Mohammad Natsir

Ulama intelek dan politikus bergelar Datuk Sinaro Pandjang. Lahir Alahan Panjang, 17 Juli 1908 dan meninggal di Jakarta, 6 Februari 1993. Berpendidikan AMS A-2 dan Sekolah Guru di Bandung. Natsir pernah menjabat perdana menteri (1950-1951) dan duduk sebagai menteri penerangan dalam Kabinet Sjahrir (I, II, dan III). Dalam Kabinet Hatta I mewakili Masyumi, melalui pemilu 1955/1956, ia terpilih menjadi anggota DPR. Setelah menamatkan pendidikan di AMS (1930), bergiat di bidang pendidikan/perguruan sambil membantu berbagai majalah serta surat kabar. Ia membubuhkan nama samaran "A. Muchlis" pada banyak tulisan yang ia kirimkan ke Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat, dua mingguan Islam terkemuka pada masa sebelum perang di Medan. Saat masih muda, Natsir terjun dalam gerakan massa, antara lain bergabung dalam Jong Islamieten Bond dan Persatuan Islam.

Ia giat dalam Partai Islam Indonesia yang didirikan Dr. Sukiman Wijosandjojo dan Wiwoho Purhadidjojo. Ia juga duduk sebagai anggota pimpinan MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia), yang dalam masa pendudukan Jepang menjadi Majelis Syuro Muslimin Indohesia (Masyumi). Sejak 1949, selalu terpllih sebagai ketua umum satu-satunya partai politik Islam kala itu melalui muktamarnya. Baru pada 1959 ia digantikan Prawoto Mangkusasmito. Setelah proklamasi kemerdekaan menjadi anggota, kemudian wakil ketua Badan Pekerja KNIP (1956-1946); menteri Penerangan RI (1946-1948); editor harian Suara Republik dan Suara Rakyat; penasihat Delegasi Indonesia dalam perundingan antara Indonesia-Belanda; Perdana Menteri RIS (1950-1951); Penasihat SBII; Ketua Umum Partai Masyurni (1952-1958); anggota DPR merangkap ketua Masyumi. Karena berbeda pandangan politik dengan Soekarno, ia melibatkan diri dalam PRRI (Pemerintahan Revolusiner Republik Indonesia). Karenanya, bersama sejumlah tokoh Masyumi dan PSI ditangkap dan ditahan dan baru dibebaskan setelah pemerintahan Sukarno jatuh tahun 1966. Bersama beberapa rekan, ia mencoba membangun kembali Masyurni namun tidak dibenarkan oleh penguasa baru.

Ia pun mengalihkan kegiatannya ke bidang dakwah, dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, bersama M.Yunan Nasution. Kemudian menjabat ketua DDII (Dewan Da'wah Islam Indonesia); Wakil Presiden Kongres Islam Sedunia (World Moslem Congress) di Karachi dan anggota Rabathah Al-Alam Al-Islami (World Moslem League) di Mekkah. Ia lalu terpilih sebagai wakil presiden Muktamar Alam Islamy yang bermarkas di Karachi sekaligus anggota kehormatan Majlis Ta'sisi Rabithah Alam Islarni yang berpusat di Mekah. Menerima penghargaan Internasional Faisal (1980), sebagai penghormatan atas khidmatnya kepada Islam dan umatnya.
Beberapa buku-buku karangannya: Mohammad Profeet (1929); Kom tot hed Gebed (1931); Gouden Regels uit den Qoeran (1932); De Islamietische Vrouwen haar Rechten (1933); Islam Sumber Bahagia; Kebangsaan Muslimin (1931); Fiqh Al Da'wah, Capita Selecta, Kebudayaan Islam.