MOSELEUM O. G. KHOUW, WISATA SEJARAH

Moseleum dalam Vademekum Benda Cagar Budaya diartikan sebagai bangunan mirip rumah atau gedung tempat menyimpan jenazah. Tidak banyak yang tahu bahwa di TPU Petamburan di Jl. KS. Tubun Raya No. 1, Petamburan, Jakarta Pusat, terdapat sebuah moseleum yang dibangun tahun 1930 semasa pemerintahan kolonial Belanda. Moseleum tersebut dibangun sebagai bukti cinta seorang Lim Sha Nio (1879-1957) untuk suaminya Oen Giok Khouw (1874-1927), seorang filoantropis terkemuka di Batavia. Khouw Oen Giok Sia atau O.G. Khouw dikenal sebagai tuan tanah dermawan, keturunan dari kawin campur antara Peranakan Tionghoa dengan seorang warga Belanda. Ayahnya, Khouw Tjeng Kie, seorang opsir Tionghoa bergelar Luitenant der Chinezen, sehingga anak-anaknya bergelar “Sia”. Kakeknya seorang tuan tanah Khouw Tian Sek, dan buyutnya Khouw Tjoen seorang hartawan di akhir abad ke-18. Keluarga Khouw Tjeng Kie adalah tuan tanah besar pemilik tanah partikelir Tamboen (Tambun Utara dan Tambun Selatan di Bekasi, serta Lubang Buaya di Jakarta Timur). Pusat tanah partikelir mereka adalah Landhuis Tamboen, yang kini menjadi Gedung Juang Tambun.

O.G. Khouw merupakan generasi pertama Peranakan Tionghoa yang menerima pendidikan berbahasa Belanda. Di akhir abad ke-19 O.G. Khouw lebih banyak menghabiskan waktunya antara Amsterdam, Riviera (Perancis) dan Switzerland. Koran Pemberita Betawi edisi 24 Juli 1908 mengabarkan bahwa O.G. Khouw mengajukan naturalisasi melalui sidang Tweede Kamer, dan mendapatkan kewarnegaraan Belanda yang membuat terkejut masyarakat Eropa serta Tionghoa di Hindia Belanda. Koran Tilburgsche Courant Dagblad edisi 6 April 1915 memberitakan bahwa OGK mendonasikan ƒ 40.000 untuk Rode Kruis/Palang Merah Belanda, dan mendapat penghormatan dari Ratu Wilhelmina sebagai wakil masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda.

Khouw wafat di Ragaz, Switzerland tahun 1927. Jenazahnya dikremasi dan abunya dibawa dari Swiss menuju Batavia melalui Terusan Suez. Abu tidak langsung dikubur tetapi oleh isterinya dibuatkan sebuah moseleum terlebih dahulu untuk mengenang suaminya sebagaimana tertulis di atas nisan. Bangunan makam dirancang oleh G. Racina, arsitek Italia yang tinggal di Surabaya pada awal abad ke-20.  Ai Marmi Italiani, perusahaan kontraktor yang berkantor di daerah Krekot, bertindak sebagai kontraktor pembangunan moseleum setinggi 15 meter yang diselesaikannya dalam waktu empat tahun (1927-1931). Batu granit hitam dan kristal marmer dengan patung-patung yang digunakan semuanya diimpor dari Italia. Koran Utrechtsch Nieuwsblad edisi 24 September 1932 menurunkan tulisan pembangunan moseleum ini yang menghabiskan biaya hingga ƒ 500.000 (sekitar US$ 250.000 kurs pada saat  itu). Tentu saja angka tersebut menimbulkan sensasi luar biasa di kalangan pers kolonial Belanda, hingga surat kabar Sin Po menyebutkan bahwa makam Khouw jauh lebih mahal dari makam miliarder pertama Amerika Serikat saat itu, John D. Rockefeller.

Moseleum bergaya art deco dengan atap berbentuk kubah (dome), ditopang kolom-kolom kokoh terbuat dari bongkahan besar marmer hijau kehitaman utuh (tanpa banyak potongan). Areal makam berpagar besi rendah dilengkapi ruang makam dan berdoa di bawah tanah yang dihubungkan oleh sebuah tangga. Luas ruang bawah tanah sekitar 5 meter² dengan dinding berhiaskan patung wajah O.G. Khouw dan isterinya Lim Sha Nio. Bangunan ini dibuat dengan perencanaan yang sangat rapi termasuk lubang untuk aliran air agar tidak banjir, lubang ventilasi udara, dan panel listrik. Sayangnya bangunan ini terbengkalai sehingga listrik tak berfungsi, dan pintu kayu jati menuju ruang bawah dengan gagang terbuat dari kuningan sudah hilang. Bisa jadi karena keluarganya tidak ada yang mengurus, dan pasangan ini tidak memiliki keturunan.