terlibat penculikan. Munir menuntut pemerintah bertanggung jawab seeara politis dan mengumumkan keberadaan para korban. Karena sepak terjangnya itu majalah Asia Week meneantumkannya sebagai salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium bam. Ia juga mendapat Yap Thiam Hien Award dari Yayasan Pusat HAM dan penghargaan dari UNESCO (Badan PBB untuk Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan Kebudayaan) karena dinilai berjasa memperjuangkan HAM di Indonesia.

Munir harus lengser dari KontraS lantaran mendirikan lembaga HAM sejenis bemama Indonesian Human rights Monitor alias Imparsial. Dalam tahun 2004, Munir banyak bicara soalRUUTNI yang tengah digodok DPR dan pemerintah. Sembari menyorotinya, Munir mempersiapkan keberangkatannya untuk melanjutkan studi S-2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht, Belanda. Senin malam 6 September 2004 Munir terbang ke Negeri Kincir Angin untuk mengejar cita-citanya. Tapi tiga jam sebelum mendarat di Bandara Schippol, Amsterdam, atau Selasa 7 September 2004, Munir meninggal secara kontroversi. Ia disebut-sebut dibunuh oleh pihak tertentu.