MS DE ZEVEN PROVICIEN

MS De Zeven Provicien adalah salah satu kapal terbesar milik angkatan laut Kerajaan Belanda yang berfungsi sebagai kapal latih bagi kadet Angkatan Laut di Surabaya pada masa pemerintahan Hindia - Belanda.

Pada tanggal 4 Februari 1933 ketika Zeven Provicien tengah bersandar di Uleelheue, Aceh terjadi pemberontakan yang melibatkan anak buah kapal (ABK) asli Indonesia yang dipimpin oleh Martin Paraja dengan dibantu sejumlah ABK Belanda. Pemberontakan tersebut bertujuan untuk mengambil alih kapal sebagai bentuk protes atas diskriminasi pemotongan gaji terhadap ABK asli Indonesia serta menuntut pembebasan rekan-rekan mereka yang ditahan pada waktu berselang. Pemerintah Hindia Belanda berdalih pemotongan gaji dilakukan karena adanya defisit akibat krisis ekonomi dunia saat itu.

Pada tanggal 10 Februari 1933, pemerintah Hindia Belanda akhirnya mengambil tindakan tegas terhadap aksi pemberontakan tersebut. Ketika tengah memasuki perairan Selat Sunda dalam perjalanannya menuju Surabaya, geladak utama kapal Zeven Provicien dijatuhi bom dari udara melalui pesawat Dornier yang mengakibatkan tewasnya 20 ABK Indonesia serta 3 ABK Belanda. Jatuhnya banyak korban jiwa serta kerusakan yang ditimbulkan bom tersebut membuat sisa pemberontak yang bertahan di kapal tersebut akhirnya menyerah.