Muhammad Asad Shahab, Tokoh

Sejarah mencatat Mesir adalah negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para pelajar Indonesia yang ada di sana menerima berita tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dari kantor berita Arabian Press Board (APB). Berita-berita itu diteruskan dalam konferensi Liga Arab. Walhasil, negara-negara Islam di Timur Tengah bersimpati dan memberikan dukungannya kepada negara berpenduduk Muslim dengan presidennya yang bernama  Ahmad Sukarno. Dan sejak itu pula masyarakat Mesir memantau perjuangan Indonesia melawan Belanda yang berujung pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir.   

Berita-berita APB diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh penyiar RRI dan diterima oleh pelajar-pelajar Indonesia yang ada di Mesir. Berita yang dikirim sepotong-sepotong, kemudian dikumpulkan dan dituliskan dalam media Mesir.  Dari beberapa kantor berita yang beroperasi di masa revolusi, APB menjadi media pro-Republik yang paling leluasa bergerak di mancanegara. Kantor berita Antara jangkauannya hanya terbatas di dalam negeri. Kantor berita Domei masih dikontrol oleh Jepang. Reuters berpihak kepada Sekutu. Sementara APB memiliki hubungan dengan jaringan ulama para imigran ke Indonesia dalam rangka berdakwah dan berdagang. Sosok penting di balik aktifitas APB menyebar berita proklamasi di luar negeri tersebutlah nama Mohammad Asad Shahab.

Asad Shahab lahir di Jakarta pada 23 September 1910 dari keluarga Betawi berdarah Arab. Ayahnya, Ali Shahab adalah juragan tanah yang termasuk salah seorang tokoh perintis Jamiat Kheir, organisasi Islam modern pertama di Hindia Belanda. Pada masa pergerakan, Asad Shahab aktif di perkumpulan Hizbu Shabab. Perkumpulan pemuda-pemuda Hadrami ini dalam bahasa Belanda disebut Partij van de Jongere Arabieren (Partai Arab Muda). Pada 1938, Asad Shahab tercatat sebagai sekretaris pertama. Tujuan organisasi ini cukup banyak. Memberikan bantuan beasiswa, menolong keluarga Hadrami yang miskin, melakukan pembelaan terhadap Islam, hingga mengorganisir klub sepak bola.

Pada 2 September 1945, Asad Shahab mendirikan kantor berita Arabian Press Board (APB). Kata Arab dibubuhkan guna mengelabui Belanda yang berupaya menekan atau membubarkan setiap gerakan berbau Indonesia. Kantor berita APB terletak di Jalan Gang Tengah No. 19 yang kini dikenal sebagai kawasan Salemba. Berita yang diterbitkan APB berupa buletin harian yang diterjemahkan ke dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris. Produk media APB cukup beragam. Mulai dari buletin harian, suratkabar, dan majalah berkala. Selain koreponden di berbagai negara, pendistribusian APB terbantu oleh Kementerian Luar Negeri yang mengirimkan buletin harian ke seluruh perwakilan RI di luar negeri. Dari berita APB, negara-negara Timur Tengah mengetahui keadaan yang terjadi di Indonesia. Berita-berita APB memuat informasi yang kaya rekaman sejarah. Berdasarkan sumber militer Belanda, baik arsip NICA ataupun arsip intelijen (PID)  menyebutkan bahwa tulisan-tulisan di koran Belanda mengambil rujukan berita dari APB. Pemberitaan Belanda yang ada di Indonesia mengambil berita yang dikeluarkan APB dan ditulis dalam komentar yang respek.

Di tengah perjuangan revolusi, salah satu pemberitaan APB menyebutkan pentingnya pencatatan populasi ternak di Indonesia. Sumber Belanda juga melansir berita APB tertanggal 20 April 1948 terkait Perjanjian Renville yang mewartakan bahwa  berita Indonesia tak seharusnya bekerja sama dengan negara asing. APB juga memberitakan tentang para pelaku pemberontakan di Madiun sudah menjadi gila. Selain itu, pasca Perjanjian Roem-Rooijen dan para tokoh Republik dikembalikan ke Yogyakarta, APB memberitakan bantuan orang kaya Arab menyumbangkan perlengkapan furnitur di Istana Yogyakarta karena kondisi finansial negara yang sulit.

Dokumen-dokumen APB semasa revolusi sempat lenyap. Tentara NICA melakukan penggerebekan yang mengakibatkan kantor berita APB ditutup. Siaran APB pun dibredel. Pasca pengakuan kedaulatan, Arabian Press Board berganti nama menjadi Asian Press Board. Di masa Sukarno, APB menjadi pers yang kritis menentang komunisme dan politik Demokrasi Terpimpin. Asad Shahab menolak konsepsi Sukarno tentang Nasakom. Lagi pula, kecendrungan pers komunis saat itu tengah kuat-kuatnya. Pertentangan politik menyebabkan APB dibubarkan pada 1962 dan dileburkan ke dalam Antara. Muncul desas-desus Asad Shahab menjadi target sasaran untuk diadili.

Asad Shahab kemudian meninggalkan Indonesia dan menghabiskan sekian lama waktunya di Arab Saudi. Dia berkecimpung dalam organisasi Islam Rabithah al-Alam al-Islami yang aktif dalam kegiatan dakwah. Pada 1980, Asad Shahab kembali ke Tanah Air. Di masa tuanya, dia dikenal sebagai tokoh pers pejuang sekaligus tokoh keturunan Arab terkemuka. Pada usianya yang ke-90, Assad Shahab wafat, tepatnya pada 5 Mei 2001.