MORESCO TUGU, KERONCONG

Jenis keroncong yang paling populer di Kampung Tugu. Dinamakan Keroncong Mourisco karena dihubungkan dengan asal musik keroncong tersebut, yaitu suku bangsa Moor. Jenis ini mengingatkan mornas (lagu-lagu) dari Cobo Verde (Afrika), yang irama dasarnya dipakai sebagai latar belakang sebagian musik modern Indonesia. Orkes keroncong Moresco Toegoe pertama kali didirikan dan dipimpin tahun 1925 oleh Joseph Quiko hingga 1935. Jacobus Quiko kemudian mengambil alih pimpinan hingga tahun 1950 dan menamakan Moresco Toegoe II. Pada waktu itu, karena banyaknya anggota masyarakat Tugu termasuk para pemusik keroncong yang pindah ke luar negeri seperti Suriname, Belanda, atau Irian Barat, maka kegiatan orkes keroncong Tugu terpaksa terhenti selama kurang lebih dua dekadeTahun 1971, Jacobus Quiko dan Arnd Michiels dapat menghimpun kembali sejumlah anggota orkes keroncong Moresco Toegoe II, sehingga memungkinkan dilakukannya rekaman oleh UNESCO.

Inisiatif UNESCO untuk mengkoleksi musik keroncong Tugu menimbulkan dampak yang amat positif bagi upaya menghidupkan kembali Moresco Toegoe, walaupun mereka pada kenyataannya saat itu sama sekali tidak didukung suasana dan lingkungan yang kondusif. Untuk tujuan itu, dihimpun tidak kurang dari sepuluh pemusik Tugu papan atas, termasuk dua pemusik old-crack seperti Oma Christine dan Opa Waas, serta empat anggota keluarga Quiko lainnya. Adik kandung Jacobus, yaitu Samuel Quiko turut memberikan asisten dan terkadang mewakili kakaknya bertindak sebagai pimpinan orkes. Rekaman UNESCO dapat dikatakan merupakan publikasi pertama dan utama bagi Orkes Keroncong Tugu, yang menjadikan musiknya dikenal di luar negeri dan bahkan memperoleh popularitas tinggi. Rekaman UNESCO tersebut merupakan standar musik keroncong Tugu modem hingga saat ini, berdasarkan kriteria instrumentasi yang digunakan. Para pemusik inti yang tampil waktu itu dengan seragam mereka berupa sadariah kemeja Betawi dan pantolan batik motif tradisional, gaya permainan yang memiliki keunikan tersendiri, dan repertoar yang disajikan dalam rekaman tersebut.

 Pemusik keroncong Tugu yang berpartisipasi dalam rekaman UNESCO adalah: Frans Abraham (gitar), Fernando Quiko (tambourine), Oma Christine (vokalis), Opa Waas (macinas), Elpido Quiko (triangle), Arnd Michiels (cello), Jacobus Quiko (biola), Joseph Quiko (gitar), Marther Sopahaluwakan (ukulelel), Samuel Quiko (ukulele 2). Sedangkan repertoar rekaman UNESCO terdiri dari berbagai jenis lagu standar, seperti:
1. Hallo-Hallo Bandung, lagu Nasional
2. Schoon ver vanjou, lagu Hindia Belanda
3. OudBatavia, lagu Hindia Belanda
4. Pertemuan, langgam keroncong
5. Surilang, lagu Betawi dimainkan instrumental
6. Jampang, stambul Betawi
7. Kopi Susu, langgam keroncong
8. Nanas Bogor, langgam keroncong dimainkan instrumental
9. Bintang Surabaya, langgam keroncong
10. Stambul II, dimainkan instrumental