Moko Nona, Seni Tari

Moko Nona adalah tari kreasi tradisional yang diciptakan oleh Melki Jemri Edison Neolaka, S.Sn., berkolaborasi dengan Domingos Flaviano Belo Correia Freitas, S.Sn. sebagai penata musik, serta Randi Adnan Adoe dan Romualdus Eugenius Ligoresi selaku penata rias dan busana. Dalam Parade Tari Nusantara yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah tahun 2018, tarian ini mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dan kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional 2019 di Istora Senayan juga menampilkan tarian ini sebagai wakil dari NTT.

Tarian ini mengangkat prosesi adat “belis” dalam masyarakat Alor, NTT. Belis adalah mas kawin atau mahar dari pihak laki-laki yang diberikan kepada pihak perempuan atau “nona”. Masyarakat Alor menggunakan moko sebagai prasyarat adat belis yang telah menjadi identitas mereka dan sudah berlangsung sejak lama. Moko adalah sejenis genderang yang terbuat dari perunggu, berukuran kecil dan berbadan ramping. Benda ini sudah ada di kalangan masyarakat Alor sejak berabad-abad silam, diturunkan secara turun temurun dalam sebuah keluarga, dan tidak dibuat ulang (tidak ada pembuatan baru). Hakekat dari belis sebenarnya adalah pertukaran untuk saling menghormati antara dua keluarga. Ketika terjadi sebuah pernikahan, perempuan yang dinikahi akan masuk ke keluarga laki-laki, dan keluarga perempuan akan "kehilangan" anggota keluarganya. Untuk menghormati pihak perempuan atau nona yang "kehilangan" anggota keluarganya, maka keluarga lelaki memberikan sebuah benda berharga berupa moko. Jadi makna tradisi “belis” sebenarnya adalah sebagai bentuk penghormatan, kesetaraan, dan kerukunan dalam bermasyarakat. Namun dalam perkembangannya kemudian justru menjadi beban yang memberatkan, karena adanya pengaruh nilai ekonomis dari luar lingkungan masyarakat Alor. Hal ini mengakibatkan harga moko menjadi berbeda-beda antara satu suku dengan suku lainnya di lingkungan masyarakat Alor. Dampak negatifnya adalah harga moko menjadi sangat mahal karena dinilai sebagai barang pusaka yang langka.

Bagi masyarakat Alor, pernikahan secara adat tidak akan terwujud tanpa kehadiran “moko”. Tanpa pernikahan adat, pernikahan secara agama tidak bisa dilakukan. Tanpa pernikahan agama yang sesuai dengan peraturan, maka tidak ada pernikahan secara hukum. Ketika pernikahan secara sah sulit terlaksana, maka dampaknya adalah kenekatan pasangan yang tetap ingin bersatu, tetapi tidak memiliki pilihan lain  kecuali hidup berkeluarga tanpa ikatan (kumpul kebo). Jika hal ini terjadi terus menerus maka akan berdampak negatif pada masa depan anak-anak masyarakat Alor. Sejak tahun 2007 dilakukan revitalisasi budaya terkait adat “belis”, yaitu dengan menyederhanakan prosesi adat pernikahan dan biaya “belis” sehingga bisa kembali pada nilai-nilai budaya yang mendasarinya.

Karya tari Moko Nona merupakan salah satu upaya wujud revitalisasi budaya masyarakat Alor, yang menjunjung tinggi “moko” sebagai mas kawin/belis, sebagai sesuatu yang bersifat mutlak dan memiliki nilai budaya tinggi dalam sebuah upacara pernikahan. Moko dihargai sebagai benda sakral warisan leluhur, bukan untuk kepentingan bisnis karena pengaruh ekonomi yang pada akhirnya akan merusak esensi nilai budaya moko-nya itu sendiri. Dalam tarian tersebut digambarkan adanya kepercayaan bahwa moko itu sebenarnya memiliki jiwa dan hidup. Moko biasanya disimpan di dalam ruangan yang tertutup. Ketika moko berbunyi di malam hari, mereka mempercayai bahwa “moko” dalam kondisi lapar. Bunyi itu merupakan pertanda bahwa moko telah berubah menjadi hewan, yang bergerak ke kebun untuk menyantap jagung hingga kenyang lalu kembali ke rumah.