Molenvliet

Daerah berkembang di Batavia abad ke-19, berawal dari rumah-rumah para bangsawan yang didirikan di luar daerah Batavia. Terletak antara JI. Hayam Wuruk -JI. Gajah Mada. Selain itu Molenvliet mernpakan satu-satunya tempat pemandian umum di Batavia yang terdiri dari 1 kamar atau bilik yang digunakan untuk 10 orang bumiputra pada saat yang bersamaan. Di sini terdapat sebuah kanaal yang digali pada tahun 1648 oleh Kapten cina bernama Phoa Bing Gam, untuk menghanyutkan kayu bakar dll dari daerah "dekat hutan" (di sekitar Harmoni) ke kota yang berakhir di daerah Bantenburg (sekarang di depan Glodok Building).

"Belanda memandang Batavia
dalam bentuk barbel, besi
yangmenghubungkan
antara kota atas dan kota bawah
adalah Molenvliet."
(Dr. Susan Blackburn)

Molenvliet merupakan kanaal buatan manusia sepanjang 3km denganjalan di salah satu sisinya (1648). Secara harfiah Molenvliet, berasal dari kata molen artinya "kincir", dan vliet artinya "aliran". Di tahun tersebut kapten cina bernama Phoa Bing Gam turnt menggali parit, sehingga sejak tahun 1661 tempat itu dinamakan Molenvliet mengingat terdapatnya kincir-kincir penggilingan gula dan penggilingan lainnya, produksi arak dan pembuatan mesiu.

Terusan Molenvliet itu mulai digali dari ujung selatan Kota Batavia (de Voorstadt) ke arah selatan, sampai di dekat hutan, di sekitar bekas gedung Harmoni. Kemudian diteruskan ke arah tenggara melalui samping Rijswijkstraat (JI. Majapahit), JI. Tanah Abang Timur, terus ke Sungai Krukut. Terusan ini dibangun untuk kepentingan umum, guna mendobrak daerah terisolir di sebelah selatan Batavia. Ia berfungsi sebagai sarana angkutan sungai baik untuk barang dagangan, hasil pertanian dan perkebunan maupun untuk orang. Sodetan karya Phoa Bing Gam inipun telah berperan memperlancar perkembangan dan pemekaran Kota Batavia ke arah selatan. Di kiri kanan ternsan ini terdapat banyak kincir, sehingga disebut Molenvliet atau "Aliran Kindr". Sisi barat kemudian menjadi Jl. Gajah Mada dan sisi timur menjadi JI. Hayam Wuruk. Kanaal ini digunakan untuk memudahkan suplai kayu bagi kapal dan bangunan di kota utara Batavia dari hutan di selatan Tanah Abang. Kayu diapungkan menuju daerah di depan tembok selatan kota tempat Jl. Pintu Besar Selatan. Juga digunakan untuk mengirim suplai ke penggilingan gula dan amunisi di bagian selatan Batavia.

Kanaal mulai digunakan untuk menggerakkan penggilingan ketika VOC menaikkan arus air di kanaal (1657) dan mengambil alih kanaal yang kemudian diberi nama Molenvliet (1661). Untuk mengatur debit air, dibantu oleh Kanaal Gunung Sahari dengan Sluisburg-nya.

Aliran Molenvliet dihubungkan dengan Ciliwung, membentang ke utara di Pancoran. Dan ke selatan sampai persimpangan Jl. Majapahit dan Jl. Juanda/Veteran. Pada awal abad ke-20, aliran kanaal diperpendek dengan ditimbunnya Ciliwung di antara Jembatan Toko Tiga dan ujung tirnur Pancoran tempat Pasar Glodok sekarang. Bertambah pendek lagi saat Molenvliet ditimbun dari ujung selatan Jl. Pintu Besar Selatan sampai Jl. Labu.

Di sepanjang jalan berdiri banyak bangunan seperti rumah besar dengan kebun luas (pindahan dari Jacatraweg yang kondisinya tidak sehat lagi), rumah Cina besar, hotel, kantor perusahaan, toko koperasi, juga menjadi bagian dari persimpangan antara ujung selatan Jl. Pintu Besar selatan dan Pancoran. Wilayah yang berada di luar tembok kota lama ini, dilalui jalur trem kuda perdana di Batavia (April 1869).