Muhammad Yamin

Sarjana hukum, sastrawan, tokoh politik, penggali sejarah Indonesia. Lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 23 Agustus 1903 dan meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962. Pendidikan terakhir di Rechtshogeschool Jakarta, tamat 1932. Giat dalam pergerakan politik sejak muda, antara lain: ketua Jong Sumatranen Bond (1926-1928), ketua Indonesia Muda (1928), dan ikut mencetuskan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta. Dalam kegiatan kepartaian, ia seorang tokoh
Partindo (1932-1938), Gerindo dan kemudian Perpindo, juga anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), 1938-1942. Semasa pendudukan Jepang (1942-1945) ia anggota Dewan Penasihat Departemen Penerangan dan organisasi Putera.

Pada awal masa kemerdekaan, termasuk golongan Persatuan Perjuangan di bawah pemirnpin Tan Ma1aka yang beroposisi terhadap Kabinet Syahrir; ikut memimpin percobaan kudeta yang terkenal sebagai Peristiwa 3 Juli (1946). Mahkamah Tentara Agung menjatuhkan hukuman4 tahun padanya, tetapi mendapat grasi pada 17 Agustus 1948. Diangkat sebagai penasehat delegasi Indonesia ke Konferensi Meja Bundar (1949); Menteri Kehakiman (1951); Menteri Penerangan; ketua Dewan Perancang Nasional (Depemas) yang menghasilkan rencana dan pola pembangunan Semesta Berencana; menjadi anggota DPR-RIS yang kemudian menjadi DPR-RI (sejak 1950); anggota DPR-RI dan Badan Konstituante hasil pernilihan umum 1955, kemudian juga anggota DPR-GR dan MPRS setelah Dekrit Presiden 1959. Selain itu juga diangkat sebagai penasihat Lembaga PembinaanHukum Nasional: anggota Dewan Pertahanan Nasional; anggota Staf Pembantu Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia; anggota Panitia Pembina Jiwa Revolusi; ketua Dewan Pengawas LKBN Antara (1961-1962).

Buku karyanya banyak, khususnya yang mengandung unsur sejarah dan kenegaraan, antara lain: Naskah Persiapan Undang-undang Dasar (1960; 3 jilid); Ketatanegaraan Majapahit (7 jilid); Sang Merah Putih 6000 tahun; Tanah Air (kumpulan puisi, 1922); Ken Arok dan Ken Dedes(drama, 1934); Tan Malaka (1945); Sapta Dharma (1950); Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951); Kebudayaan Asia Afrika (1955); Konstitusi Indonesia dalam Gelanggang Demokrasi (1956); juga menerjemahkan karya Rabindranath Tagore dan Shakespeare. Menjadi pemrasaran pada Kongres Paneawarsa I Jong Sumatranen Bond (1923) yang berjudul De Maleische Taal in het Verleden, Heden en Toekomst (Bahasa Melayu Masa Lalu, Kini dan Masa Datang) meramalkan perkembangan kebangsaan Indonesia di kemudian hari. Mendapat anugerah Bintang Mahaputera Republik Indonesia. Diangkat sebagai Pahlawan Nasional(SK. Presiden No. 008 tahun 1973, 6 Nov 1973). Jenazahnya dimakamkan di sisi ayahnya di Talawi. Untuk mengenang jasanya namanya diabadikan sebagai nama ja1an di Jakarta yang terletak di daerah Menteng, Jakarta Pusat.